suarasurabaya.net| Di warung MBAK NANIK yang berlokasi di Sidoarjo. Ceker ayam ini diolah menjadi beragam rasa, ada ceker ayam rica-rica, balajo, gulai, bakar sidoarjo, asam manis, mentega, sop, dan crispy.
Menu ceker yang paling populer, kata Mbak Nik adalah Ceker Lapindo.
Bukan semata-mata sensasi namanya yang identik dengan lumpur Lapindo, tapi rasanya juga paling berbeda dibanding lainnya. Keistimewaanya pada rasa pedasnya yang luar biasa. “Pedas sekali memang, kalau makan pasti langsung gobyos kemringet karena kepedasan,” jelasnya.
Rasa pedas ini dihasilkan dari campuran cabai rawit dan cabai merah, lalu dipadukan dengan bumbu rahasia. Pedasnya benar-benar menantang.Hebatnya lagi, meski sudah jelas super pedas, peminatnya justru paling banyak.
“Hmm.. gimana ya, biar pedas tapi cekernya terasa lembut, bumbunya merasuk sampai ke tulangnya,” tutur BUDI, salah satu pembeli yang mempunyai dua menu favorit, yaitu ceker Lapindo dan pepes ceker.
Pepes ceker ini juga tak kalah banyak penggemarnya. Potongan ceker diolah dengan bumbu pepes dan taburan daun kemangi lalu dibungkus daun pisang. Aroma harumnya langsung menggoda penciuman.
Bagi yang tidak suka pedas, bisa memilih ceker ayam asam manis dan ceker ayam sop. Rasanya segar mirip sup tom yam Thailand. Pilihan lainnya, ceker metega, rasa manis berpadu denga gurihnya metega mampu membuat lidah berdecap kenikmatan.
Usaha yang dimulai sejak 2009 ini membutuhkan 60 kilogram ceker ayam setiap hari. Sejak awal, NANIK sudah fokus untuk menjual ceker saja, karena memang ingin menyajikan sesuatu yang berbeda dengan penjual lainnya.
Sensasi kaki ayam yang nikmat ini, harganya cukup merakyat. Satu porsi menu ceker ini dihargai Rp 7 ribu, sehingga tidak heran jika warung ceker ini selalu ramai pembeli.