SS TODAY

Kisah Para Penyintas Likuifaksi: Malapetaka Itu Datang Begitu Cepat

Laporan Denza Perdana | Sabtu, 06 Oktober 2018 | 21:31 WIB
Aswar Lembah salah satu korban selamat bencana gempa bumi disertai likuifaksi yang tinggal di Desa Mpanau, Birumaru, Sigi. Foto: Denza suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Aswar Lembah salah satu korban selamat bencana gempa bumi disertai likuifaksi yang tinggal di Desa Mpanau, Birumaru, Sigi mengisahkan bagaimana malapetaka itu terjadi.

Jumat 28 September, dia sedang berada di rumahnya di Desa Mpanau, Birumaru. Sore itu Aswar yang bekerja di Polda Sigi memang sudah sampai di rumah.

Gempa bumi berkekuatan 7,4 Skala Richter membuat dirinya dan keluarganya panik. Ketika dia keluar rumahnya, dari tanah tidak jauh dari rumahnya keluar semburan air.

Saat itu matahari belum sepenuhnya tenggelam, tapi suasana mendadak gelap. Selain menyemburkan air, tanah di desa yang cukup padat penduduk itu menyemburkan tanah.

Tidak lama setelah itu tanah mulai bergerak ke arah barat. Sementara dari arah Kelurahan Petobo, datang lumpur yang membawa berbagai material bangunan dan kendaraan.

Fikri keponakan ipar Aswar mengatakan, adik kandung Aswar turut hilang terseret lumpur saat mobilnya melintasi jalan perbatasan Petobo dengan Mpanau.

"Mungkin mereka keluar dari mobil karena panik. Mobilnya sudah ditemukan tapi jenazahnya belum ditemukan," ujarbya ketika ditemui suarasurabaya.net, Sabtu (6/10/2018).

Lumpur memang datang dari Selatan dengan suara gemuruh yang cukup keras. Warga di Mpanao yang berbatasan sungai dengan Kelurahan Petobo panik.

"Bunyinya ribut. Mungkin karena ada seng dan material lain yang ikut kebawa. Panik semua tetangga," ujar Arham Alimuddin warga yang kos di Desa Mpanau ketika ditemui di lokasi lumpur.

Arham sedang mencari dokumen-dokumen miliknya dan para tetangganya Sabtu sore tadi. Beruntung dia masih bisa menemukan Kartu Keluarganya dan beberapa dokumen milik keluarganya.

"Saya masih cari dompet. Ada KTP dan SIM. Kebetulan saat kejadian saya memakai celana pendek. Dompet saya di celana panjang.

Lumpur itu, menurut Arham, datang dengan cepat dalam hitungan detik. Dia tidak sempat menyelamatkan barang apapun. Termasuk motornya yang kini entah ke mana.

Tapi dia bersyukur, keluarganya dan dirinya selamat dari malapetaka yang sangat mengerikan itu.(den/tin)
Editor: Ika Suryani Syarief



LAINNYA