SS TODAY

Libur Pilkada 2018: Mudik untuk Mencoblos atau Rekreasi?

Laporan Denza Perdana | Selasa, 26 Juni 2018 | 23:31 WIB
Pengendara sepeda motor berjubel memadati jalan raya sebelum Perempatan Gedangan, Sidoarjo, Selasa (26/6/2018) malam. Foto: Denza suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Selasa (26/6/2018) malam menjelang libur nasional Pilkada Serentak 2018, sekitar pukul 22.00 WIB, kepadatan lalu lintas yang tidak biasa terjadi di jalur Surabaya-Sidoarjo.

Kepadatan kendaraan yang terjadi akibat peningkatan jumlah pengendara sepeda motor dan mobil yang cukup signifikan mulai terasa sejak Bundaran Waru.


Kepadatan kendaraan di Bundaran Aloha, Waru, di malam menjelang hari libur Pilkada Serentak 2018, Selasa (26/6/2018). Foto: Denza suarasurabaya.net

Laju kendaraan merambat dan sempat tidak bergerak selama beberapa menit di Bundaran Aloha. Padahal, saat itu, kendaraan dari Jalan Juanda tidak bisa crossing ke arah Surabaya karena ada kereta api yang mau lewat.

Selepas persimpangan ini, kendaraan di depan tetap padat merambat. Berdasarkan spedometer sepeda motor, laju kendaraan rata-rata tak sampai melebihi 20 kilometer per jam.

Mobil dan sepeda motor yang tumpah ruah di jalan protokol itu bernomor polisi dari bermacam daerah. Meskipun, sebagian besar di antaranya dari Sidoarjo dan Surabaya.

Sementara, beberapa pengendara sepeda motor tidak sedikit yang terlihat berboncengan satu keluarga dengan beberapa macam tas yang mereka bawa.

Ada juga di antara mereka yang menumpukan beban tas ransel carrier yang biasa dipakai para pendaki gunung di kedua pundaknya.

Pangkal antrean kendaraan tetap tak terlihat. Menjelang Perempatan Gedangan, beberapa pengendara sepeda motor akhirnya memutuskan berhenti di sebuah minimarket.

Seolah menular, antrean juga terjadi di kasir minimarket itu. Sebagian dari pengendara sepeda motor membeli minuman sembari menunggu kepadatan lalu lintas berkurang.

Di lahan parkir minimarket itu, sekelompok anak muda terlihat sedang ketawa-ketiwi. Mereka mengenakan jaket, sarung tangan, ada yang pakai masker pelindung muka.


Sekelompok pemuda yang memilih rekreasi ke Pantai Balekambang, Malang, dan memutuskan golput saat Pilkada Serentak Rabu (27/6/2018). Foto: Denza suarasurabaya.net

Mereka adalah sekelompok pemuda yang sama-sama bekerja sebagai marketing perusahaan farmasi dari beberapa perusahaan berbeda. Mereka berenam sedang dalam perjalanan dari Surabaya ke Kabupaten Malang.

"Mau rekreasi ke Pantai Balekambang, Malang Selatan," kata Ghofur Rohim yang mengaku penduduk asli Surabaya. Dia mengakui, saat Pilkada Serentak besok akan golput.

Sementara, Fadila Amalia Putri Gusti berdalih dirinya belum mendapat hak pilih. Tapi kemudian dia menyebut usianya saat ini sudah 18 tahun. "Eh, sudah (punya hak pilih,red), ya," kata Fitri Sukma Melati, temannya.

Fitri lantas mengatakan, Putri tercatat sebagai penduduk Yogyakarta, sedangkan dirinya adalah penduduk Kota Semarang. Keduanya pun tidak turut dalam pesta demokrasi besok.

Ketiganya bersama tiga orang temannya yang lain memanfaatkan libur Pilkada Serentak 2018 yang ditetapkan melalui Keputusan Presiden untuk rekreasi.

Tapi tidak semua pengendara sepeda motor di tengah kepadatan kendaraan sepanjang Bundaran Waru sampai Perempatan Gedangan itu yang memutuskan golput dan memilih rekreasi.

Muhammad Razi beserta istri dan anaknya, berboncengan sepeda motor sambil membawa bermacam tas, dari tas ransel sampai tas selempang, mengaku sedang mudik Pilkada.

Dia pulang kampung ke Sidoarjo supaya bisa mencoblos pasangan calon kepala daerah pilihannya di Tempat Pemungutan Suara (TPS) di mana dia terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT).

"Ya, mas, pulang ke Sidoarjo buat nyoblos. Sekalian kumpul lagi sama orang tua," kata Razi yang mengaku bekerja di salah satu perusahaan swasta di Surabaya.

Sayangnya, dia enggan menyebutkan di TPS berapa dan di desa mana dia akan menyalurkan hak pilihnya dalam Pilkada Serentak besok.

Sekelompok pemuda yang memilih rekreasi saat pencoblosan itu seperti yang dikhawatirkan beberapa pihak, terutama oleh KPU sebagai penyelenggara pemilu.

Sebab, pada Pilkada Serentak kali ini, KPU telah meningkatkan target jumlah partisipasi masyarakat mencapai angka lebih dari 70 persen.

Beberapa survei atau analisa dari pakar politik menyebutkan, para milenials dan generasi Z berpotensi tidak menyalurkan hak suaranya karena apolitis atau bosan dengan Pemilu yang begitu-begitu saja.

Tidak hanya berdasarkan generasi, potensi golput juga datang dari para swing voters atau para pemilik hak suara yang bimbang menentukan pilihan pasangan calon.

Hasil survei dari beberapa lembaga survei menunjukkan, jumlah swing voters cukup mengkhawatirkan.

Surabaya Suvey Center (SSC), misalnya, pada akhir 2017 lalu menghasilkan survei terhadap 940 responden pada 25 November hingga 8 Desember 2017.

Survei itu menunjukkan, jumlah swing voters dan undecided voters di Jawa Timur masih mencapai 57,5 persen.

Surochim Abdussalam peneliti senior SSC saat itu mengatakan, bukan tidak mungkin dua jenis pemilih yang dia sebut sebagai pemilih liar itu bisa menjadi bagian dari pemilih golput.(den/ipg)
Editor: Iping Supingah



LAINNYA