SS TODAY

Istri Kapolda Jatim Jenguk Anak Pengebom Polrestabes Surabaya, Begini Kondisinya

Laporan Anggi Widya Permani | Selasa, 15 Mei 2018 | 21:19 WIB
Lita Machfud Istri Kapolda Jatim menjenguk AS (8) anak perempuan dari pelaku bom bunuh diri, di RS Bhayangkara, Selasa (15/5/2018). Foto: Istimewa
suarasurabaya.net - Lita Machfud Istri Kapolda Jatim menjenguk AS (8) anak perempuan dari pelaku bom bunuh diri, di pintu masuk Mapolrestabes Surabaya, di RS Bhayangkara, Selasa (15/5/2018). Lita mengatakan kondisi AS secara fisik sudah berangsur baik. Hanya saja, bekas operasi pada tangannya masih dalam perawatan.

"Kondisinya baik-baik saja. Cuma tangannya yang habis dioperasi," kata Lita, usai menjenguk AS.

Lita juga mengungkapkan bahwa AS sudah bisa diajak berkomunikasi dengan baik. Namun, tidak semua orang bisa mengajaknya berkomunikasi. Hanya orang-orang tertentu.

"Iya sudah bisa komunikasi. Tadi saya tanyain namanya, sekolahnya. Kebetulan dia juga pilih-pilih, hanya dengan satu suster saja dia mau berbicara. Tapi tadi dengan saya juga mau," tuturnya.

Dalam percakapan itu, AS sempat mengaku bahwa dirinya mengenal semua anggota keluarga bomber yang telah meledakkan tiga gereja di Surabaya maupun di rusunawa Sidoarjo. AS juga mengenal sosok Dita Oepriarto dan keluarga Anton, yang merupakan pelaku teroris dan saling kenal dengan ayahnya.

"Saya sempat tanya ke anggota yang meriksa. Dia bilang kalau kenal dengan para pelaku teror dan semuanya memang saling kenal. Mereka bahkan punya kaitan, sering berkomunikasi dengan anak-anaknya," tambahnya.

Selama berkomunikasi dengan AS, Lita mengaku dirinya memiliki kekhawatiran yang besar dengan AS, terutama jika tidak ada anggota keluarga yang mau mendampingi atau merawatnya. Menurutnya, pemikiran AS sangat keras, dengan paham radikal yang diajarkan oleh orang tuanya.

Sehingga sangat rentan, apabila AS tidak didampingi oleh keluarga yang bisa membantu meluruskan jalan pemikirannya. Untuk itu, kata Lita, butuh perjuangan yang cukup berat untuk mengembalikan AS menjadi normal dan membuang paham radikalnya.

"Saya sedikit ngeri saat berkomunikasi dengan dia. Sepertinya dia juga tercuci pemikirannya, otaknya, dari orang tuanya. Harus ada yang mendampingi dan lebih berjuang keras untuk membuang paham radikalnya," tuturnya. (ang/ipg)
Editor: Iping Supingah



LAINNYA