SS TODAY

NU dan Katolik Ajarkan Toleransi di Misa Natal Gereja Redemptor Mundi

Laporan Tito Adam Primadani | Sabtu, 24 Desember 2016 | 21:45 WIB
Mochammad Shochib Wakil Rois Syuriah Kecamatan Sawahan (tengah) bersama anggota Banser NU dan petugas keamanan Gereja Katolik Redemptor Mundi Surabaya, Sabtu (24/12/2016). Foto : Tito auarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Toleransi antar umat tampak dalam perayaan Misa Malam Natal di Gereja Katolik Redemptor Mundi. Banser NU yang membantu pengamanan dan kelancaran ibadah, hadir sebagai bentuk simbol toleransi antar agama saat ini.

Mochammad Shochib Wakil Rois Syuriah Kecamatan Sawahan mengatakan, Banser NU wilayahnya memang memiliki kedekatan dengan gereja katolik selama lebih dari 21 tahun.

"Sudah 21 tahun kami dekat dengan gereja katolik. Di awali dengan Gus Dur yang sering datang mengisi di sini, kami dari unsur NU mendampingi. Setelah agenda tersebut selesai, kemudian digagas melibatkan Banser khususnya wilayah Sawahan untuk selalu menjaga," kata Shochib kepada suarasurabaya, Sabtu (24/12/2016).

Selanjutnya, kata Shochib, ada tugas dari pimpinan kepada dirinya untuk mengawal Banser di kawasan itu. Dirinya juga mengatakan, setiap hari besar pihak Banser NU selalu menjaga di gereja ini.

"Pengamanan memang mutlak oleh kepolisian, kami lebih membantu di luar gereja. Termasuk bila ada informasi yang bisa membahayakan, seperti di Mojokerto, salah satu anggota Banser menjadi korban," ujarnya.

Menurutnya, ini merupakan sifat toleransi yang diajarkan islam yang dia amalkan.

"Karena memang islam menjadi agama rahmatan lil alamin yang dibawakan oleh Nabi Muhammad kepada seluruh alam. Saya merasa ini kerhormatan bagi saya karena dipercaya dan melibatkan Banser," katanya.

Dia juga bercerita, awalnya dalam menjaga perayaan hari besar di gereja, sempat ditentang oleh keluarganya. Namun lambat laun, keluarganya mendukung.

Dalam penjagaan ini, sekitar 12 orang Banser turut membantu mengamankan dan melancarkan acara ini. Mereka merupakan Banser dari Kecamatan Sawahan dan Ansor Kota Surabaya, masing-masing 6 orang. Semuanya di sebar di beberapa titik yang mengelilingi gereja.

"Kami bagi kelompok, Shalat pun juga bergiliran agar tidak ada kekosongan dalam penjagaan," ujarnya.

Dia pun juga berpesan kepada seluruh masyarakat agar bersama-sama menjaga keamanan Indonesia sekarang.

"Kalau tidak, imbasnya kepada daerah dan keluarga yang akan terkena imbasnya bila ada insiden yang tidak mengenakkan. Saya juga mengajak semuanya untuk saling menyanyangi," ujarnya. (tit/fik)
Editor: Fatkhurohman Taufik