SS TODAY

Aliran Listrik Bahayakan Proses Evakuasi, BTS Masih Bergantung pada MBP

Laporan Dwi Yuli Handayani | Minggu, 30 September 2018 | 14:25 WIB
Korban gempa dan tsunami di Kota Palu. Foto: @Sutopo_PN
suarasurabaya.net - Pascagempa 7,4 SR Jumat (28/9/2018) lalu, terdapat 500 lebih Base Transceiver Station (BTS) di Sulawesi Tengah yang tidak dapat berfungsi.

Ferdinandus Setu Plt Kabiro Humas Kementerian Kominfo menyampaikan, Kemenkominfo telah bekerja keras bersama para operator seluler seperti Telkomsel, XL, Indosat berusaha memulihkan jaringan komunikasi di wilayah Sulawesi Tengah.

Sabtu pagi (29/9/2018), komunikasi lumpuh total. Atas instruksi Rudiantara Menkominfo, para operator seluler akhirnya bergerak cepat menyediakan Mobile Backup Power (MBP).

"Pascakejadian, Menkominfo langsung mengunjungi Palu dan Donggala, lalu menginstruksikan operator seluler untuk menyediakan MBP sambil menunggu listrik menyala," ungkapnya pada Radio Suara Surabaya, Minggu (30/9/2018).

MBP merupakan sejenis power bank yang disambungkan ke BTS untuk mensuplai listrik ke BTS. 1 MBP ini sendiri dapat bertahan hingga 3x24 jam.

"Tapi akan terus saya pastikan pada operator seluler untuk mengganti MBP secara berkala hingga listrik kembali menyala," imbuhnya.

Kondisi sebelumnya, Ferdinandus Setu menyampaikan kondisi sangat tercerai berai akibat sulitnya komunikasi untuk berkoordinasi.

"Sehingga Menkopolhukam segera meminta Menkominfo untuk sepenuhnya mempercepat proses pemulihan komunikasi sehingga koordinasi bisa dilakukan," ungkapnya.

Menkominfo akhirnya menyiapkan alat komunikasi alternatif sebanyak 31 unit telepon satelit yang dapat digunakan relawan serta petugas posko-posko penanganan bencana.

"2 MBP diletakkan di 2 BTS milik Telkomsel di depan Kantor Gubernur dan di sekitar bandara untuk menjangkau komunikasi," jelasnya.

Ia juga menyampaikan, jumlah BTS hanya kurang dari 10 yang rusak parah akibat gempa. Sementara yang lainnya murni karena pasokan listrik.

Terkait koordinasi dengan PLN, ia menyampaikan PLN sendiri masih belum bisa kembali mengalirkan aliran listrik karena malah akan berdampak pada proses evakuasi korban.

"Kami masih upayakan evakuasi korban yang tertimbun sebelum aliran listrik dinyalakan karena akan berbahaya bagi proses evakuasi korban,"

Ferdinandus Setu juga meminta warga tetap tenang. "Jangan sebarkan informasi hoax karena makin membuat warga khawatir dalam melakukan aktivitasnya," pungkasnya. (nin/iss)
Editor: Ika Suryani Syarief



LAINNYA