SS TODAY

Jemaat GKJW Minta Peribadatan Bahasa Jawa Jangan Dihilangkan

Laporan Jose Asmanu | Minggu, 25 Desember 2016 | 08:06 WIB
Jemaat saat melakukan kebaktian di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jalan Ngagel. Foto : Jose Asmanu suarasurabaya.net.
suarasurabaya.net - Jemaat Gereja Kristen Jawi Wetan ( GKJW ) menginginkan bahasa Jawa tidak dihapus atau dihilangkan saat melakukan kebaktian karena kebaktian menggunakan bahasa Jawa merupakan yang menjadi pembeda antara GKJW dengan gereja lain.

"Kebaktian penggunaan bahasa Jawa itu harus dipertahankan," kata Supiyati, salah satu jemaat GKJW saat mengikuti kabaktian Natal di GKJW Ngagel, Surabaya, kepada suarasurabaya.net, Sabtu (24/12/2016) malam.

Hal senada juga diungkapkan Soeparno, jemaat lain GKJW, mengenai hilangnya bahasa Jawa dalam kebakitan di GKJW, menjadikan lunturnya dalam ciri khas GKJW. Dia juga tidak ingin bermaksud menjadikan GKJW itu istimewa ataupun eksklusif.

"Bukannya ingin menonjolkan kedaerahan, tapi ingin mempertahankan budaya dan ciri khas yang ada di GKJW. Iya seperti halnya dengan gereja Protestan di Batak, kebaktiannya masih menggunakan bahasa daerahnya (batak)," kata Soeparno.

Menanggapi keberatan beberapa jemaat dengan dihapusnya bahasa Jawa, Pendeta Soewignyo, mengaku kebaktian dalam penggunaan bahasa jawa di GKJW tidak hilang. Namun, kebaktian itu tidak dihilangkan, hanya saja dipadukan dengan menggunakan bahasa nasional (Bahasa Indonesaia).

"Kebaktian bahasa Jawa diperuntukkan anak anak sekali dalam satu minggu. Sedangkan kebaktian untuk orang dewasa, seluruhnya berbahasa indonesia." kata Soewignyo.

Menurut dia, kebaktiaan masih dicampur dengan bahasa Indonesia, karena tidak ingin jemaat GKJW berasal dari daerah lain, yang tidak mengerti bahasa Jawa. Maka kebaktian menggunakan bahasa Indonesia.

"Jangan sampai suku lain atau daerah lain yang tidak mengerti bahasa jawa tidak mau ke gereja karena faktor bahasa. Jadi hal itulah yang dilakukannya (bahasa Indonesia). Solusinya GKJW yang selama dalam peribadan lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia," ujar dia.

Meski masih menggunakan bahasa Indonesia, Soewignyo mengaku, selama kebaktian ini tidak menimbulkan persoalan. "Justru GKJW sekarang ini menjadi tetap menjadi anggota persekutuan atau persatuan gereja Asia. Bahkan mewadahi seluruh umat dari berbagai suku daerah yang ada di Indonesia," ujarnya. (jos/ bry/dwi)
Editor: Dwi Yuli Handayani