SS TODAY

Menengok Kampung Jono Oge, Sigi, yang Raib Menjadi Ladang Jagung

Laporan Denza Perdana | Selasa, 09 Oktober 2018 | 14:04 WIB
Prayitno yang pernah tinggal di Kampung Jono, Desa Jono Oge, Sigi menunjuk lokasi kampung yang hilang. Foto: Denza suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Katastrofe, bencana likuifaksi yang datang tiba-tiba menghilangkan sebuah permukiman di Jono Oge Kabupaten Sigi, Sulawesi Utara, Jumat 28 Oktober 2018 lalu.

Dari Desa Mpanau, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi yang berbatasan dengan Kelurahan Petobo, Kecamatan Petobo, Kota Palu, Jono Oge berjarak lebih dari 4 kilometer.

Untuk menuju ke sana harus melalui Jalan Poros Palu-Palolo yang menghubungkan beberapa desa di Kecamatan Biromaru dengan Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi.

Jalan Poros Palu-Palolo ini, ketika memasuki Desa Lolu Kecamatan Biromaru, cukup terdampak gempa. Aspal terbelah, tiang dan gardu listrik hampir ambruk.

Kondisi yang lebih parah terlihat ketika memasuki perbatasan Desa Lolu dengan Desa Jono Oge. Sebuah SPBU milik Pertamina rusak parah. Aspal naik turun tak beraturan.

Rumah-rumah di sepanjang jalan ini hanya sebagian yang utuh. Lainnya sudah tidak berbentuk. Atapnya runtuh, temboknya ambruk.

Lalu sebuah jembatan yang terputus dan aspal yang hilang. Jembatan yang melintasi sungai itu terputus. Aspal yang menghubungkan Desa Jono Oge dengan dengan Desa Sidera hilang.

Demikian juga perkampungan yang dulu ada di kanan kiri Jalan Poros Palu-Palolo. Yang tersisa hanyalah ladang jagung dan beberapa pohon kelapa yang berdiri meski sedikit miring.

"Tidak tahu dari mana jagung-jagung ini. Mungkin dari atas sana. Ini tadinya perkampungan, Kampung Jono. Banyak rumah-rumah di pinggir jalan," ujar Prayitno, warga yang pernah tinggal di perkampungan itu.

Prayitno mengatakan, tidak sampai satu bulan sebelum peristiwa gempa yang terjadi pada Jumat (28/9/2018) lalu, dia sempat melewati Jalan Poros Palu-Palolo ini. Benar-benar berbeda.

Menurut warga setempat, perkampungan ini hanyut dibawa lumpur sejauh kurang lebih 1 kilometer hingga ke desa sebelah bernama Desa Langaleso.

Keluarga para penghuni kampung ini bingung, bagaimana mencari keluarga mereka. Sebagian di antara mereka yang tidak berhasil menemukan keluarganya meratap di pengungsian.

Likuifaksi, proses pencairan tanah telah menghilangkan kampung itu, menggantinya dengan ladang jagung lengkap dengan pohon kelapa yang berdiri tegak.

Lumpur yang mengalir seperti air membawa hanyut bahkan mengaduk-aduk semua rumah dan isinya hingga betul-betul tenggelam. Tanah itu turun sekian meter, bahkan lebih rendah dari tanah endapan sungai di bawah jembatan yang putus.

Warga yang pernah tahu bagaimana Kampung Jono sebelum bencana akan sulit untuk percaya. Sebuah katastrofe yang bila kita bayangkan akan membuat bulu kuduk berdiri.(den/tin/dwi)
Editor: Dwi Yuli Handayani



LAINNYA