SS TODAY

Kronologi Kecelakaan KA Sancaka di Ngawi

Laporan Agustina Suminar | Sabtu, 07 April 2018 | 09:41 WIB
Proses evakuasi lokomotif dan gerbong Kereta Api Sancaka yang mengalami kecelakaan di Ngawi, Jumat (6/4/2017) malam. Foto: Polres Ngawi untuk suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Peristiwa kecelakaan yang melibatkan KA Sancaka diduga karena truk yang membawa meterial proyek mogok di tengah perlintasan kereta di daerah Ngawi.

AKBP Pranatal Hutajulu, Kapolres Ngawi kepada Radio Suara Surabaya, Sabtu (7/4/2018) mengatakan, diduga kecelakaan diawali dengan mogoknya truk yang membawa material proyek PT KAI. Kecelakaan tersebut membuat kepala lokomotif menabrak truk hingga posisi kepala lokomotif berbalik arah lalu terguling keluar rel.

"Hasil olah TKP diduga kecelakaan diawali dengan mogoknya truk yang membawa material yang dibuat untuk pekerjaan proyek doble track. Truk yang berhenti melintang ditabrak oleh KA Sancaka hingga terseret sampai sekitar 200 meteran," jelasnya.

Saat kejadian, truk usai menurunkan bantalan yang kemudian melewati perlintasan yang dibuat khusus untuk pengerjaan proyek. Namun diluar dugaan, truk yang dikendarai Aji Aman, warga Bojonegoro, macet di tengah perlintasan kereta api. Mendengar suara KA yang akan lewat, sopir langsung melompat keluar dan lari ke pinggir perlintasan.

Selain itu gerbong yang berisi generator kereta yang terletak setelah lokomotif juga terpental hingga keluar rel. Sedangkan untuk gerbong urutan ketiga dan keempat anjlok. Meskipun begitu, kedua gerbong yang berisi penumpang itu tidak sampai terguling.

"Ada gerbong yang terpental keluar rel, itu gerbong kedua untuk generator, posisi urutannya setelah kepala lokomotif, gerbongnya mental ke kanan keluar dari jalur rel. Untuk gerbong ketiga keempat anjlok, tapi tidak sampai terguling. Gerbong kelima sampai akhir tetap di rel," tambah APBK Pranatal.

Dia menduga, pekerja yang ada di lokasi sebenarnya telah memberikan tanda setelah truk berhenti dan mogok di perlintasan kereta. Namun karena tanda yang diberikan tidak sesuai prosedur, maka kereta tetap melaju karena masinis tidak mampu membaca tanda yang diberikan pekerja.

"Biasanya tanda bahaya kan menggunakan bendera atau kain merah, tapi mereka hanya melambai-lambaikan tangan," paparnya.

Saat evakuasi, imbuhnya, polisi belum menemukan tanda-tanda bekas pengereman kereta api.

Sampai berita ini dimuat, evakuasi beberapa gerbong sisanya yang melibatkan Polda Ngawi ini masih terus berjalan. Gerbong dua masih dalam proses pengangkatan dari atas rel demi perbaikan rel agar jalur kereta api reguler segera bisa digunakan. Sedangkan untuk tujuh gerbong sisanya selamat dan kembali ke Stasiun Sragen.

Evakuasi menggunakan kren dengan kapasitas 200 ton. Namun lokasi yang sulit terjangkau kren membuat pengangkatan membutuhkan waktu yang lama. Hingga subuh pagi tadi, dari empat gerbong yang anjlok, baru dua gerbong yang berhasil diangkat. (tna/ipg)
Editor: Iping Supingah