SS TODAY

Pemerintah Tidak Pernah Punya Rencana Matang Soal BBM

Laporan Muchlis Fadjarudin | Selasa, 30 April 2013 | 11:11 WIB
suarasurabaya.net - Pemerintah tidak pernah punya rencana dan antisipasi matang soal bahan bakar minyak (BBM). Rencana kenaikan BBM justru akan menyengsarakan rakyat Hal ini ditegaskan Fadli Zon, Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra.

Pemerintah beralasan selama ini subsidi tidak tepat sasaran dan menjadi beban APBN. Fadli mempertanyakan, mengapa baru sekarang lagi bicara beban APBN? "Ini menunjukkan pemerintah tidak punya rencana dan antisipasi yang matang. Tiba saat, tiba akal," ujar Fadli pada suarasurabaya.net, Selasa (30/4/2013).

Menurut Fadli, kenaikan BBM akan mempersulit kehidupan rakyat yang sudah susah. Inflasi akan naik. Harga-harga melambung tinggi dan rakyat akan makin menderita karena kebijakan ini.

Sementara, kata Fadli, pemerintah belum maksimal berusaha meningkatkan produksi minyak dan gas. Banyak blok migas yang tidak dieksplorasi dan dieksploitasi. Ada juga kecenderungan tetap mempertahankan impor agar ada komisi dan rente.

Fadli juga melihat masih marak pencurian BBM. Ini juga satu diantara penyebab jebolnya subsidi BBM. Pemerintah membatasi pemakaian solar, premium bagi kendaraan dinas, perkebunan, dan pertambangan. Tapi, ternyata tidak efektif.

Selain tidak ada sanksi tegas bagi pelanggarnya, di lapangan, BBM subsidi yang harusnya disalurkan dari depot-depot ke SPBU, bisa langsung ke pertambangan, atau perkebunan. Tidak ke SPBU.

Fadli mengingatkan, subsidi jangan sampai diselewengkan. Rencana pemerintah membuat dua harga BBM juga perlu dilihat kembali. Ini gagasan dadakan yang rawan penyimpangan. Harga BBM di SPBU harusnya satu harga dengan harga keekonomian. Dengan catatan, harga keekonomian perlu dibahas secara transparan. Kalau efisien dan minus korupsi, harusnya harga BBM tidak perlu naik.

Fadli mengatakan, subsidi memang harus tepat sasaran, harus dinikmati rakyat banyak. Pemerintah harus pikir seribu kali menaikkan BBM sampai segala usaha telah maksimal. Ini harus menjadi opsi paling akhir ketika jalan sudah buntu.(faz/ipg)
Editor: Iping Supingah



LAINNYA