SS TODAY
Info Mudik

Jelang Lebaran, Penjual Ketupat Bermunculan

Laporan J. Totok Sumarno | Rabu, 13 Juni 2018 | 16:28 WIB
Ketupat bermunculan di sejumlah pasar tradisional dua hari jelang Lebaran 2018. Foto: Totok suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Puluhan kulit Ketupat atau biasa disebut ketupat saja, Rabu (13/6/2018) dibuat dengan rapi oleh tangan terampil Murena (32) di tepi jalan kawasan Jalan Keputran, Surabaya.

Satu persatu ketupat kemudian disatukan menjadi satu ikatan berisi masing-masing 10 biji ketupat. Pembeli bisa memilih masing-masing ikatan yang sudah disediakan Murena.

"Dua puluh ribu rupiah satu ikat isi 10 biji ketupat. Kalau ndak mau yang sudah jadi, mau yang janur saja juga ada kok. Tapi banyakan yang beli milih yang sudah jadi, tinggal diisi beras saja," terang Murena.

Meskipun Lebaran masih dua hari mendatang, Murena memilih mulai berjualan ketupat dan janur dengan harapan masyarakat mulai membeli dan tidak menunggu setelah Lebaran usai.

Dalam hitungan 30 menit, Murena bisa membuat sekurangnya 15 ketupat. "Biasanya jualan sampai setelah Lebaran. Nanti hari pertama pulang kampung, besoknya balik Surabaya, jualan lagi," ujar Murena yang mengaku dari Situbondo.

Tradisi menyantap ketupat lengkap dengan sayur bersantan atau opor ayam memang bagian tidak terpisahkan dari tradisi keceriaan Lebaran. Rasanya kurang lengkap merayakan Lebaran tanpa menyantap ketupat opor ayam.

Didi warga Rungkut, mengaku setiap tahun memang menyediakan ketupat lengkap dengan aneka sayur bersantan serta opor ayam. "Kalau kerabat datang, bersilaturahmi, bermaaf-maafan, lanjut santap ketupat opor ayam," kata Didi.

Dan secara khusus pula menjelang Lebaran, Didi selalu membeli kulit ketupat di kawasan Jalan Keputran tersebut. Menurutnya tahun ini, penjual ketupat tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya.

"Tahun ini, di dua hari menjelang Lebaran, penjual ketupat dan janur tidak banyak. Tahun-tahun sebelumnya penjualnya cukup banyak. Meskipun di Rungkut ada pasar dan menjual ketupat, tapi tiap tahun belinya di Keputran ini," pungkas Didi.(tok/dwi)
Editor: Dwi Yuli Handayani



LAINNYA