SS TODAY

Seorang Santri Meninggal Akibat Gempa Lombok

Laporan Denza Perdana | Minggu, 05 Agustus 2018 | 22:07 WIB
Ilustrasi. Relawan ACT sedang menolong korban gempa Lombok yang terjadi Minggu (5/8/2018) petang. Foto: Antara
suarasurabaya.net - Muhammad Khudori (14 tahun), salah seorang santri di Pondok Pesantren Riyadussibat, Sidemen, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat meninggal dunia tertimpa reruntuhan bangunan akibat gempa 7,0 Skala Richter, Minggu, pukul 18.46 Wita.

"Anak saya terluka parah di bagian kepala," kata Khairul, ayah korban meninggal dunia ditemui ketika menangisi kematian anaknya di jalan raya depan Rumah Sakit Angkatan Darat (RSAD) Mataram, sebagaimana dilansir Antara, Minggu malam.

Khairul mengatakan anaknya yang baru beberapa waktu duduk di kelas 1 MTs tertimpa reruntuhan bangunan saat sedang mengaji.

Khairul sendiri mengangkut anaknya menggunakan mobil warga ke RSAD Mataram dari pondok pesantren yang jaraknya sekitar 50 meter dari rumahnya.

Kondisi ayah dua anak itu memprihatinkan. Ia muntah-muntah sambil menangis dalam kondisi kedinginan karena hanya menggunakan sarung dan baju dalam.

Saat ini, mayat berada di atas mobil ambulans yang terparkir di jalan raya. Tenaga medis rumah sakit sibuk mengurus pasien yang kondisinya sangat serius.

Para pasien RSAD Mataram diungsikan ke jalan raya dan lapangan kantor Gubernur NTB yang tidak jauh dari rumah sakit. Jurnalis Antara yang melaporkan dari lokasi pengungsian membawa isteri dan dua anaknya ke lapangan kantor gubernuran karena ada informasi air laut naik.

Gempa bumi berkekuatan 7.0 SR mengguncang Pulau Lombok dan Sumbawa, Minggu pukul 18.46 Wita dengan pusat gempa terletak pada 8,3 Lintang Selatan, 116,48 Bujur Timur Kabupaten Lombok Utara dengan kedalaman 15 kilometer.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan dini potensi tsunami, namun beberapa waktu kemudian, berdasarkan perkembangan terbaru, menyatakan peringatan tsunami itu berakhir.(den)




LAINNYA