SS TODAY

Psikolog: Hati-Hati Melibatkan Anak dalam Aksi Apapun

Laporan Denza Perdana | Senin, 05 Februari 2018 | 16:51 WIB
Tri Rismaharini Wali Kota Surabaya saat mendampingi beberapa anak SD se-Surabaya dalam aksi Kampanye Peduli Anak di beberapa lokasi di Surabaya yang dia inisiasi, Senin (5/2/2018). Foto: Humas Pemkot Surabaya
suarasurabaya.net - Elly Yuliandari Psikolog Anak dari Universitas Surabaya (Ubaya) mengatakan, pelibatan anak dalam aksi-aksi di lapangan terutama yang dekat dengan kampanye (politik) maupun unjuk rasa sangat riskan bagi perkembangan dan keamanan mereka.

Meskipun ada batas-batas yang masih mungkin melibatkan anak dalam aksi-aksi itu, tapi Elly menegaskan, ada beberapa hal yang harus dilakukan dan dipastikan oleh mobilisator anak sebelum mengajak mereka dalam kegiatan-kegiatan semacam itu.

"Kalau dalam rangka menjaring suara anak dalam mengkomunikasikan kata hati mereka, masih memungkinkan. Tapi seringkali, kan, kegiatan demo atau kampanye lebih mengarah pada kegiatan ofensif dan seringkali tidak dalam situasi yang kondusif," katanya dihubungi suarasurabaya.net, Senin (5/2/2018).

Pihak penyelenggara aksi kampanye atau apapun yang melibatkan anak-anak, kata Elly, perlu berhati-hati mengingat sudah ada Undang-Undang yang mengatur tentang perlindungan anak. Di undang-undang itu sudah jelas larangan pelibatan anak dalam kegiatan yang bisa membahayakan mereka.

"Jadi harus dilihat, konteksnya seperti apa, dan bentuknya bagaimana? Sumbernya juga dari mana? Kalau itu memang dari kata hati mereka, dan mereka sadar apa yang mereka lakukan, dan mereka menginginkan ikut kegiatan itu secara sadar, saya kira ini masih bisa dilakukan," ujarnya.

Berbeda halnya kalau kegiatan itu terdapat unsur rekayasa dari pihak lain. Sehingga kegiatan itu mengandung unsur manipulatif dengan melibatkan anak agar mengikuti kegiatan itu demi tujuan-tujuan tertentu yang belum tentu mereka inginkan.

"Memang suara anak penting didengarkan, tapi kita harus memperhatikan cara-caranya," katanya.

Aktivitas lapangan seperti aksi Kampanye Peduli Anak yang diinisiasi oleh Tri Rismaharini Wali Kota Surabaya, Senin (5/2/2018) misalnya. Kegiatan itu melibatkan ratusan anak Sekolah Dasar ke beberapa lokasi kampanye di Surabaya, yang lebih banyak di tempat keramaian.

Pesan-pesan kampanye yang disampaikan, menurut Elly, memang positif. Yakni mengajak agar orang tua dan orang-orang yang berada di sekitar anak-anak lebih peduli dan menyayangi anak mereka, serta menghindarkan mereka dari tindak kekerasan.

"Tapi kalau bahasa yang digunakan untuk menyampaikan pesan ini dengan bahasa yang mampu membangkitkan jiwa agresif anak. Seperti anak diminta teriak lantang padahal tidak mengerti apa yang dia teriakkan, ini justru akan berdampak negatif bagi mereka. Situasi yang tidak kondusif dan penggunaan bahasa ofensif akan berpengaruh pada bagian otak amigdala mereka, kemudian memunculkan rasa ketakutan," katanya.

Anak-anak yang masih berada pada masa perkembangan, menurut Elly, bisa saja menyerap pesan yang sebaliknya dari kata "Jangan pernah melakukan kekerasan terhadap Anak" atau "Jangan sakiti anak."

Mereka mungkin saja menangkap pesan bahwa dunia ini tidak aman buat mereka. Bahwa di dunia ini masih banyak terjadi kekerasan yang dilakukan terhadap mereka, sehingga mereka mengalami trauma dan ketakutan.

"Ini tentu tidak baik bagi perkembangan anak. Apalagi anak-anak usia SD, logika berpikirnya masih belum terbentuk sempurna. Mereka akan lebih mudah terstimulasi hal-hal yang negatif. Bisa jadi yang mereka lihat bukan pesan untuk melindungi anak tapi dia lebih mengingat suasana negatifnya. Udara panas di jalan raya dan kata-kata provokatif," ujarnya.

Dua hal yang sangat penting dilakukan oleh mobilisator anak dalam kegiatan-kegiatan di luar sekolah seperti itu, kata Elly, adanya informed consent atau persetujuan dari anak dan persetujuan dari orang tua.

Informed consent adalah hal yang harus dilakukan tenaga medis sebelum melakukan tindakan seperti operasi penyakit tertentu. Pasien dan keluarga pasien harus mendapatkan informasi yang utuh dan menyetujui tindakan yang akan dilakukan oleh dokter.

"Jadi, orang yang mengajak mereka dalam aksi harus benar-benar memastikan bahwa anak-anak itu sudah mendapatkan informasi lengkap tentang apa yang akan mereka lakukan. Harus dipastikan juga, mereka sudah mengerti tidak? Atas kehendak sendiri atau tidak? Kalau dia merasa nyaman dan itu kehendaknya sendiri, dan merasa butuh untuk menyuarakan kata hatinya, boleh saja mereka terlibat," kata Elly yang juga Psikolog Anak di RS PHC.

Pelibatan anak dalam kegiatan-kegiatan semacam itu, kata Elly, memang harus melalui proses yang menyeluruh dan rumit (complicated). Selain itu, pelaksana kegiatan juga harus memperhatikan konsep dan konteks kegiatan yang memang aman untuk anak-anak, serta sesuai dengan perkembangan mereka.

"Harusnya bisa dilakukan dengan cara yang lebih terstruktur. Demo atau kampanye itu sifatnya ofensif. Lain halnya kalau itu aktivitas dengan konsep seni atau narasi. Mereka melukis atau menulis, masih memungkinkan bagi kita menjaring suara anak dalam cara yang kondusif dan sesuai dengan minat maupun bakat mereka, sehingga tidak mengganggu perkembangan," katanya.(den)