SS TODAY

Benarkah Surabaya Sangat Membutuhkan Trem?

Laporan Denza Perdana | Selasa, 11 Desember 2018 | 13:55 WIB
Bagian dalam Suroboyo Bus. Foto: Denza/Dok. suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Pembahasan tentang angkutan massal cepat yang mana trem termasuk di dalamnya sudah dilakukan sejak 2014 lalu oleh tim pengkaji yang terdiri dari sejumlah akademisi dan Pemkot Surabaya.

Tapi pada akhirnya, karena sejumlah masalah yang muncul dalam proses mewujudkan trem di Surabaya, baik masalah dukungan pusat dengan Pemkot Surabaya maupun di antara Pemkot Surabaya dengan DPRD Surabaya, trem tidak segera terwujud.

Beberapa pengamat pun menilai, kondisi Surabaya tidak seperti di Jakarta. Karena itu kebutuhan transportasi massal penunjang mobilitas warganya juga berbeda.

Gigih Prihantono Pengamat Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Airlangga (Unair) Surabaya mengatakan, dia sebenarnya sudah pernah mengajukan alternatif transportasi massal selain trem.

Beberapa tahun silam, dia sempat mengusulkan Bus Rapid Transit (BRT) seperti Bus Trans Jakarta untuk kebutuhan Surabaya. Pada waktu yang sama dia juga sempat mengusulkan Mass Rapid Transit (MRT).

"Tapi untuk MRT kami waktu itu mengusulkan bukan untuk Surabaya saja, tapi yang menghubungkan Gerbangkertasusila (Gresik-Bangkalan-Mojokerto-Surabaya-Sidoarjo-Lamongan)," ujarnya, Selasa (11/12/2018).

Alasannya, sebenarnya aktivitas ekonomi di wilayah Surabaya dan sekitarnya tidak seperti di Jakarta, yang mana Jakarta menjadi pusat ekonomi dari daerah di sekitarnya seperti Depok atau Tangerang.

"Kalau di sini kan sudah menyebar, Sidoarjo dan Gresik industrinya juga sudah tumbuh. Jadi saya rasa, untuk trasnportasi di dalam kota cukup dengan Bus saja," katanya.

Menurut Gigih, pada sekitaran 2017 lalu sebenarnya sudah ada wacana mewujudkan BRT di Surabaya. Dia mengaku tidak tahu bagaimana konsep Suroboyo Bus saat ini, tapi menurutnya bus ini perlu shelter seperti Trans Jakarta.

Namun, setelah wacana itu digulirkan, dia tidak mendengar lagi bagaimana kabar kelanjutan rencana mewujudkan BRT di Surabaya.

Tentang upaya Pemkot Surabaya untuk mewujudkan Trem, Gigih menganggap wajar bila Tri Rismaharini Wali Kota Surabaya pada akhirnya menyerah dan mengakui tidak bisa mewujudkan trem pada masa kepemimpinannya.

Masa kepemimpinan Risma tinggal dua tahun lagi. Sementara, sampai saat ini belum ada titik terang perwujudan trem di Surabaya. Wajar, kata Gigih, karena perlu waktu yang tidak sebentar untuk mewujudkan trem di Surabaya.

Antara Pemkot Surabaya-Pemerintah Pusat-PT KAI saling tunggu. Selain itu, untuk mewujudkan trem, Surabaya juga memerlukan perusahaan daerah pengelola transportasi seperti di Jakarta.

"Nah, selain biayanya mahal, Surabaya belum punya perusahaan daerahnya. Untuk mendirikan perusahaan daerah ini juga tidak gampang dan tidak sebentar, makanya wajar Bu Risma mengeluarkan statemen seperti itu," katanya.

Gigih berpendapat, tidak ada masalah bila trem akan dilanjutkan di masa kepemimpinan wali kota selanjutnya. Namun, dengan melihat kepadatan lalu lintas di Surabaya dia lebih menyarankan pengembangan MRT untuk menghubungkan Gerbangkertasusila.

Sebelumnya, Yayat Supriatna Pakar Tata Ruang dari Universitas Trisakti mengatakan, kota sebesar Surabaya seharusnya memang memiliki backbone angkutan massal penunjang mobilitas ekonomi warganya.

Karena itu, Pemkot Surabaya harus tegas memilih moda transportasi apa yang bisa menjadi tulang punggung utama transportasi massal itu dengan mempertimbangkan Transit Oriented Development (TOD) dan tata ruang.

Pertimbangan TOD dan tata ruang ini penting, karena keuntungan angkutan massal itu bukan hanya didapat dari tarifnya saja, melainkan bagaimana keberlanjutannya untuk kegiatan ekonomi masyarakat.

Pemkot Surabaya tinggal memilih, apakah itu BRT, MRT, atau LRT kalau memang trem tidak bisa terwujud di Surabaya. Menurut Yayat, pilihan ini harus jelas sebelum menghitung berapa jalur yang dibutuhkan untuk menghubungkan semuanya.

"Pengembangan jaringan angkutan massal itu satu paket dengan pengembangan bisnisnya. Harus klop. Kalau di Surabaya lebih cepat naik motor ya naik motor saja," katanya.

Agar terwujud transportasi massal yang sesuai untuk Surabaya, Yayat menegaskan, memang diperlukan kajian yang mendalam sesuai kebutuhan transportasi di Surabaya.

Pemerintah pusat, pemerintah provinsi, maupun pemerintah daerah harus duduk bersama untuk memutuskan tidak lantas terus ditunda, sementara lalu lintas semakin macet dan biaya yang dibutuhkan semakin mahal.

Tri Rismaharini Wali Kota Surabaya kemarin akhirnya menyatakan, yang paling mungkin untuk mewujudkan transportasi massal di Surabaya hanya dengan bus.

Maka dari itu, ke depan dia akan memperbanyak bus di dalam kota. Tapi apakah cukup hanya dengan memperbanyak bus?(den/iss)
Editor: Ika Suryani Syarief