KAMPOENG MEDIA

MNC, Kompas, Suara Surabaya dan Konvergensi Media

Laporan Zumrotul Abidin | Sabtu, 18 Maret 2017 | 14:18 WIB
Tim Suara Surabaya Media bersama tim MNC saat di ruang redaksi RCTI, inews dan tim Riset MNC di MNC News Center, Jumat (17/3/2017). Foto: Abidin suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Konvergensi masih menjadi topik hangat dalam strategi pengelolaan media di Indonesia. Suara Surabaya Media berkesempatan berdiskusi bersama dua korporasi media nasional terbesar di Indonesia yaitu Kompas dan MNC.

Media dan Bisnis adalah dua variabel yang kini tidak bisa dilepaskan, kata Ray Wijaya Corporate Secretary MNCTV dan PT. Media Nusantara Citra Tbk (MNC). Konvergensi media merupakan jalan yang hari ini masih dinilai relevan menjadi strategi bisnis di dalam tubuh media.


"Kalau mau membesarkan media harus konvergensi," ujar Ray Wijaya saat menerima Kunjungan Profesional tim Suara Surabaya Media di MNC Tower Jl Kebon Sirih 17-19 Jakarta Pusat, Jumat (17/3/2017).

Di era konvergensi media saat ini sebuah perusahaan grup media, kata Ray, harus memiliki visi progresif, quality dan speed dalam menggerakkannya. Dengan visi itu semua bisa bergerak bersama dengan hasil maksimal.

"Karyawan bagus saja belum cukup. Bagus dan cepat itu seharusnya," katanya.

Dia mencontohkan di MNC memiliki dua holding bisnis yakni MNC Media (membawahi semua media televisi, radio, koran dan online) dan MNC Group yang membawahi 4 core bisnis diantaranya properti dan financial. Dua holding ini yang kini terus menggerakkan "Kerajaan" MNC menjadi kian besar.

"Televisi tidak akan hidup dengan program berita saja. Bahkan, program News itu hanya menghabiskan duit. Maka dari itu, semua harus bergerak di konvergensi ini," katanya.

Dia mengatakan, di perusahaannya RCTI dan MNCTV menjadi penopang bisnis konvergensi media karena program hiburan terutama sinetron secara realistis bisnis sangat menguntungkan.

Selain itu, pola kerja di konvergensi pasti mengharuskan karyawannya multitasking. Bagi MNC, jurnalis harus bisa menjadi manager sehingga seseorang bisa memanage diri sendiri untuk pekerjaan yang banyak. Tahun 90-an di BBC London konvergensi media sudah diterapkan dan karyawannya sudah harus multitasking.

"Makanya di MNC semua merangkap jabatan. Saya mengurusi empat TV dengan Corporate Secretary di bawah saya. Semua merangkap tugas dan 50 persen saya melibatkan anak muda sebagai tim," katanya.

Menurut Ray, konsep konvergensi dalam koridor bisnis harus berprinsip memperbesar penghasilan dan memperkecil pengeluaran. Maka dari itu, seluruh program news di televisi grup MNC baik televisi analog maupun kabel sekarang dijadikan satu muara di iNews TV. Karyawan di iNews bisa mengerjakan proyeknya Global TV dan sebagainya.

"Seluruh program berita ada di Tower Kebon Sirih ini, untuk program entertainment atau hiburan terpusat di MNC Studios Kebon Jeruk," katanya.

Diakhir diskusi, mantan anggota Dewan Pers ini memberi saran agar Suara Surabaya (SS) segera bangun. Menurut Ray, Radio Suara Surabaya sudah memiliki nama besar, segera konvergensinya digerakkan maksimal.

"SS sudah memiliki nama besar, ayo bangkit. Bila perlu akuisisi, beli mainan baru dirawat dengan baik," katanya.

Menurut Ray, tidak ada yang perlu ditakutkan dalam konvergensi media. Justru dengan integrasi sistem di konvergensi media ini semakin membuka kesempatan bisnis semakin maju.

"Apa yang ada di pasar (media, red) saat ini, di SS harus ada. Radio SS sebagai yang tertua di Indonesia harus bisa," katanya.

Ray mengklaim, dalam 10 tahun tertakhir ini tidak ada satupun grup media di Indonesia yang sekuat MNC. "Orang yang iklan di MNC itu senang karena dengan satu paket iklan bisa ditayangkan di banyak jenis media," katanya.

Kehati-hatian Kompas dalam Konvergensi

Bila semangat MNC membangun "kerajaan" bisnis media sangat kental, berbeda dengan Kompas yang menggerakkan bisnis tanpa mengurangi kontribusi pikiran untuk peradaban.

Mohammad Bakir Redaktur Pelaksana Harian Kompas menyadari jika konvergensi media tidak terhindarkan seiring presure kencang di era digital saat ini.

"Pendiri Kompas itu seorang guru dan pemikir, sehingga ukurannya tidak selalu bisnis semata," kata Bakir didampingi Rusdi Amral Wakil Redaktur Pelaksana Kompas saat menerima Kunjungan Profesional tim Suara Surabaya Media, Jumat (17/3/2017).

Menurut Bakir, Kompas saat ini tengah mulai mengerjakan konvergensi media yang dimulai dari Integrated News Room, yaitu Kompas Cetak, Kompas.com, Radio Sonora, dan KompasTV.

Namun, integrasi itu tidaklah mudah. Yang telah dicoba masih pada pemberitaan yang sifatnya momentum seperti saat peliputan olah raga dalam piala dunia, Harian Kompas bisa mengisi tulisan di unit lain.

"Saat ini yang tengah dicoba integrasi antara tim medsos, desk olahraga dan desk humaniora," ujarnya.

Menurut Bakir, Harian Kompas itu merupakan pondasi utama sehingga kualitasnya terus dipertahankan. Mulai dari produk gaya tulisan maupun sumber daya manusianya.

"Kami (Kompas Cetak) kan butuh berpikir, pendalaman, dan perenungan dalam setiap mengeluarkan sebuah produk berita maupun program. Ini yang belum bisa ketemu dengan radio, TV dan com," ujarnya.

Dia menceritakan, dari segi rekrutmen reporter atau karyawan saja sudah berbeda. Harian Kompas masih menggunakan idealisme menggembleng reporter selama setahun sebelun nantinya diterima jadi reporter Kompas.

"Selama setahun itu per tiga bulan masuk kelas, terus tiga bulan ke depannya ke lapangan. Satu reporter dibimbing dua mentor," kata Bakir.

Pola semacam ini untuk menghindari kualitas SDM yang intans. Kata Bakir, berbeda dengan TV atau di Radio yang bisa keluar masuk atau cepat saja cari karyawan.

Namun, era digital memang tidak bisa dipungkiri. Harian Kompas sadar bahwa koran perlahan mulai ditinggalkan. Maka dari itu digitalisasi koran Kompas telah dimulai. Kompas.id merupakan salah satunya.

"Kelebihan kompas.id adalah bahan baku lama dimasak lagi. Digitalisasi ini juga bagian dari inovasi menarik kembali pembaca koran. Jadi yang berlangganan koran juga bisa dapat bonus digital," katanya.

Sampai saat ini, Harian Kompas memiliki 800 karyawan. Untuk total dalam satu grup ada 22 ribu karyawan. Oplah Harian Kompas sebanyak 400 ribu eksemplar setiap hari, kecuali hari Sabtu dan Minggu 500 ribu eksemplar.

"Mungkin bulan Juni 2017 bangunan Menara Kompas akan ditempati, itu salah satu dimulainya konvergensi," katanya.

Di unit penerbitan, Kompas Grup mengeluarkan 10 ribu judul buku dalam setahun. Penerbitnya meliputi Kompas, M&C, Grasindo, BIP, Elex Media Komputindo, KPG, Gramedia. Selain unit penerbitan masih banyak unit lain termasuk properti dan perhotelan.

Dalam konteks mempertahankan idealisme, Bakir mengatakan, Suara Surabaya juga harus mampu menjadi kawan masyarakat yang baik. Suara Surabaya harus lebih energik lagi dalam mencarikan solusi bagi masyarakat melalui informasi dan gaya jurnalisme warganya.

Sekadar diketahui Tim Suara Surabaya Media melaksanakan program Kunjungan Profesional untuk menambah wawasan, berdiskusi, dan menjalin relasi dengan berbagai perusahaan dan lembaga. Kali ini tujuannya Jakarta.

Pada Jumat (17/3/2017) sebanyak 6 crew Suara Surabaya Media ke Jakarta berkunjung ke MNC News Centre di Jl. Kebon Sirih yang merupakan kantor pusat pemberitaan terpadu MNC Media yang meliputi pemberitaan media televisi, radio, media cetak, dan media online. Kunjungan dilanjutkan ke kantor Redaksi Harian Kompas Jl. Palmerah Selatan No. 22 - 28 Jakarta.

Sehari sebelumnya pada Kamis (16/3/2017), tim Suara Surabaya Media juga melakukan Kunjungan Profesional di Korp Lalu Lintas (Korlantas) Polri di Jl. Letjen MT Haryono No. 37-38, Pancoran, Jakarta Selatan. Sehari bersama Irjen Polisi Royke Lumowa Kepala Korlantas Polri, tim SS Media menggali berbagai informasi dan program-program Korlantas, sekaligus menjalin silaturahmi.(bid/ipg)

Teks Foto:
1. Ray Wijaya Corporate Secretary MNCTV dan PT. Media Nusantara Citra Tbk (MNC) berdiskusi dengan Tim Suara Surabaya Media.
2. Tim Suara Surabaya Media di Studio RCTI bergaya ala pembaca berita Seputar Indonesia.
3. Suasana di ruang redaksi RCTI dan inews TV.
4. Mohammad Bakir Redaktur Pelaksana Harian Kompas saat berbagi ilmu mengelola media pada tim SS Media.
5. Bakir dan Rusdi mengajak tim SS Media melihat aktifitas di ruang redaksi Harian Kompas.
6. Arsip-arsip koran Kompas diolah tim Litbang Kompas, menjadi aset yang sangat berharga.
7. Tim SS Media foto bareng Muhammad Bakir Redpel dan Rusdi Amral Wakil Redpel Harian Kompas.
Foto: Tim Suara Surabaya Media
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.