SS TODAY

Bioskop dan Film Bioskop Pertama di Indonesia

Laporan Dwi Yuli Handayani | Jumat, 30 Maret 2018 | 09:00 WIB
Film yang pertama kali diputar di bioskop Indonesia adalah Film "Loetoeng Kasaroeng". Foto: wikipedia
suarasurabaya.net - Bioskop merupakan tempat yang sudah tidak asing lagi untuk dikunjungi oleh semua kalangan. Tapi tahukan Anda, dimana bioskop yang pertama kali berdiri di Indonesia dan film pertama apa yang diputar?

Dilansir dari Wikipedia, bioskop pertama di Indonesia berdiri pada Desember 1900 di Jalan Tanah Abang I, Jakarta Pusat. Untuk karcis kelas I harganya dua gulden (perak) dan harga karcis kelas dua setengah perak.

Bioskop zaman dulu bermula di sekitar Lapangan Gambir (kini Monas). Bangunan bioskop masa itu menyerupai bangsal dengan dinding dari gedek dan beratapkan kaleng/seng. Setelah selesai pemutaran film, bioskop itu kemudian dibawa keliling ke kota yang lain.


Bioskop pertama di Indonesia berdiri pada Desember 1900 di Jalan Tanah Abang I, Jakarta Pusat. Foto: wikipedia

Bioskop ini di kenal dengan nama Talbot (nama dari pengusaha bioskop tsb). Bioskop lain diusahakan oleh seorang yang bernama Schwarz. Tempatnya terletak kira-kria di Kebon Jahe, Tanah Abang. Sebelum akhirnya hancur terbakar, bioskop ini menempati sebuah gedung di Pasar Baru.

Ada lagi bioskop yang bernama Jules Francois de Calonne (nama pengusahanya) yang terdapat di Deca Park. De Calonne ini mula-mula adalah bioskop terbuka di lapangan, yang pada zaman sekarang disebut "misbar", gerimis bubar. De Calonne adalah cikal bakal dari bioskop Capitol yang terdapat di Pintu Air.

Bioskop-bioskop lain seperti, Elite di Pintu Air, Rex di Kramat Bunder, Cinema di Krekot, Astoria, Capitol di Pintu Air, Centraal di Jatinegara, Rialto di Senen dan Tanah Abang, Surya di Tanah Abang, Thalia di Hayam Wuruk, Olimo, Orion di Glodok, Al Hambra di Sawah Besar, Oost Java di Jl. Veteran, Rembrant di Pintu Air, Widjaja di Jalan Tongkol/Pasar Ikan, Rivoli di Kramat, Chatay di jl gunung sahari dan lain-lain merupakan bioskop yang muncul dan ramai dikunjungi setelah periode 1940-an.

Film-film yang diputar di dalam bioskop tempo dulu adalah film gagu alias bisu atau tanpa suara. Biasanya pemutaran di iringi musik orkes, yang ternyata jarang "nyambung" dengan film. Beberapa film yang kala itu yang menjadi favorit masyarakat adalah Fantomas, Zigomar, Tom MIx, Edi Polo, Charlie Caplin, Max Linder, Arsene Lupin, dll.

Di Jakarta pada tahun 1951 diresmikan bioskop Metropole yang berkapasitas 1.700 tempat duduk, berteknologi ventilasi peniup dan penyedot, bertingkat tiga dengan ruang dansa dan kolam renang di lantai paling atas. Pada tahun 1955 bioskop Indra di Yogyakarta mulai mengembangkan kompleks bioskopnya dengan toko dan restoran.

Di Indonesia awal Orde Baru dianggap sebagai masa yang menawarkan kemajuan perbioskopan, baik dalam jumlah produksi film nasional maupun bentuk dan sarana tempat pertunjukan. Kemajuan ini memuncak pada tahun 1990-an. Pada dasawarsa itu produksi film nasional 112 judul.

Sementara sejak tahun 1987 bioskop dengan konsep sinepleks (gedung bioskop dengan lebih dari satu layar) semakin marak. Sinepleks-sinepleks ini biasanya berada di kompleks pertokoan, pusat perbelanjaan, atau mal yang selalu jadi tempat nongkrong anak-anak muda dan kiblat konsumsi terkini masyarakat perkotaan. Di sekitar sinepleks itu tersedia pasar swalayan, restoran cepat saji, pusat mainan, dan macam-macam.

Sinepleks tidak hanya menjamur di kota besar, tetapi juga menerobos kota kecamatan sebagai akibat dari kebijakan pemerintah yang memberikan masa bebas pajak dengan cara mengembalikan pajak tontonan kepada "bioskop depan". Akibatnya, pada tahun 1990 bioskop di Indonesia mencapai puncak kejayaan: 3.048 layar. Sebelumnya, pada tahun 1987, di seluruh Indonesia terdapat 2.306 layar.

Sementara itu, untuk film yang pertama kali diputar di bioskop Indonesia adalah Film "Loetoeng Kasaroeng". Sebuah film lokal Indonesia yang diproduksi oleh NV Java Film Company pada tahun 1926.

Sebelumnya, pada Agustus di tahun yang sama, De Locomotif juga telah menulis, "Pemain-pemain pribumi dipilih dengan seksama dari golongan priayi yang berpendidikan. Pengambilan film dilakukan di suatu tempat yang dipilih dengan cermat, kira-kira dua kilometer sebelah barat kota Padalarang".

Dan pada tanggal 31 Desember 1926 hingga 6 Januari 1927, untuk pertama kalinya, "Loetoeng Kasaroeng" (film lokal pertama yang menjadi tonggak industri sinema di Indonesia) diputar di Bioskop Majestic, Jalan Braga Bandung.

Bioskop Majestic, pada masanya, dibangun sebagai bagian yang terpisahkan dari kawasan Jalan Braga. Sebuah kawasan belanja bergengsi bagi para meneer Belanda, pemilik perkebunan. Bioskop ini didirikan untuk keperluan memuaskan hasrat para meneer itu akan sarana hiburan, di samping sarana perbelanjaan. Bioskop itu didirikan pada awal dekade tahun 1920-an dan selesai tahun 1925, dengan arsitek Prof. Ir. Wolf Schoemaker. Seorang arsitek terkenal yang jejak karyanya di Bandung masih berdiri dengan kukuh; sebutlah Gedung Asia-Afrika, Gedung PLN, Masjid Cipaganti, Preanger hingga Gereja Katedral di Jalan Merdeka.

Tentang suasana tontonan di Bioskop Majestic pada periode tahun 1920-an itu, pemutaran film didahului oleh promosi yang menggunakan kereta kuda sewaan. Kereta itu berkeliling kota membawa poster film dan membagikan selebaran. Ketika itu, kedatangan kereta kuda itu sudah menjadi hiburan tersendiri, terutama bagi anak-anak.

Pemutaran film dimulai pukul 19.30 dan 21.00. Sebelum film diputar di pelataran Bioskop Majestic, sebuah orkes musik mini yang disewa pihak pengelola memainkan lagu-lagu gembira untuk menarik perhatian.

Menjelang film akan diputar, orkes mini ini pindah ke dalam bioskop untuk berfungsi sebagai musik latar dari film yang dimainkan. Maklum saja, pada pertengahan tahun 1920-an itu, film masih merupakan film bisu.

Pada masa itu, sopan santun dan etiket menonton sangat dijaga. Di Bioskop Majestic, tempat duduk penonton terbagi dua, antara penonton laki-laki dan perempuan, deret kanan dan kiri. Kegemilangan oriental bioskop terus bertahan hingga masa kemerdekaan. Namun, memasuki periode 1980-an, kejayaan bioskop yang menjadi bagian dari sejarah kelahiran film Indonesia ini mulai terasa surut. Munculnya konsep yang ditawarkan oleh bioskop cineplex, di mana penonton bisa memilih film yang ingin ditontonannya, adalah salah satu sebabnya. (berbagai/dwi/ipg)
Editor: Iping Supingah



LAINNYA