SS TODAY

Pengebom Bunuh Diri Belajar dari Internet

Laporan Anggi Widya Permani | Senin, 14 Mei 2018 | 21:36 WIB
Jenderal Tito Karnavian Kapolri di Polrestabes Surabaya, Senin (14/5/2018). Foto: Anggi suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Jenderal Tito Karnavian Kapolri mengatakan para pelaku bom bunuh diri yang beraksi di Surabaya dan Sidoarjo, memiliki keahlian merakit bom melalui online training atau belajar dari internet. Salah satunya, merakit bom dengan menggunakan peledak triacetone triperoxide (TTATP), yang mereka gunakan dalam aksi teror.

"Jadi beberapa dari mereka banyak yang belajar dari online. Bagaimana cara membuat bom. Sementara itu yang kami deteksi, bahwa pelaku membuat bom dengan belajar dari online," kata Tito, saat ditemui suarasurabaya.net di Polrestabes Surabaya, Senin (14/5/2018).

Pasca ledakan itu, Tito meminta kepada pemerintah untuk memperketat penggunaan internet, khususnya media online yang berkaitan dengan kegiatan terorisme. Apalagi, media online juga kerap dijadikan sarana untuk menyebarkan paham-paham radikalisme.

"Ini nantinya yang akan diatur, salah satunya MoU dengan provider. Bahkan kalau perlu dibuatkan aturan-aturan khusus untuk online. Karena hampir semua kelompok terorisme, sering menggunakan media online, website, dan lain-lain, untuk mempelajari pembuatan bom dan menyebarkan paham-paham untuk merubah pemikiran mereka," jelasnya.

Selain kepolisian yang terus melakukan penindakan dan menangkap terduga terorisme, Tito berharap pihak pemerintah maupun DPR juga segera merancang aturan penggunaan internet, untuk mencegah penyebaran benih-benih terorisme.

Sampai saat ini, Tito mengaku masih belum bisa mengungkap siapa sosok yang paling ahli dalam pembuatan bom. Polisi akan terus menyelidikinya.

"Mengenai teknis siapa pembuatnya dan lain-lain, nanti setelah pemeriksaan tuntas akan kami sampaikan," ujarnya.

Yang jelas, kata Tito, saat ini pihak kepolisian masih terus melakukan investigasi. Perkembangan sementara, pihak kepolisian sudah berhasil mendeteksi kelompok-kelompok yang melakukan serangan teror di Surabaya dan Sidoarjo.

Mereka yang beraksi di tiga gereja Surabaya, rusunawa Sidoarjo dan Polrestabes Surabaya, merupakan jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Surabaya. Semuanya, dilakukan oleh satu keluarga.(ang/iss/ipg)
Editor: Iping Supingah



LAINNYA