SS TODAY

Menkumham Ajak Jemaat GKI Diponegoro untuk Memaafkan dan Mengasihi

Laporan Denza Perdana | Minggu, 03 Juni 2018 | 20:41 WIB
Yasonna Hamonangan Laoly Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) mengikuti ibadah kebaktian di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jalan Diponegoro, Surabaya, Minggu (3/6/2018). Foto: Denza suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Yasonna Hamonangan Laoly Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) mengikuti ibadah kebaktian di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jalan Diponegoro, Surabaya, Minggu (3/6/2018).

Kehadiran Menkumham di kebaktian ini juga untuk memberikan suntikan moral dan semangat, demi membantu pemulihan trauma yang dialami jemaat gereja pascateror bom.

Menkumham tiba di GKI Diponegoro Minggu sore sekitar pukul 17.20 WIB setelah mengikuti acara berbagi kasih dengan anak yatim di Hotel Wyndham Surabaya.

Yasonna tampak mengikuti ceramah kebaktian bertajuk "Sabat untuk Semua" dengan khusyuk, serta terlihat turut menyanyikan puji-pujian yang dipimpin pendeta dengan takzim.

Tidak hanya Menteri Yasonna, beberapa tokoh Islam yang tergabung dalam Forum Beda tapi Mesra (FBM), yakni Kiai Haji Masfud Zakaria dan Kiai Haji Sulaiman datang di acara ini untuk memberikan dukungan moral.

Dalam sambutannya, Yasonna mengajak Umat Kristen di GKI Diponegoro agar mau memaafkan dan mengasihi musuh, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Yesus Kristus.

Dia mengutip kitab Matius 5: 38-48 yang mana Yesus menyerukan, meski umat telah mendengar firman bahwa "mata ganti mata gigi ganti gigi," tapi Yesus meminta mereka, "ketika orang menampar pipi kirimu, berikan pipi kananmu."

"'Kamu telah mendengar Firman, kasihilah sesama umat manusia, tapi Aku berkata kepadamu, kasihilah musuhmu,' ini tidak mudah bagi kita manusia menjalankan ajaran ini," kata Yasonna.

Dia juga mengutip pernyataan Mahatma Gandhi, bahwa bila setiap orang menerapkan mata ganti mata dan gigi ganti gigi, maka semua orang di dunia ini akan buta karena kehilangan matanya dan kehilangan giginya.

Menkumham turut berdukacita atas jemaat GKI yang menjadi korban bom bunuh diri pada 13 Mei 2018 lalu. Namun dia mengajak agar jemaat tidak kehilangan semangat untuk berbagi kasih.

"Kita harus tetap semangat untuk berbagi kasih. Agama apapun mengajarkan kita untuk terus berbagi cinta kasih kepada sesama manusia, sehingga kita bisa menjadi bangsa yang besar," katanya usai kebaktian.

Dia berharap, kunjungan kali ini mampu menguatkan semangat para jemaat GKI Diponegoro. Dia juga berharap semua umat Kristiani tidak marah dan tidak membenci umat lainnya.

"Justru kita harus tunjukkan, kita mampu mengampuni dan mengasihi," ujarnya sembari mencontohkan sebuah video viral tentang anak korban bom di rumah sakit yang menyanyikan lagu puji-pujian.

Dia mengatakan, video itu menunjukkan bagaimana anak tersebut mampu mengampuni dan mengasihi pelaku teror. Dia ingin seluruh umat mencontohnya agar bangsa Indonesia semakin menghargai perbedaan dan berpegang pada Bhinneka Tunggal Ika.

Kiai Haji Sulaiman dari FBM yang turut hadir dalam kebaktian itu mengatakan, dia berharap dengan adanya kegiatan ini ke depan semua umat agama di Indonesia bersatu untuk menciptakan keamanan dan ketenteraman.

"Umat tujuh agama di Indonesia ini harus bersatu menciptakan keamanan dan kenyamanan," katanya ditemui usai kebaktian di GKI Diponegoro.

Daniel Theophilus Hage Ketua Umum Majelis Jemaat GKI Diponegoro menyatakan ucapan terima kasih kepada Menkumham yang datang untuk memberikan dukungan semangat bagi para jemaat.

Dia mengatakan, GKI Diponegoro sampai saat ini terus mendampingi para jemaat yang menjadi korban ledakan bom. Terutama dalam hal penyembuhan trauma psikis yang masih mereka alami.

"Memang yang terluka akibat bom itu hanya enam. Luka fisik mungkin saat ini sudah kering tapi trauma psikis ini yang kami tidak tahu sampai kapan bisa sembuh," ujarnya.

GKI Diponegoro sampai saat ini membuka konseling bagi jemaat, baik berkelompok maupun secara individu untuk menyembuhkan trauma psikis yang mereka alami.

Kehadiran FBM dan dukungan dari semua pihak termasuk yang merupakan umat muslim, kata Daniel, sangat penting bagi penyembuhan trauma ini.

"Terima kasih. Dengan kedatangan FBM, juga teman-teman sekalian dari Muslim akan memberikan kesadaran, oh, kita tidak sepaham juga dengan para pelaku itu, dan ini akan memberikan dukungan yang sangat kuat bagi korban," ujarnya.(den/ang/iss)
Editor: Ika Suryani Syarief



LAINNYA