Jazz Traffic
14 Mei 2012, 19:46:56| Laporan Eddy Prastyo
Jazz Showbizz, Dari Idealisme ke Proyek Rupiah
suarasurabaya.net|
Semakin banyaknya gelaran jazz di Indonesia belakangan ini menandakan makin diterimanya musik Jazz oleh masyarakat negeri ini. Banyak diantara event-event jazz terkenal, sebut saja Java Jazz, Jazz Goes to Campus, dan JakJazz diawali dari proyek idealisme –mengajak khalayak menikmati sekaligus mengapresiasi musik jazz di lingkungannya.
Bens Leo pemerhati musik Indonesia pada suarasurabaya.net mengatakan tidak mudah mempertahankan konsistensi dalam penyelenggaraan event musik jazz. Padahal inilah yang menurut Bens, jadi unsur kunci, sebuah event jazz diperhitungkan dalam komunitas, baik lokal maupun internasional.
“Untuk menjadi sebuah event yang berorientasi profit, mau tidak mau event itu harus konsisten, terjadwal, dan bermanajemen professional,” kata dia.
Bens mencontohkan event Java Jazz yang mulanya digarap mengadaptasi North Sea Jazz Festival di Belanda. “Kebetulan Peter Gontha adalah ‘musisi jazz yang gagal’. Passionnya disalurkan lewat pagelaran yang digarap secara professional dan regular. Dengan kekuatan finansialnya sebagai pengusaha dan jaringannya di North Sea Jazz Festival dibawa ke Indonesia dan jadilah Java Jazz,” kata dia.
Saat ini Java Jazz sudah masuk agenda regular musik jazz internasional yang jadwalnya menyesuaikan dengan event-event jazz internasional lainnya. “Java Jazz digelar bulan Maret tiap tahunnya, sedangkan North Sea Jazz Festival digelar minggu kedua bulan Juni, setelah itu berturut-turut Montreaux di Swiss, Italia, Perancis, dan terakhir di Inggris. Jadi jadwal event jazz internasional ini berkeliling dunia,” kata dia.
Keberhasilan Jazz Showbizz dalam konteks profit yang lebih kecil, Bens mencontohkan Jazz Goes to Campus yang digelar hampir 30 tahun. Event ini dirintis Chandra Darusman saat dia masih kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. “Event ini kemudian dilanjutkan oleh adik-adik kelas Chandra dan masih berlangsung sampai sekarang. Menjadi konsisten karena didukung sponsor yang berkepentingan masuk ke segmen mahasiswa,” kata dia.
Jazz Showbizz di Indonesia, jelas Bens Leo, dirintis oleh Jack Lesmana lewat pagelaran jazz di Taman Ismail Marzuki di tahun 1970-an. Setelah sukses tampil di TVRI lewat acara Nada dan Improvisasi, kata Bens, Jack Lesmana membawa musik jazz ke ruang terbuka yang memungkinkannya berinteraksi dengan khalayak.
“Taman Ismail Marzuki waktu itu jadi ruang terbuka yang cukup berkelas dan Jack Lesmana bersama Joppie Item menampilkan musik jazz berbayar. Penontonnya harus membeli tiket untuk menikmati musik Jack Lesmana. Waktu itu Indra Lesmana masih berusia sekitar 8 tahun pernah diajak juga ke sana. Ada kebutuhan saat itu untuk musik-musik seperti yang ditampilkan Jack Lesmana sehingga sangat memungkinkan untuk ‘dijual’,” kata dia.
Bagaimana hubungan antara artis dengan event-event musik jazz ini? Menurut Bens, satu sama lain pastinya saling membutuhkan. Bagi event jazz, kehadiran artis internasional tentunya membuat gengsi sebuah event jazz semakin melambung. Sedangkan bagi artis jazz yang butuh aktualisasi, kehadirannya di sebuah event jazz bereputasi, juga akan melambungkan namanya.(edy)
Teks Foto :
- Jazz Traffic Festival 2011 yang digelar Suara Surabaya Media. Event ini akan digelar rutin tiap tahun.
Foto: dok suarasurabaya.net