SS TODAY

Topeng Cemandi Bertahan Sejak Zaman Perang Hingga Generasi ke-5

Laporan Dwi Yuli Handayani | Kamis, 09 Mei 2013 | 16:59 WIB
suarasurabaya.net - Kesenian topeng bukan hanya khas dari Malang, tapi di desa Cemandi Sidoarjo ada kesenian Topeng yang diberi nama sesuai dengan desa asalnya yakni Cemandi. Bahkan kesenian Topeng Cemandi yang lahir saat zaman perang ini terus bertahan sampai sekarang hingga generasi ke-5.

Susilo (60) satu diantara pelestari Topeng Cemandi dari Generasi ke-5 saat berbincang dengan suarasurabaya.net, Kamis (9/5/2013) mengatakan, kesenian topeng Cemandi ini berawal dari seorang yang bernama Dul Katimin pemilik pondok di kawasan Sidosermo Panjang Jiwo Surabaya yang merupakan generasi pertama pencetus kesenian Topeng Cemandi.

Dul Katimin meminta remaja pondoknya mencari kayu nangka sepanjang 50 cm sebanyak enam batang untuk dijadikan enam buah kendang." Nah dari kayu itu ada sisa 1 pecak yang akhirnya dipecah jadi dua untuk dijadikan topeng laki-laki dan perempuan," kata dia.

Karena pada zaman itu sebelum pemberontakan Belanda sekitar tahun 1922, kulit yang digunakan untuk kendang kulit seadanya yang ditemukan di hutan.

"Zaman itu masih sebelum pemberontakan Belanda jadi kalau mau cari kulit ya sembarang entah itu kulit babi hutan atau rusa kemudian kulit itu dikeringkan seperti biasanya," ujar Susilo yang sudah bergabung untuk meneruskan kesenian Topeng Cemandi sejak tahun 1980 an.

Susilo mejelaskan, topeng Cemandi ini terdiri dari beberapa unsur yakni Banjari, reog, musik patrol, gong, bonang dan jaranan. Formasi dalam pementasan Topeng Cemandi yakni dua topeng perempuan dan laki-laki, pemukul kendang ada enam orang serta pemain angklung ada dua orang.

Kalau zaman dulu untuk kostum memakai bahan seadanya seperti karung goni warna putih sedangkan sekarang sudah memakai baju dengan warna hitam seperti baju sakera lengkap dengan aksesoris seperti selendang dan ikat kepala.

Pertunjukan topeng Cemandi juga diiringi tembang Jawa yang disebut parikan "Iki reog, reog Cemandi..Reoge wong Sidoarjo. Ayo konco podo nyawiji, bebarengan bangun negoro. Lakune wong urip, eleng gusti Niro. Tansah ibadah ing tengah ratri, suci diri jiwo miwa rogo. Sumingkiro barang olo sing nggudho riko. Eleng gusti niro sing sayup sing rukun".

Gerakan yang disajikan dalam rangkaian Topeng Cemandi yakni langkah per langkah, dimana posisi masong-masing pemain saat mengiring pengantin ada yang posisi di depan dan ada yang berbaris di belakang.

"Kalau iring-iringan pengantin kita lakukan saat awal berangkat sama pulangnya," kata dia.

Topeng Cemandi ini pernah tampil di perayaan Hari Jadi kota Surabaya, acara 1 suroan, Probolinggo mewakili kabupaten Sidoarjo dalam kesenian pesisir utara, acara IPBNU dan peringatan 1 Muharam.

Bahkan saat ini sudah mulai dilahirkan generasi ke-6 dengan konsep baru ditambah musik patrol dengan gaya sedikit anak muda namun tetap tidak menghilangkan keaslian dari Topeng Cemandi. (dwi/edy)

Teks Foto :
- Susilo menunjukkan topeng Cemandi yang ada sejak zaman perang
Foto : Dwi suarasurabaya.net
Editor: Eddy Prastyo



LAINNYA