SS TODAY

Gereja SMTB Surabaya: Dulu Kami Dibom Kebencian, Sekarang Kami Mengebom Kasih Sayang

Laporan Anggi Widya Permani | Selasa, 25 Desember 2018 | 11:02 WIB
Aloysius Widiyawan Pastor Rekan Gereja SMTB seusai misa Hari Raya Natal di Gereja Santa Maria Tak Bercela berlangsung khidmat, Selasa (25/12/2018). Foto: Anggi suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Pelaksanaan misa Hari Raya Natal 2018 di Gereja Santa Maria Tak Bercela Surabaya, Selasa (25/12/2018) pagi, berlangsung khidmat. Sejak pukul 05.30 WIB, para jemaat ramai berdatangan mengikuti jadwal misa yang sudah ditentukan.

Penjagaan di gereja yang pernah menjadi korban teror bom ini sudah diperketat oleh petugas gabungan, bahkan sejak kemarin malam. Petugas memberlakukan akses satu pintu menuju bangunan utama gereja. Tidak satu pun kendaraan yang diperbolehkan masuk ke lingkungan gereja, diarahkan parkir di luar atau di tempat yang sudah disediakan.

Aloysius Widiyawan Pastor Rekan Gereja SMTB mengakui, sejauh ini pelaksaan misa berjalan dengan baik. Menyongsong tema natal "Merayakan Kelahiran Kasih yang Berkorban dan Menyatukan," pihaknya ingin mengajak para jemaat untuk bangkit menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

"Kami sadar apa yang kami rayakan ini. Kalau dulu, kami dibom (dengan) kebencian, saatnya sekarang kami mengebom dengan kasih sayang," kata dia saat ditemui suarasurabaya.net.

Dia menambahkan, berkat proses pemulihan selama 7 bulan terakhir, perlahan-lahan kondisi para jemaat di gerejanya sudah semakin pulih. Ini terbukti dari jumlah jemaat yang datang pada misa Natal 2018 yang sudah kembali normal.

Bahkan, lanjut dia, jumlah itu meningkat hingga mencapai 5.000 orang dari kapasitas gereja, sekitar 1.500 orang. Selain itu, beberapa jemaat yang menjadi korban bom juga hadir, tak terkecuali keluarga almarhum Aloysius Bayu relawan gereja.

"Syukur pada Tuhan semuanya berjalan dengan baik. Kami berjuang sembuh dan banyak elemen masyarakat yang membantu juga kelompok lintas agama. Proses pemulihan selama 7 bulan terakhir ini berjalan dengan baik. Saya tidak berani bilang semua trauma sudah hilang. Tapi saya rasa kondisi sekarang semakin pulih," katanya.

Widiyawan mengakui, proses pemulihan selama 7 bulan itu bukan hal yang mudah. Masih dibutuhkan proses yang lebih panjang untuk melakukan sejumlah pendampingan terhadap korban. Mulai dari pendampingan psikologi dan pendampingan doa untuk para jemaatnya.

Dia bersyukur, proses pemulihan yang dilakukan itu membuahkan hasil dari banyaknya jemaat yang berdatangan untuk beribadah. Termasuk kedatangan Forkopimda yang menyapa ribuan jemaat serta pengamanan yang diberikan, semakin menguatkan mereka.

Dia berharap, rasa toleransi ini tetap terjaga sampai seterusnya. Tidak ada lagi pertikaian dan kebencian sehingga menimbulkan banyak korban. Sebab dia meyakini, Indonesia dibangun dari kebhinekaan yang harus disyukuri dan tetap dijaga.

"Kami sangat berterima kasih untuk segala pengamanan yang diberikan. Solidaritas yang luar biasa, sejak pasca bom sampai saat ini mereka dari polisi, TNI, Banser, pramuka, dan ormas lainnya sangat membantu kami. Kedatangan pak Gubernur dan lainnya juga semakin menguatkan kami. Semoga toleransi ini tetap terjaga, dan saya percaya Indonesia dibangun dari kebhinekaan," jelasnya. (ang/tin)
Editor: Denza Perdana