SS TODAY

Aksi Penolakan Pemakaman Jenazah Terduga Teroris, Ini Kata Pakar Terorisme

Laporan Anggi Widya Permani | Sabtu, 19 Mei 2018 | 14:02 WIB
Akhmad Muzakki Pakar Terorisme yang juga Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UINSA Surabaya saat di RS Bhayangkara, Sabtu (19/5/2018). Foto: Anggi suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Dampak aksi teror di Surabaya dan Sidoarjo, semakin mendapatkan kutukan keras dari berbagai pihak, termasuk warga di sejumlah tempat, yang menolak jenazah teroris dimakamkan di lingkungan mereka. Seperti di tempat pemakaman umum (TPU) Putat Gede Kecamatan Sawahan.

Liang lahat yang sudah digali dan dipersiapkan untuk memakamkan jenazah sejumlah teroris, ditimbun kembali oleh warga. Hal itu merupakan bentuk penolakan warga terhadap terorisme.

Akhmad Muzakki Pakar Teroris yang juga Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, memahami sikap mereka sebagai bentuk kemarahan, karena terorisme telah melukai banyak korban dan mencederai perasaan mereka. Apalagi, selama ini Surabaya tenang dan aman dari serangan teror.

"Ya kita semua bisa memahami bagaimana batin yang dirasakan warga. Mereka sangat geram dengan aksi teroris ini. Surabaya selama ini tenang, tiba-tiba dikejutkan dengan insiden ini. Akibatnya, konsekuensi dari aksi itu, masyarakat menolak mereka dikebumikan di beberapa titik. Sinyalnya penting, supaya jangan melakukan pelanggaran adat dan norma sosial," jelas Muzakki, saat ditemui di RS Bhayangkara.

Muzakki menegaskan bahwa aksi teror yang terjadi di Surabaya maupun daerah lainnya, tidak ada kaitannya dengan agama apapun. Karena agama, kata Muzakki, tidak pernah mengajarkan untuk menghilangkan nyawa manusia lain.

"Teroris ini nir-agama sebetulnya, tidak ada kaitan dengan agama, agama apapun itu. Ini adalah pelanggaran kepada hak dan martabat kemanusiaan," tambahnya.

Bagi Muzakki, aksi teroris yang terjadi di Surabaya adalah pertama kalinya. Karena melibatkan anak dan keluarganya. Terlebih, ancaman itu tidak hanya ditujukan kepada aparat keamanan, tapi juga struktur keluarga. Selain itu, para teroris juga ingin menyampaikan beberapa pesan kepada masyarakat.

"Dari aksi itu, mereka ingin menyampaikan beberapa pesan. Satu, kami hadir dekat dengan kalian. Jangan macam-macam dengan kelompok kami. Anak saja bisa kami korbankan apalagi yang lain. Dua, kami sukses beraksi di titik keamanan di Mako Brimob. Kalau di mako saja bisa, kenapa di pusat kota tidak. Itu pesan mereka, dengan pesan ujung untuk menanamkan suasana yang mencekam," jelasnya.

Terkait jumlah teroris di Jatim, Muzakki mengakui bahwa jumlah mereka memang banyak, seperti fenomena gunung es. Mereka ibaratnya sel-sel tidur kelompok teroris, yang mulai bangkit pascarentetan bom di beberapa daerah Indonesia.

Dia berharap, dari peristiwa tersebut aparat keamanan beserta masyarakat saling bersinergi untuk mencegah paham radikal. Tidak hanya berhenti pada pendekatan formal, hukum, dan militeristik, tapi juga pendekatan kultural untuk menyasar ideologi mereka. (ang/ipg)
Editor: Iping Supingah



LAINNYA