SS TODAY

Tradisi Imlek Menyemai Harapan dengan Bandeng dan Buah Jeruk

Laporan Jose Asmanu | Kamis, 15 Februari 2018 | 10:12 WIB
Ny Surati pedagang bandeng musiman asal Pekalongan, yang membuka lapak di kawasan Rawa Belong, Jakarta Barat, Kamis (15/2/2018). Foto: Jose suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Tahun baru China atau Tahun Baru Imlek merupakan perayaan penting bagi orang Tionghoa.

Tahun baru Imlek dianggap menjadi titik permulaan yang menentukan nasib dan kehidupan mereka dalam setahun ke depan.

Warna merah misalnya, dalam budaya China diartikan sebagai simbol keberuntungan atau keselamatan untuk menyongsong tahun baru.

Kelengkapan lain, termasuk ikan bandeng juga punya arti dan makna tersendiri dalam perayaan Imlek.

Pedagang ikan memanfaatkan peluang ini dengan mendatangkan bandeng segar dari Indramayu dan Cirebon.

Mereka membuka lapak di Rawa Belong Jakarta Barat. Beragam harga bandeng yang ditawarkan tergantung ukuran besar kecilnya.

Ukuran besar harganya mencapai Rp100 ribu/kg, ukuran sedang Rp60-75 ribu/kg.

Mendekati hari H pembeli semakin ramai dan harganya pun bisa berubah.

Tradisi menyediakan menu ikan bandeng pada tahun baru Imlek sejatinya tidak banyak yang tahu sejarahnya, utamanya generasi milenial.

Katanya itu simbol banyak rezeki untuk tahun ke depan. Jadi tradisi menyediakan ikan bandeng berlangsung turun temurun.

Hanya etnis Tionghoa menceritakan ibunya biasa membeli ikan bandeng pada satu hari sebelum perayaan Imlek. Ikan ini akan dimasak bersama bumbu tumisan sayur yang terasa asam manis kemudian disantap ramai-ramai bersama keluarga. Itu saja yang diketahuinya.

Pembeli bandeng menjelang Imlek di pasar kaget Rawa Belong, Jakarta Barat ternyata tidak seluruhnya warga keturunan Tionghoa.

Orang Betawi juga punya tradisi soal ikan ini. "Ada tradisi antaran (bandeng jumbo) dari (calon) menantu untuk mertua. Makin besar (yang diantar), harapannya makin banyak rezeki," kata Ny Surati pedagang bandeng musiman asal Pekalongan, yang buka lapak di kawasan Rawa Belong, Jakarta Barat, Kamis (15/2/2018).

Dalam tradisi Betawi, bedanya ikan bandeng yang menjadi hantaran bukanlah ikan yang sudah dimasak melainkan satu ekor utuh yang masih segar.

"Ukuran bandeng yang dibawa calon menantu ke calon mertuanya bisa menentukan kelanjutan perjodohan," tutur H Sabeni warga Betawi asal Palmerah.

Selain berasal dari akulturasi budaya, kehadiran ikan bandeng di perayaan Imlek juga punya rujukan ke bahasa China. Dalam bahasa itu, kata ikan memiliki nada baca yang sama dengan berlimpah.

Karena Itu sajian ikan hampir selalu ada di perayaan Imlek, selain bandeng.

Masakan ikan dalam tradisi Imlek merupakan satu dari 12 sajian sebagai perlambang mata shio, zodiak Tionghoa. Di dalamnya tersemai harapan keberuntungan akan datang bagi setiap orang, apa pun shio-nya, pada setahun ke depan.

Bambang Suyanto Tokoh Pembina Iman Tauhid Islam (PITI) Jatim menceritakan Tahun Baru Imlek dianggap sebagai hari libur besar untuk orang Tionghoa

Di Daratan Tiongkok, Hong Kong, Makau, Taiwan, Singapura, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan negara-negara lain atau daerah dengan populasi suku Han yang signifikan, Tahun Baru Imlek juga dirayakan dan telah menjadi bagian dari budaya tradisional dari negara-negara tersebut.

Perayaan tahun baru Imlek dimulai di hari pertama bulan pertama di penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh di tanggal kelima belas (pada saat bulan purnama).

Pada kesempatan itu orang Tionghoa mengunjungi sanak keluarga, makan bersama dan saling mendoakan untuk keberuntungan masing-masing.

Meskipun Bambang seorang Muslim, juga merayakan Imlek. Imlek bukan milik penganut agama tertentu, siapa saja boleh merayakan.

Sementara wihara di petak sembilan Glodok, Jakarta mulai ramai dikunjungi komunitas Tionghoa untuk berdoa mohon keselamatan dan rezeki yang melimpah. (jos/dwi/ipg)
Editor: Iping Supingah