JAZZ TRAFFIC

Ngayogjazz 2018, Menikmati Alunan Jazz di Pedesaan Yogyakarta

Laporan J. Totok Sumarno | Senin, 19 November 2018 | 19:29 WIB
Pentas Ngayogjazz 2018 digelar di Desa Gilanghardjo, Kecamatan Pandak Bantul. Foto: Totok suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Digelar untuk ke 12 kalinya, pagelaran Ngayogjazz 2018 dilaksanakan di Desa Gilangharjo, Pandak Bantul Yogyakarta. Menikmati alunan musik jazz di suasana pedesaan Yogyakarta.

Siang itu, kawasan Desa Gilanghardjo, Pandak Bantul, terlihat tidak seperti biasanya. Lalu lalang kendaraan-kendaraan dengan plat nomor B, D bahkan L dan beberapa pelat nomor luar Pulau Jawa terlihat melintas.

Para anak-anak muda dengan beberapa di antaranya mengenakan Blangkon sebagai penutup kepala, mencegat setiap kendaraan mobil maupun sepeda motor yang akan memasuki Gilanghardjo.

Selain memungut karcis jasa parkir, anak-anak muda yang mengenakan keplek bertuliskan: Panitia, ini juga memberikan informasi dimana lokasi parkir untuk kendaraan roda empat maupun sepeda motor.


Karnaval Musisi ikut menyemarakkan pentas Ngayogjazz 2018 yang dipentaskan di Desa Gilanghardjo, Pandak Bantul, Yogyakarta. Foto: Totok suarasurabaya.net

Umbul-umbul sponsor dan umbul-umbul lain sebagai penanda bahwa ada perhelatan besar di Gilanghardjo juga terlihat di dekat tempat anak-anak muda tadi berdiri di bawah tenda di ujung Desa Gilanghardjo.

Tepat dipertigaan Desa Gilanghardjo, sebuah papan penunjuk arah sekaligus juga denah panggung dipasang cukup mencolok. Pada papan denah itu tertulis dimana letak panggung-panggung pementasan yang tahun ini sekurangnya ada 5 panggung.

Sebelum bertemu dengan panggung-panggung itu, hiasan berupa anyaman bilah bambu, dan patung kertas berbentuk manusia membawa beberapa alat musik menyambut setiap pengunjung yang akan menyaksikan Ngayogjazz 2018 di Gilanghardjo, Pandak Bantul.

Djaduk Ferianto, inisiator Ngayogjazz menyampaikan bahwa pelaksanaan pentas Ngayogjazz ke 12 sengaja memilih Desa Gilanghardjo, Kecamatan Pandak Kabupaten Bantul, sebagai upaya merekonstruksi tatanan masyarakat desa sekaligus menghargai kearifan lokal.

"Karena itu pada tema Ngayogjazz 2018 kami pilih: Negara Mawa Tata, Jazz Mawa Cara, yang diambil dari ungkapan masyarakat pedesaan: desa mawa cara, negara mawa tata. Mengingatkan kearifan lokal," terang Djaduk sebelum opening Ngayogjazz 2018.

Enam panggung yang dihadirkan kali ini, juga dinamai setidaknya seperti sejumlah jabatan pemerintahan yang biasanya ada di pedesaan. Panggung Lurah, Panggung Carik, Panggung Bayan, Panggung Jagabaya dan Panggung Jagatirta.

Memang tidak ada penanda khusus untuk panggung-panggung itu. Termasuk hiasan pada panggung yang juga minim, nama panggung-panggung diletakkan ditepi kiri atau kanan panggung.

Menjelang petang, sesaat sebelum matahari tenggelam di sisi barat Desa Gilanghardjo, kirab Garuda Pancasila yang memang menampilkan lambang negara Pancasila diusung sejumlah remaja putri dengan dandanan cantik, menandai dimulainya pentas Ngayogjazz 2018.

Dari Panggung Jagabaya, arak-arakan karnaval dan Kirab Garuda, berkumpul dan diatas panggung para komedian Kota Yogyakarta berkumpul bersama-sama untuk membuka secara resmi pagelaran Ngayogjazz 2018.

Dan di ke 6 panggung yang sudah bersiaga sejak menjelang pukul 14.00 para pranatacara yang tampil berpasangan, yang keseluruhannya adalah para komedian mulai dari Alit Jabangbayi, Lussy Laksita, Bambang Gundhul, Hendra Plered, Unggry serta Diwa Hutomo membawakan acara penuh keceriaan dan gaya khas Ngayogyakarta.

Semakin sore dan menuju malam, Desa Gilanghardjo terlihat hiruk pikuk orang-orang yang berdatangan. Sedangkan dari masing-masing panggung terdengar para musisi memainkan komposisi-komposisi bernuansa jazz.

Tahun ini, ada Syaharani and Queen of Fireworks, Tohpati Bertiga, Simak Dialog, Brayat Endah Laras, Idang Rasjidi, Tompi, Nita Artseen dan Kua Etnika. Dari luar negeri tampil Kika Sprangers Quintet dari Belanda, Ozma Quintet dari Prancis dan Rodrigo Parejo Quartet dari Spanyol.

Tidak hanya itu, beberapa kelompok band jazz dari Yogyakarta dan beberapa kota lain seperti Surabaya, Purwokerto dan Pakanbaru juga turut tampil.

Hiruk pikuk penonton tidak saja mencari masing-masing panggung untuk menunggu grup band pujannya tampil, tetapi pengunjung juga terlihat memenuhi lokasi-lokasi penyedia kuliner yang memang hadir memeriahkan Ngayogjazz 2018.

Dan pemandangan para penonton yang sedang menikmati kuliner sembari mengangguk-anggukan kepala mengikuti irama suara pada masing-masing panggung didekat lokasi mereka bersantap, menjadi pemandangan yang mengasyikkan.


Penampilan Simak Dialog di Panggung Kamituwa. Foto: Totok suarasurabaya.net

"Justru keramaian pengunjung dan lalu lalang penonton inilah yang jadi daya tarik. Mereka yang biasa menikmati pertunjukan musik di gedung-gedung tertutup, di Ngayogjazz musik-musik diperdengarkan ditengah-tengah suasana pedesaan. Ini menarik kan??" ujar Finna Saputra warga Yogyakarta.

Disetiap panggung ratusan penonton terlihat selalu hadir untuk menikmati penampilan berbagai kelompok musik yang perform. "Kapan lagi bisa menikmati alunan musik jazz ditengah suasana pedesaan, kalau tidak di Ngayogjazz," terang Dinda Putri yang mengaku selalu menyaksikan Ngayogjazz sejak 4 tahun lalu.

Sampai menjelang pukul 23.00 WIB, suasana Desa Gilanghardjo yang biasanya sudah senyap dan hanya terdengar suara kodok dan jengkerik, Sabtu (17/11/2018) masih ramai oleh lalu lalang penonton Ngayogjazz 2018.(tok/iss)
Editor: Ika Suryani Syarief



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.