SS TODAY

Ketum PBNU : Sikap Toleransi Jangan Hanya di Medsos

Laporan Jose Asmanu | Senin, 26 Desember 2016 | 12:59 WIB
Ilustrasi.
suarasurabaya.net - KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum PBNU meminta toleransi antar umat bergama, supaya tidak hanya melalui media sosia. Melainkan, harus melihat fakta yang ada di lapangan.

"Harus dilihat di lapangan, apakah umat Kristiani yang merayakan natal ada yang terganggu, dihalangi atau tidak dengan agama lain," kata Said Aqil Siroj, Senin (26/12/2016).

Dia mencontohkan, pada tahun 2000, Suyanto, seorang anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) meninggal dunia, karena menjadi korban ledakan bom di Gereja Ebenheizer, Mojokerto. Karena, saat itu sedang mengamankan perayaan natal di gereja, dan melihat sebuah kotak mencurigakan, ternyata berisikan bom.

Tidak ingin menggangu jemaat yang sedang melakukan kebaktian, Suyanto membawa bom itu keluar dari dalam Gereja Ebenheizer. "Kalau bom itu tidak dibawa keluar oleh Suyanto, tentu akan meledak di dalam gereja, korbannya makin banyak. Saya berikan apreasiasi apa yang dilakukan anggota Banser, tanpa melihat dari sisi lainnya," ujar dia.

Secara terpisah, Nasarudin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta, juga mengungkapkan. Meski penduduk Indonesia mayoritas banyak beragama islam, dalam merayakan hari raya, ternyata juga dirayakan dan dijadikan hari libur oleh semua agama.

Walaupan, ada negara lain yang kerap menuding Indonsia intoleran. Justru, menurutnya, negara yang menuding seperti itu tidak mempunyai sikap saling menghormati antar umat beragama. "Sekarang apakah negaranya itu juga menghormati atau toleran terhadap agama lain seperti di Indonesia," kata Nasarudin Umar.

Mengenai hal tersebut, Romo Juvencius Fusi Nusantoro, pastor kepala paroki Hati Kudus Yesus, juga menyinggung soal intoleransi yang sekarang ini lagi ramai dibicarakan di media sosial.

Seakan seperti sikap toleransi antar umat beragama di Indonesia itu tidak ada, justru banyak dengan dipenuhi kebencian dan saling curiga. "Fakta di lapangan menunjukkan, justru umat beragama saling bergandengan tangan dengan penuh kasih," kata Romo Juvencius Fusi Nusantoro.

Dia menilai, mengenai sikap intoleran yang banyak tersebar di media sosial itu justru terkesan menimbulkan suatu kebencian, dan mengadu domba. Supaya antar umat beragama itu tidak rukun, satu sama lain.

"Saya harapkan dan minta pada umat Katolik, kalau ada permasalahan sumber yang tidak jelas atau tidak bisa dipertanggung jawabkan, apalagi ada di media sosial. Umat Katolik, harus konfirmasi terlebih dahulu pada sumber yang bisa dipertanggung jawabkan, jangan ke media sosial, karena nanti justru bisa menimbulkan polemik," ujarnya. (jos/ bry)
Editor: Fatkhurohman Taufik