SS TODAY

Ledakan di Gereja Pantekosta Jalan Arjuno, Berikut Kronologi Menurut Saksi Mata

Laporan Anggi Widya Permani | Minggu, 13 Mei 2018 | 12:51 WIB
Anton salah satu jemaat Gereja Pantekosta Surabaya yang menjadi saksi ledakan. Foto: Anggi suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Anton salah satu jemaat mengaku saat kejadian ledakan di Gereja Pantekosta Surabaya dirinya berada di dalam gereja, tepat di tengah-tengah para jemaat. Saat itu, proses ibadah akan berakhir sekitar 5 menit lagi dan tiba-tiba terdengar suara ledakan yang kencang.

"Kencang sekali ledakannya dan anginnya juga kencang. Saya lihat juga ada api besar sekali. Karena ledakan itu kaca-kaca di gereja pecah dan melukai para jemaat. Saat itu ada sekitar ratusan jemaat di dalam gereja lantai bawah," kata Anton saat ditemui suarasurabaya.net, Minggu (13/5/2018).

Akibat kejadian itu, kata Anton, dua keponakannya dan satu cucunya yang masih berusia 7 tahun, menjadi korban dan mengalami luka-luka. Anton mengatakan bahwa keponokannya yang menjadi korban itu, sempet bercerita mengenai kronologi yang dilihatnya. Ia mengatakan, keponakannya sempat melihat sebuah mobil yang masuk ke dalam gereja. Seketika, ledakan itu terjadi.

"Keponakan saya lihat, ada mobil yang tiba-tiba masuk ke dalam gereja. Padahal, segala kendaraan tidak boleh masuk, harus parkir di luar. Tetapi kendaraan mobil itu memaksa masuk, yang kebetulan saat itu gerbang gereja posisinya terbuka. Saat mobil masuk, tiba-tiba ledakan itu terjadi," terangnya.

Ledakan itu mengakibatkan api yang cukup besar, dan membakar area depan gereja dan puluhan motor yang terparkir. Saat kejadian, kata Anton, para jemaat keluar melalui pintu samping gereja. Pintu keluar itu mengarah ke Jalan Bromo. Anton juga membenarkan bahwa ledakan terjadi dua kali dengan selang waktu sekitar 20 menit.

Selain itu, ledakan kencang juga berimbas pada bangunan di sekitar gereja. Beberapa kaca bangunan pecah.

"Saat ini keponakan saya dirawat di RKZ. Luka-luka cukup parah. Ini bekas darahnya ada di baju saya. Apalagi cucu saya yang tujuh tahun itu, hidungnya berdarah," pungkasnya. (ang/dwi)
Editor: Dwi Yuli Handayani



LAINNYA