SS TODAY

Kapolri dan Panglima TNI Pimpin Gelar Pasukan Operasi Ketupat 2018

Laporan Muchlis Fadjarudin | Rabu, 06 Juni 2018 | 11:44 WIB
Apel Gelar Pasukan Operasi Kepolisian Terpusat Ketupat 2018 dalam rangka pengamanan Idul Fitri 1439 Hijriah di lapangan Monas, Jakarta Pusat, Rabu (6/6/2018). Foto: Faiz suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Jenderal Tito Karnavian Kapolri dan Marsekal Hadi Tjahjanto Panglima TNI menjadi inspektur upacara Apel Gelar Pasukan Operasi Kepolisian Terpusat Ketupat 2018 dalam rangka pengamanan Idul Fitri 1439 Hijriah di lapangan Monas, Jakarta Pusat.

Operasi ini akan berlangsung selama 18 hari, dimulai dari 7 Juni sampai dengan 24 Juni 2018.

Dalam upacara tersebut, baik Kapolri maupun Panglima TNI menyematkan pita kepada perwakilan aparat negara yang terlibat dalam operasi Ketupat Lebaran ini sebagai tanda dimulainya operasi tersebut..

Tito menjelaskan kalau apel hari ini dilakukan secara serentak di seluruh Indonesia yang ditandai dengan sejumlah kegiatan, termasuk pemeriksaan dan pengecekan kewilayahan masing -masing dalam rangka dimulainya operasi ini.

Operasi ini, kata Kapolri ditargetkan pada empat hal, yang pertama adalah pengamanan arus mudik dan arus balik.

"Selama ini sudah cukup perbaikan dilakukan pemerintah khususnya infrastruktur. Dan dari hasil pengecekan, relatif akan lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Tinggal kita bekerja keras untuk mengurai macet dan juga menekan angka kecelakaan lalulintas," ujar Kapolri dalam pidatonya, Rabu (6/6/2018).

Kemudian yang kedua, kata dia, adalah menstabilkan harga pangan agar tidak terjadi inflasi dan tidak memberatkan masyarakat.

"Beberapa waktu yang lalu operasi cipta kondisi sudah saya serahkan dalam rangka untuk menjaga distribusi karena suplai relatif cukup, seperti suplai komoditas pangan, namun distribusinya yang ada masalah. Selama kurang lebih dua bulan terakhir, lebih kurang 495 kasus yang berhubungan dengan masalah tindak pidana bidang pangan sudah dilakukan dalam rangka untuk menjaga agar distribusi pangan tidak terjadi anomali atau tidak terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh mafia atau kartel pangan," tegasnya.

Kemudian yang ketiga, menurut Tito, operasi ini juga bertujuan untuk memudahkan masyarakat yang akan kembali bisa terhindar dari gangguan-gangguan baik gangguan premanisme, kejahatan -kejahatan konvensional lain seperti copet, jambret.

Oleh karena itu semua stasiun kereta api, terminal, pelabuhan bandara diberikan pengamanan secara bersama-sama sehingga masyarakat yang akan pulang kampung mudik merasa terjamin keamanannya sekaligus merasa nyaman.

"Sebelumnya kita sudah melaksanakan operasi cipta kondisi yang sama untuk pengamanan tersebut terhadap yang kita sebut penyakit masyarakat, mulai masalah premanisme, miras, pemalakan dan lain-lain. Ratusan tersangka sudah dilakukan tindakan hukum di seluruh Indonesia," jelasnya.

Selanjutnya Kapolri juga mengaku akan mengantisipasi potensi gangguan lainnya yaitu bencana alam seperti letusan gunung Merapi dan juga kadang-kadang Sinabung serta kemungkinan ombak tinggi di beberapa wilayah.

"Ini juga kita bersiap-siap bila terjadi keadaan-keadaan kontijensi di masa operasi 18 hari ini, maka kita cepat untuk bergerak membantu masyarakat," kata Tito.

Yang terakhir, Tito mengatakan, operasi ini juga bertujuan untuk mengamankan masyarakat dari potensi kejahatan terorisme.

"Ini karena bagi para pelaku, di bulan suci Ramadhan ini seringkali mereka juga melakukan aksi, berkaca dari tahun-tahun sebelumnya. Untuk itu, kita membantu mengamankan masyaraka disamping juga mengamankan diri sendiri," kata dia

Oleh karena itu, Tito minta kepada petugas operasi ini melaksanakan tugas dengan tulus dalam rangka operasi kemanusiaan membantu masyarakat, sehingga hari raya ini betul-betul dapat dirasakan oleh masyarakat dengan aman dan nyaman.(faz/iss/ipg)
Editor: Iping Supingah



LAINNYA