SS TODAY

Eko Si Pahlawan Banjir Pacitan Dimakamkan di Blitar

Laporan Ika Suryani Syarief | Jumat, 01 Desember 2017 | 19:05 WIB
Warga memeriksa rumahnya yang porak-poranda diterjang banjir bandang di Pacitan, Jawa Timur, Rabu (29/11/2017). Foto: Antara
suarasurabaya.net - Seorang korban banjir di Kabupaten Pacitan yang merupakan warga Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar, akhirnya dibawa ke rumah duka setelah tubuhnya hilang beberapa hari dan dimakamkan di daerahnya itu.

Atik, yang merupakan adik korban mengemukakan kakaknya, Eko Suseno (41) memang membantu usaha mebel adiknya di Kabupaten Pacitan. Saat terjadi banjir pada Selasa (28/11/2017), kakaknya ikut membantu mengevakuasi warga yang terjebak banjir.

"Air semakin tinggi, sementara anak saya belum tertolong. Mas Eko memutuskan untuk menjemput saya dan anak-anak, tapi waktu itu ada yang hendak menyeberang dan Masa Eko membantunya, tapi ada arus deras dan jatuh," kata Atik di Blitar, seperti dilansir Antara, Jumat (1/12/2017).

Ia mengatakan, kakaknya membantu mengevakuasi warga dari kepungan banjir sejak pukul 02.00 WIB hingga pagi hari. Warga yang dibantu adalah warga Sinorboyo, Kabupaten Pacitan. Sejumlah warga sudah berhasil dievakuasi, tapi kakak dan dua orang temannya menjadi korban banjir.

Keluarga, kata dia, sangat panik mengetahui informasi kakaknya terseret arus. Keluarga meminta bantuan tim untuk mencari Eko. Proses pencarian kakaknya sempat dihentikan setelah ada informasi kakaknya sudah ditemukan, tapi ternyata baru ditemukan dua hari setelahnya.

Atik mengungkapkan, kakaknya menjadi korban dengan dua temannya, yaitu Tohir dan Amrin.

Tohir berhasil diselamatkan petugas BPBD, namun Amrin dan Eko belum ditemukan. Keduanya baru ditemukan pada Kamis (30/11/2017) dalam keadaan meninggal dunia, bergandengan tangan.

Jenazah Eko dibawa ke rumah duka di Kabupaten Blitar. Keluarga sangat terpukul dengan meninggalnya korban. Tangis haru menyambut jenazah saat tiba di rumah duka. Keluarga juga sangat sedih saat tubuh korban akan dibawa ke pemakaman.

Orangtua serta kerabat lainnya tidak kuasa menahan tangis saat melepas kepergian jenazah. Namun, mereka tidak dapat berbuat banyak dan hanya mendoakan almarhum yang dimakamkan di tempat pemakaman umum desa ia dilahirkan.

Jenazah diberangkatkan oleh keluarga dan tetangga. Mereka membawa jenazah dengan diangkut mobil menuju tempat pemakaman. Proses pemakaman juga berlangsung singkat dan setelah doa selesai, keluarga meninggalkan makam.

Banjir dan tanah longsor Pacitan mengakibatkan sejumlah daerah di kabupaten itu terendam banjir. Sebelas orang dinyatakan meninggal dunia.

Musibah itu dampak dari siklon tropis Cempaka. Sebagai dampak dari siklon tropis Cempaka terjadi cuaca ekstrem seperti hujan deras, angin kencang, dan gelombang tinggi di Jawa dan Bali.

Selain di Kabuapaten Pacitan, cuaca ekstrem telah menyebabkan banjir, longsor dan puting beliung di 21 kabupaten/kota di Pulau Jawa dan Bali.(ant/iss/tok)
Editor: J. Totok Sumarno