SS TODAY

Pengamat: Anas Mundur, Peta Dukungan Partai Bisa Berubah

Laporan Dwi Yuli Handayani | Jumat, 05 Januari 2018 | 12:30 WIB
Ilustrasi
suarasurabaya.net - Mundurnya Azwar Anas dalam bursa Pilgub Jatim menjadi tantangan berat bagi PKB dan Saifullah Yusuf menjelang pendaftaran Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim.

Kekosongan kursi cawagub ini bisa menjadi kesempatan bagi partai yang belum menentukan pilihan seperti PAN, Gerindra dan PKS untuk mengajukan nama.

"Yang belum jelas merapat ke mana kemarin kan PAN, PKS dan Gerindra. Dan kemarin chemistrinya PAN merapat ke Gus Ipul-Anas. Tapi dengan perubahan ini apakah partai-partai ini akan merapat ke figur baru terpilih atau malah kesempatan untuk menyodorkan nama calon dari partai mereka?" kata Kris Nugroho Pengamat Politik Universitas Airlangga saat dihubungi suarasurabaya.net.

Di sisi lain, lanjut dia, ketiga partai ini juga bisa melakukan bargaining untuk sama-sama berkoalisi mengusung calonnya.

"Kemarin pasangan Gus Ipul-Anas dinilai memiliki elektabilitas tinggi kokoh sehingga tidak ada calon yang berani maju. Dengan adanya perubahan ini elektabilitasnya dinilai sudah goyang," ujar dia.

Jadi, tidak hanya pintu kontestasi politik yang berubah tapi juga berubah pada peta politik partai pengusung. "Mungkin akan muncul peluang baru yang lebih strategis dari ketiga partai ini untuk koalisi baru," katanya.

Sementara dalam waktu yang singkat ini, kata dia, PKB dan PDIP harus segera mencari pengganti Anas. "Harus dilakukan dengan segera bahkan super cepat untuk melakukan pendekatan pada figur yang menyamai posisi Anas," katanya.

Perubahan ini, kata dia, bukan hal yang mudah karena elektabilitas Anas sudah mulai naik dalam berbagai survey. Pengganti Anas harus mampu melakukan pengenalan diri pada masyarakat Jawa Timur.

"Apalagi figur Anaz dalam sisi mesin politik kulturan seperti sudah memiliki jaringan pesantren, kiai di Banyuwangi, Jember, Madura sudah terbentuk," ujar dia.

Terkait nama Tri Rismaharini Walikota Surabaya yang santer diberitakan sebagai calon pengganti Anas, Kris mengatakan, mesin politik kultural Risma berbeda dengan Anas. Anas memiliki mesin politik kultural yang kuat dengan jaringan pesantren dan Kiai yang berbeda dengan Risma.

"Jika Risma yang nanti maju maka ada lubang lebar yang harus dijawab PDIP terkait bagaimana bisa membangun mesin politik yang sama dengan Anas," kata Kris.

Kris menegaskan, jika Risma yang terpilih bukan masalah siap atau tidak siap. Tapi bagaimana Risma menerima ini sebagai perintah partai atau tidak ada kata lain tidak tunduk pada perintah partai.

"Nama Risma memang sudah dikenal di Surabaya tapi untuk Pilkada ini persoalannya lain," ujar Kris Nugroho. (dwi/rst)
Editor: Restu Indah