SS TODAY

Penyintas Gempa Palu Asal Malang Nekat Pulang

Laporan Denza Perdana | Rabu, 03 Oktober 2018 | 18:30 WIB
Keluarga Yono asal Malang yang menjadi korban gempa dan tsunami di Palu. Foto: Denza suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Ana (38 tahun) korban gempa Palu, Sulawesi Tengah, mendatangi tim medis Pos Koordinasi Muhammadiyah untuk Gempa Bumi Sulteng di Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu, Rabu (3/10/2018).

Dia menanyakan kepada dokter yang bertugas, apakah kondisi anaknya memungkinkan untuk naik pesawat pulang ke Kota Malang? Putri bungsunya menderita hidrosefalus.

"Apa anak saya bisa naik pesawat, Dokter? Karena tadi, kan, sempat begini-begini (gerakan seperti kejang)," tanyanya kepada salah satu dokter yang bertugas di Poskor.

Dokter Willy menyarankan Ana memeriksakan anaknya ke dokter di rumah sakit terdekat lebih dulu. Atau bila tidak memungkinkan, ke dokter di Bandara Mutiara Sis Al-Jufri.

Ana dan Yono (34 tahun), suaminya, juga tiga orang anaknya berencana pulang ke Malang karena mendapatkan informasi ada penerbangan gratis bagi korban bencana Palu tujuan Malang, Jawa Timur.

"Kami juga belum pasti. Informasinya ada penerbangan gratis. Yang penting ke Bandara dulu," ujar Yono ketika ditemui di halaman gedung salah satu fakultas Universitas Muhammadiyah.

Yono dan Ana nekat demi kesembuhan putrinya. Dalam kondisi pascabencana seperti ini, dia tidak bisa mengakses pemeriksaan kesehatan yang memadai untuk putri bungsunya.

Yono mengaku sempat membawa putrinya ke salah satu rumah sakit di Kota Palu. Setelah menunggu lima jam lebih, dia tidak mendapatkan penanganan sesuai harapan.

Dokter di rumah sakit yang sibuk menangani korban bencana hanya memberikan secarik kertas saran asupan makanan dan obat untuk putrinya. Padahal dia berharap, setidaknya mendapat susu formula.

Karena itu Yono memutuskan untuk membawa pulang putrinya, juga istri dan anak-anaknya yang lain pulang ke Malang. "Istri saya ini aslinya Sememi, Surabaya. Tapi kami akan pulang ke keluarga di Malang," katanya.

Yono dan keluarganya sudah tinggal di Kota Palu selama dua tahun. Tinggal di salah satu rumah kos di Jalan Hangtuah, Kota Palu, tidak jauh dari Unismuh. Sehari-hari Yono berjualan pentol (cilok).

Akibat gempa bumi 7,7 skala richter Jumat (28/10/2018) lalu, rumah kosnya rusak parah dan tidak bisa dihuni lagi. Selain itu, di lokasi permukiman itu, warga sudah kesulitan mengakses air bersih.

Rencananya, besok, Kamis (4/10/2018) Yono dan keluarga akan berangkat ke Bandara bersama sesama warga Malang lain yang juga tinggal di Poskor Unismuh Palu.

Supar (39 tahun) dan Sri Winarni (36 tahun) adalah pasangan suami istri asal Srikaton, Pakis, Malang. Bersama Muhammad Zainal (2 tahun) anaknya, mereka tinggal di sebuah kos di Jalan Hangtuah sejak tiga tahun silam.

Akibat gempa, tembok depan rumah kos itu ambruk. Mereka terpaksa mengungsi ke Unismuh tanpa membawa barang-barang lainnya. Tapi malang, pencuri menguras semuanya.

Sehari-hari Supar adalah pekerja konstruksi. Dia baru saja turut proyek pengerjaan rumah di kawasan Pengau, sampai bencana gempa melumpuhkan hampir semua aktivitas ekonomi di Kota Palu.

Supar bingung. Belum genap dia bekerja untuk mengambil upah yang dibayarkan setiap minggu. "Ini tinggal pakaian saja. Saya sama sekali sudah tidak punya uang. Mau minta upah juga bagaimana," ujarnya.

Dia mengatakan, sebenarnya berat hatinya meninggalkan Kota Palu. Dia dan istrinya sudah seperti keluarga dengan Mu'minah (72 tahun) pemilik rumah tempat mereka tinggal.

Mu'minah yang merupakan warga kelahiran Kota Palu hanya tinggal bersama Agustina (36 tahun), salah satu putrinya. Anak-anaknya yang lain tinggal di kabupaten lain di Palu.

"Ibu ini sudah seperti ibu saya sendiri. Tapi mau bagaimana lagi. Di sini saya tidak bisa bekerja, tidak dapat pemasukan. Nanti kalau memang Palu sudah pulih, Insya Allah kami kembali ke sini," ujarnya.

Mu'minah mengatakan, dia berharap keluarga Supar benae-benar kembali ke Kota Palu. Dengan suara bergetar dan air mata yang hampir jatuh Mu'minah meminta keluarga Supar, di lain waktu tidak perlu memikirkan biaya kos.

"Saya bilang ke ibu ini, sudahlah tidak usah dipikir itu. Kalau ada makanan kita makan bersama-sama," katanya.

Perlu diketahui, korban bencana gempa di Sulawesi Tengah bertahan di sejumlah lokasi pengungsian. Hingga Selasa (2/10/2018) sore, data Pusat Komando sebanyak 65.721 orang pengungsi korban bencana.

Berdasarkan data Korem 132/Tadulako Sulawesi Tengah, sampai Selasa (2/10/2018) sore kemarin ada sebanyak 138 lokasi pengungsian di Palu, Sigi, dan Donggala.(den/dwi/rst)
Editor: Restu Indah



LAINNYA