KAMPOENG MEDIA

Inspirasi dari Kawan-kawan Kami di Jakarta

Laporan Eddy Prastyo | Rabu, 27 September 2017 | 17:41 WIB
suarasurabaya.net - Pergerakan perilaku konsumen media yang semakin cepat berubah membuat media ikut masuk dalam pusaran inovasi. Ketinggalan momentum untuk berubah menjadikan media menjadi tidak relevan tertelan perubahan. Ini yang menjadi insight perjalanan tim Suara Surabaya menemui beberapa kawan di Jakarta.

Perjalanan dimulai Senin (25/9/2017) di tempat hang out PT Kibar Kreasi Indonesia di Menara Kibar Jalan Raden Saleh no 46A, Jakarta. Kami berangkat dalam kelompok 10 orang diantaranya terdiri dari Wahyu Widodo Direktur Bisnis, Rommy Febriansyah Direktur Keuangan, Iwan Adi Nugroho Manager Marketing, Eddy Prastyo Manager New Media/Pimred www.suarasurabaya.net, Deni Saha GM M Radio, Adit Jufriansyah Penyiar Suara Surabaya, Arya Linggar Saputra Penyiar M Radio, dan Ayub Dahana Promotion Suara Surabaya Media.

Ini adalah sebuah co-working space yang baru saja dihuni sejak 2 bulan lalu. Menara Kibar, menurut Jansen Kamto CEO Kibar, dibangun sebagai tempat membantu anak-anak muda kreatif Indonesia mewujudkan cita-cita mereka dengan semangat kolaborasi.

Tim Suara Surabaya benar-benar bisa merasakan ambiance kreatif di gedung 8 lantai itu. Setiap sudut ruang di berbagai lantai adalah arena unjuk kreativitas anak-anak muda yang ditemukan oleh Jansen Kamto. Karya mereka pun mampu menimbulkan decak kagum, bukan hanya pada sisi estetik, tapi juga manfaat sosial. Diantara ide kreatif yang direalisasikan secara kolaboratif itu, Kreavi. Ini adalah platform yang berhasil mengumpulkan puluhan ribu desainer di seluruh Indonesia. Bukan hanya unjuk kreasi di platform ini, mereka juga menghasilkan rupiah lewat dampak yang mereka ciptakan secara kolaboratif.

"Mengesankan...bagaimana mereka berkolaborasi, menuangkan ide, menciptakan manfaat, sampai merumuskan dampak bisnis dari aktivitas mereka," kata Wahyu Widodo Direktur Suara Surabaya Media.

Kesempatan di Menara Kibar benar-benar dimanfaatkan Suara Surabaya Media dan perusahaan afiliasi Google di Indonesia ini untuk saling mengisi peran pada tujuan yang sama, manfaat positif buat masyarakat.

Hari berikutnya, rombongan kami punya janjian bertemu dengan kawan-kawan dari Liputan6.com. Diawali dari kunjungan satu diantara redaktur pelaksana liputan6.com ke Kampoeng Media Suara Surabaya beberapa pekan sebelumnya. Kami melihat ada banyak kesamaan antara kami dengan liputan6.com. Kunjungan ini ingin kami gunakan sebesar-besarnya untuk saling mengenal.

Di SCTV Tower, kami diterima oleh unsur manajemen liputan6.com, diantaranya Karaniya Dharmasaputra Presiden Direktur Liputan 6.com, Mohamad Teguh Editor in Chief Liputan6.com, Indosiar, SCTV, Bintang.com, dan Bola.com. Unsur-unsur rdaksi lain yang menerima kami, Irna Gustiawati Redaktur Eksekutif dan Harun Mahbub Koordinator Daerah.

Bersama liputan6.com, kami menemukan banyak insight menarik tentang praktik jurnalisme di dunia digital. "Kami sama-sama belajar. Terus terang, kami terinspirasi dengan corporate culture Suara Surabaya yang kental dengan misi-misi sosialnya, tapi juga hebat dalam bisnis media," kata Harun Mahbub Koordinator Daerah.

Dalam obrolan sambil minum kopi di sebuah cafe Senayan City, kami dan liputan6.com, menemukan hal-hal yang bisa ditindaklanjuti bersama kaitannya dengan pengembangan konten digital. Ini adalah upaya untuk saling memberikan manfaat. Kami yang di Surabaya bisa memberikan informasi pada audience secara nasional lewat kanal liputan6.com, tapi di sisi lain, apa yang kami punya di Suara Surabaya bisa digunakan oleh kawan-kawan di liputan6.com.

Pada giliran berikutnya, kami berkunjung ke markas grup radio Masima, Jl. Adityawarman, kawasan Blok M, Jakarta. Di sana berkumpul beberapa radio iconic Jakarta, diantaranya Prambors FM, Female Radio, dan Delta Radio. Chandra Novriadi Komisioner Masima menemui kami siang itu.

Di pertemuan dengan Bang Chandra inilah kami bisa menemukan tautan dari insights yang kami dapatkan dalam perjalanan kami sebelumnya. Tentang bagaimana industri radio di persimpangan jalan digital. "Perilaku konsumen radio sudah berubah dalam kecepatan yang sangat tinggi karena kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Dulu sebelum ada booming internet, saat tidak banyak pilihan media, radio sangat leluasa memanfaatkan ruang. Sekarang, radio harus lebih inovatif," kata Chandra.

Menurut Chandra, stasiun-stasiun radio sekarang tidak punya banyak pilihan. Diantara sedikit pilihan yang diambil adalah dengan menguatkan konten siaran. "Kami di radio tentunya berbeda size industrinya, misalnya dengan televisi atau digital. Karena itu strategi menghadapi disrupsi digital pun harus tepat dan realistis, dan itu adalah...konten," tegasnya.

Rangkaian jadwal kami menemui kawan-kawan di Jakarta berakhir di Tempo Media kawasan Palmerah Barat, Jakarta Selatan. Waktu yang tersisa di Tempo Media ini kami manfaatkan untuk saling mamanfaatkan peran yang dimiliki masing-masing pihak. Menurut Wahyu Widodo Direktur Bisnis Suara Surabaya ada semangat dan chemistry yang sama saat Suara Surabaya dan Tempo beberapa kali berkomunikasi. Komunikasi kali inipun cukup produktif dan strategis buat Suara Surabaya dan Tempo Media karena ada sejumlah kesepahaman untuk saling memanfaatkan ruang dan peran masing-masing untuk meningkatkan dampak positif masyarakat.

Di Tempo Media ini, kami bertemu dengan Arif Zulkifli Pimred Majalah Tempo dan B. Demiat S. Dasuki Head Marketing Communication.

Dari perjalanan 2 hari menyaksikan sendiri geliat kawan-kawan kami berubah adalah inspirasi yang tak ternilai harganya. Membuat kami tahu bahwa ada jalan lain yang harus kami lewati di depan, tanpa harus menghapuskan jejak kami di belakang.(edy)

Teks Foto :
1. Tangga di Menara Kibar
2. Tim Suara Surabaya Media di Menara Kibar
3. Meeting dengan tim Tempo Media
Foto : Eddy suarasurabaya.net


Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.