SS TODAY

Berharap pada Lembaran Kalender di 2019

Laporan Agung Hari Baskoro | Selasa, 01 Januari 2019 | 14:37 WIB
Penjual kalender di pinggir Jalan Basuki Rahmad, Sidoarjo pada Selasa (1/1/2019). Foto: Baskoro suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Suyanto (58) sudah berjualan kaset dan VCD musik selama 37 tahun, sebelum akhirnya berhenti beberapa tahun silam. Kini ia memilih berjualan kacamata di pinggir Jalan Basuki Rahmat, Krian, Sidoarjo. Namun, setiap menjelang akhir tahun, ia juga berjualan kalender.

Ia sadar betul, berjualan kalender di tengah kemajuan teknologi seperti saat ini adalah hal sulit. Kepada suarasurabaya.net, ia mengatakan, saat ini semua orang sudah memiliki kalender di ponsel pintarnya masing-masing. Sejak mulai berjualan kalender di awal 2010, penjualannya terus menurun.

"Dulu pas awal jualan bisa laku 50 kalender sehari, tapi sekarang antara 10 sampai 20 kalender saja," kata Suyanto ketika ditemui di pinggir Jalan Basuki Rahmad, Sidoarjo pada Selasa (1/1/2019).

Bercerita soal turunnya penjualan kalender setiap tahun, ia mengenang kembali alasan dirinya berhenti berjualan kaset dan VCD musik. Katanya, orang sudah beralih dari mendengarkan musik dari rilisan fisik ke digital.

"Ya bayangkan, sudah 37 tahun berjualan mulai model kaset sampai VCD akhirnya tambah sepi, karena orang sudah mendengarkan musik di HP," ujarnya.

Memahami situasi yang ada, Ia tak tahu kapan akan berhenti berjualan kalender. Ia hanya mengatakan sampai saat ini masih mendapatkan keuntungan meskipun sangat sedikit. Ia hanya berjualan mulai pertengahan akhir tahun hingga bulan januari berakhir. Kalendernya dihargai beragam mulai dari Rp10 ribu hingga Rp25 ribu tergantung ukuran dan bahan kertasnya. Berjualan kalender tak bisa dianggap mudah. Suyanto harus siap dengan risiko jika kalender masih tersisa hingga Januari selesai.

"Ya dibuang, mas. Soalnya sudah gak laku," kata Suyanto yang membeli kalender dari salah satu percetakan di Surabaya itu.

Belum lagi risiko hujan yang harus dihadapi karena dirinya berjualan di pinggir jalan. Ia bercerita, terkadang ia harus bergegas menyelamatkan kalender berbahan kertas itu tak lama setelah baru saja dipajang. Pembeli juga tidak akan datang, kata Suyanto, karena takut kalender tersebut basah oleh air. Jika sudah begitu, maka penjualan bisa turun drastis di hari itu.

Sampai pada hari Selasa (1/1/2019), kalender berbagai ukuran masih nampak terpajang di stan miliknya. Artinya, ada beberapa puluh hari lagi sebelum kalender-kalender itu tidak lagi bisa dijual. Suyanto masih menaruh harapan, semoga kalendernya segera laku dan berpindah dari stan pinggir jalan ke tembok-tembok rumah pembelinya. (bas/iss)