SS TODAY

Kisah Keluarga Iswadi dan Petugas Keamanan Korban Bom Gereja SMTB

Laporan Denza Perdana | Senin, 21 Mei 2018 | 18:10 WIB
Iswadi yang harus menerima 12 jahitan di bagian kepalanya sudah sudah tampak ceria ketika ditemui di rumahnya, di Ngagel Mulya XII Nomor 35, Senin (21/5/2018). Foto: Denza suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Minggu (13/5/2018) pagi itu, Iswadi (82 tahun) dan Agnes Sumiati (87 tahun) istrinya, berangkat dari kediaman mereka di Jalan Ngagel Mulya XII nomor 35 ke Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB), Jalan Ngagel Madya Surabaya.

Bersama dua cucu dan seorang menantunya, Iswadi dan istri berangkat pukul 07.00 WIB naik taksi online untuk mengikuti Misa pagi pukul 07.30 WIB. Keluarga ini sama sekali tak menduga, mereka akan menjadi korban ledakan bom bunuh diri.

Sekitar pukul 07.15 WIB, mobil yang mereka tumpangi tiba di depan gerbang, disambut Ary Setiawan petugas keamanan gereja SMTB yang membantu membukakan pintu mobil.

Vincentius Eka Bayu (16 tahun) salah satu cucu Iswadi turun lebih dulu. Menyusul kemudian Iswadi bersama Teresia Dwi Cahya (12 tahun), cucunya yang lain.

Pada saat yang sama, Irine Harjanti (68), menantunya, dan Sumiati, istrinya, batal membuka pintu mobil karena ada dua pengendara motor melintas kencang sambil membunyikan klakson.


Ary Setiawan di RSAL Dr Ramelan setelah mendapatkan penanganan beberapa dokter spesialis, termasuk spesialis bedah plastik untuk wajahnya, Senin (21/5/2018). Foto: Denza suarasurabaya.net

Ary Setiawan mendengar suara teriakan Aloysius Bayu Rendra, rekannya petugas keamanan, yang berupaya menghalangi dua pengendara motor itu di pos keamanan. Ary bermaksud mendekat membantu temannya ketika bom itu meledak.

"Setelah itu gelap," kata Ary ketika ditemui di ruang perawatan G1 RSAL dr Ramelan Surabaya, Senin (21/5/2018). Dia dirawat di ruangan yang sama dengan Yesaya Bayang Petugas Keamanan di GKI Jalan Diponegoro.

Ary mengalami luka serius di bagian wajah dan beberapa luka akibat material bom di beberapa tubuhnya. Dia sempat mendapatkan penanganan di RS Bedah Manyar kemudian dirujuk ke RSAL Dr Ramelan untuk menjalani sejumlah operasi, termasuk operasi bedah plastik di wajahnya.

Sementara, akibat ledakan bom di lokasi yang sama, Vincentius Eka Bayu, cucu Iswadi, terhempas dari tempatnya berdiri. Sedangkan Iswadi yang harus berjalan dengan bantuan tongkat terjerembab ke sebuah selokan.

"Saya enggak tahu bagaimana. Orang-orang sudah menolong saya, saya diguyur karena badan saya penuh lumpur. Di sini (kepala) darah terus mengucur," ujar Iswadi ketika ditemui di rumahnya.

Anang, putra sulung Iswadi menjelaskan, pagi itu, ayahnya, ibunya, adik iparnya, serta dua keponakannya termasuk korban bom yang melakukan evakuasi mandiri.

"Irene, adik ipar saya, dan ibu saya (Sumiati) masih di dalam mobil, jadi tidak kenapa-kenapa. Adik ipar saya mencegat mobil, seingat saya dikendarai orang Muhammadiyah yang kebetulan melintas dari utara," ujar Anang.

Iswadi dan keluarganya diantar pengendara mobil itu ke Rumah Sakit Premiere di Nginden. Iswadi harus menjalani operasi pencabutan material bom di dadanya dan mendapat 12 jahitan di kepala.

Vincent, cucunya, mengalami luka sobekan di pelipis bawah mata, serta luka akibat material bom di belakang lutut dan pantatnya. Sedangkan Teresia mengalami luka di antara kedua matanya akibat serpihan bom.

Anang, putra pertama Iswadi mengatakan kondisi kedua keponakannya kini sudah berangsur membaik dan sudah mulai bersekolah lagi meski masih harus kontrol ke rumah sakit.

"Vincent tadi sudah sekolah. Dia sekolah di SMA Santa Maria. Tere (Teresia) juga sudah sekolah lagi. Kalau Tere ini sekolah di SMP Santo Yoseph, di Joyoboyo," kata Anang.(den/ipg)
Editor: Iping Supingah



LAINNYA