SS TODAY

Doktrin Terorisme Sangat Kuat Hingga Sebabkan Akal Sehat Jadi Hilang

Laporan Muchlis Fadjarudin | Sabtu, 19 Mei 2018 | 13:31 WIB
Aman Abdurrahman terdakwa tindak pidana terorisme (kemeja oranye) digiring Anggota Densus 88, usai menjalani sidang pembacaan tuntutan, Jumat (18/5/2018), di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Dalam persidangan, Aman sempat mengatakan bahwa Indonesia adalah negara thogut, dimana masyarakatnya kafir dan layak dibunuh. Foto: Farid suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Yudi Zulfachri mantan terpidana teroris menyebut kalau kebencian berlebih yang timbul pada pelaku terorisme mengakibatkan kehidupan mereka tidak normal.

Kata Yudi, kasus seperti di Mapolda Riau adalah satu diantara contoh kehidupan mereka yang tidak normal itu.

"Kebencian ini muncul dalam dirinya‎ sehingga dia tidak tahan hidup normal. Kita lihat di Polda Riau bagaimana serangan itu, kemudian menabrak dengan mobil, mengeluarkan samurai, dan mereka mati," ujar Yudi dalam sebuah diskusi terorisme di kawasan Jakarta Pusat, Sabtu (19/5/2018).

Melihat aksi empat orang di Mapolda Riau tersebut, kata Yudi, membuktikan betapa bahayanya doktrin ideologi pelaku terorisme.

Menurut Yudi, doktrin kebencian dan permusuhan itu sangat kuat sehingga anak kecil diajak mengebom itu juga sudah hilang akal sehatnya.

"Kita sama-sama ke surga, kita bareng-bareng ke surga. Di dunia itu kalau dia mati sendiri anaknya bisa kafir. Kalau meninggal sama-sama akan sama-sama ke surga," jelas Yudi.

Dia menegaskan, untuk mengetahui seberapa besar ideologi terorisme yang masuk pada seseorang, parameter dan variabelnya bisa diukur. Beberapa peneliti di Universitas Indonesia sudah melakukan penelitian itu sehingga bisa dijadikan acuan untuk deradikalisasi.

"Jadi ideologi terorisme itu sebenarnya bisa diukur, ada parameter ada variabel-variabel tingkatan radikalnya," tegasnya.(faz/tna/ipg)
Editor: Iping Supingah



LAINNYA