SS TODAY

Pemerintah Dinilai Masih Gagap Hadapi Bencana

Laporan Muchlis Fadjarudin | Selasa, 21 Agustus 2018 | 20:33 WIB
Yohanes Saragih, pengamat sosial. Foto: Faiz suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Yohanes Saragih pengamat sosial menegaskan melihat perkembangan gempa di Lombok ini, mengingatkannya atas tsunami yang pernah terjadi di Mumbai, India. Sejauh ini penanganan dan persoalannya sudah selesai. Kemudian di Thailand juga sudah selesai.

Sedangkan di Indonesia, kata dia, masih terus ribut, meskipun sudah ada perkembangan.

"Di kita masih ribut rapat ini, rapat itu, tetapi kemajuan sudah luar biasa. Hari ini data ada, sudah tersebar," ujar Yohanes dalam forum legislasi di gedung DPR RI, Senayan, Jakarta dengan Tema "Regulasi Pengawasan dan Penanganan Bencana lombok, Duka Indonesia", Selasa (21/8/2018).

Dia menilai lambatnya penanganan di Lombok karena persoalan utamanya adalah koordinasi, sehingga terlihat gagap ketika pasca terjadinya bencana. Dari sinilah terbukti kalau pengetahuan pasca terjadinya bencana juga masih kurang.

"Saya melihat persoalan paling besar adalah koordinasi, tetapi akhirnya saya berkesimpulan, melihat semua perkembangan penanganan kita 'masih gagap'. Saya lihat ini sebagai persoalan ilmu pengetahuan," tegasnya.

Menurut Yohanes, Ilmu pengetahuan yang dimaksud adalah, meskipun ada Badan, Pusat Vulkanologi, tetapi ketika ada kejadian ini, semuanya berbicara panjang lebar menceritakan sesar, patahan, pascabencana, bukan sebelum. Padahal, namanya peristiwa ini, harusnya pra bencana itu yang perlu diantisipasi.

Ada satu hal, kata dia, kalau ada badan seperti BNPB, itu artinya mau menihilkan risiko, ini Sesuatu yang mustahil, yang harusnya terjadi adalah minimaestris.

"Saya mau berangkat dari konteks minimaestries, apa yang sudah kita punya, saya coba uraikan, melihat dari kejadian waktu ada tsunami, saya ke Aceh, Kenapa mereka Tim Singapura datang mendadak dan langsung pulang, Mereka sudah tahu apa yang mereka kerjakan. Datang tim dari Israel dan langsung pulang, artinya apa, ini ada persoalan ilmu pengetahuan yang betul-betul mereka kuasai, sehingga bisa menyusun SOP secara teknis," jelas Yohanes.(faz/iss/ipg)
Editor: Iping Supingah



LAINNYA