suarasurabaya.net

Peneliti Indonesia Mendominasi Karya Ilmiah ASEAN-Eropa
Laporan Ika Suryani Syarief | Senin, 15 Februari 2016 | 15:45 WIB

suarasurabaya.net| Para peneliti dari sejumlah universitas di Indonesia mendominasi presentasi hasil karya ilmiah yang dipaparkan dalam pertemuan jaringan akademisi dari Asia Tenggara dan Eropa atau ASEA Uninet yang digelar di Bali.

"Dari 67 karya ilmiah yang diseleksi dari 81 karya, 52 di antaranya merupakan karya ilmiah Indonesia," kata Prof Ketut Suastika Presiden ASEA Uninet 2014-2016, ditemui usai membuka pertemuan internasional itu di Kampus Universitas Udayana, Kabupaten Badung, Senin (15/2/2016).

Sebanyak 52 karya ilmiah, lanjut Rektor Unud itu, sebagian besar merupakan karya yang dibuat oleh akademisi dengan latar belakang ilmu sains dan teknologi.

Universitas yang memaparkan karya ilmiah itu di antaranya berasal dari Universitas Udayana, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Sepuluh November, Universitas Sumatera Utara, Universitas Airlangga, dan Universitas Diponegoro.

Sementara itu sisanya merupakan presentasi dari akademisi internasional di antaranya dari Universitas Salzburg Austria, University of the Philippines, University of Information Technology Vietnam, National Economics University Vietnam, Chulalongkorn University Thailand, Wroclaw University of Economics Polandia, University College London, Inggris serta dari Vientiane, Laos.

Karya tulis ilmiah itu dibagi menjadi lima kelompok bidang yaitu bidang sains dan teknologi, budaya dan musik, ekonomi dan sosial, kesehatan dan kedokteran serta bidang maritim.

Suastika mengharapkan melalui wadah akademisi internasional itu, hasil karya anak bangsa bisa lebih dikenal luas oleh dunia.

"Kami berharap bisa membuat jurnal ilmiah. Kami sudah banyak membuat kolaborasi riset," ucapnya, seperti dilansir Antara.

Meski demikian, pihaknya mengharapkan akademisi dan peneliti dari Indonesia dan negara di ASEAN lainnya menghasilkan lebih banyak penelitian khususnya di bidang kedokteran yang dinilai masih belum begitu banyak.

Apalagi selama ini penelitian terkait kedokteran masih dari negara barat sedangkan sejumlah penyakit di negara berkembang tidak sama pendekatannya dengan negara barat.(ant/iss/ipg)

SS TODAY LAINNYA

top