SS TODAY

Masa Tanggap Darurat Bencana Gempa dan Tsunami Sulteng Diperpanjang

Laporan Muchlis Fadjarudin | Kamis, 11 Oktober 2018 | 19:38 WIB
Sutopo Purwo Nugroho Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Foto: Faiz suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Sutopo Purwo Nugroho Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan, masa tanggap darurat akibat bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah diperpanjang. Sebab, masih banyak masalah kebutuhan dasar korban yang harus diselesaikan.

"Dengan pertimbangan masih banyak masalah yang dilakukan di lapangan seperti kebutuhan dasar pengungsi perbaikan sarana dan prasarana," ujar Sutopo dalam jumpa pers di kantor BNPB, jalan Pramuka, Jakarta Timur, Kamis (11/10/2018).

Kebutuhan dasar yang harus dipenuhi tersebut diantaranya pembangunan hunian sementara, penanganan medis, perlindungan sosial, pembersihan puing bangunan dan lainnya. Sehingga, kata Sutopo, diperlukan kemudahan akses agar penanganan bisa lebih cepat.

Untuk itu, dia menjelaskan kalau masa Tanggap darurat diperpanjang 14 hari ke depan yaitu 13 Oktober sampai dengan 26 Oktober 2018.

Sementara, penghentian evakuasi korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah juga diundur menjadi Jumat (12/10/2018).

Awalnya, kata dia, penghentian akan dilakukan hari ini. Tetapi karena masih ada permintaan warga, maka mundur menjadi hari Jumat sore besok.

"Sebenarnya rapat 8 Oktober sudah menyepakati bahwa hari ini 11 Oktober 2018 adalah evakuasi terakhir secara resmi. Namun karena ada beberapa permintaan dari warga agar memperpanjang pencarian korban, maka diperpanjang satu hari, sehingga proses evakuasi korban akan dihentikan secara resmi mulai 12 Oktober 2018 sore," ujar Sutopo.

Karena evakuasi korban diakhiri Jumat sore, maka, kata dia, pagi harinya Tim evakuasi masih akan bekerja.

"Besok sore, tanggal 12 Oktober akan diakhiri secara resmi. Tapi paginya masih ada proses pencarian oleh Tim Basarnas, TNI, Polri dan relawan lainnya," tegasnya.

Namun jika masih ada warga yang mencari korban dan lainnya, Sutopo menghimbau untuk tidak dilakukan, karena kondisi jenazah sudah rusak dan bisa menimbulkan penyakit seperti kolera dan sebagainya.

Untuk selanjutnya, kata dia, Basarnas akan menyerahkan proses evakuasi ke Basarnas kota Palu.(faz/bid/rst)
Editor: Restu Indah



LAINNYA