SURABAYA: 24-34 °C (Hujan)
Kamis, 17/05/2012
Kurs USD 17/05/2012 13:17:40
jual: Rp 9.326,00 | Beli: Rp 9.234,00
Google suarasurabaya.net
userlogin:
Daftar Lupa Password?
Soerabaja Tempoe Doeloe

 

Kembang Djepoon
  • Ir.sri Warasto, Surababaya Nyawa Manusia Agaknya Sudah Tidak Menjadi Persoalan Yang Sangat Prinsip Di Negara Kesatuan Republik ... [detil]
  • Bursakarir.com, Surabaya Radio Streaming Suara Surabaya Sangat Terdengar Jelas. Thanks Info Yg Up To Date :) ----- Teri... [detil]

Referensi Kesehatan

Rumah Sakit Mata Undaan
ENTROPION, Dr. Yana Rosita, SpM Entropion adalah suatu keadaan melipatnya kelopak mata bagian tepi atau margo palpebra kearah bola mata. [detil]

Rumah Sakit Darmo
Imunisasi, Perlukah …? (bag 2), Pada edisi bulan yang lalu sudah kita fahami pentingnya imunisasi/vaksinasi bagi bayi dan anak-anak kita, sehingga dapat terhindar dari bahaya komplikasi penyakit infeksi yang ganas yang mematikan atau meninggalkan cacat fisik maupun mental seumur hidupnya. [detil]

Kampoeng Media
Sosialisasikan Sidoarjo SIAP 24 Jam, Kodim 0816 Berkunjung ke SS Dalam rangka ingin memberikan informasi mengenai kegiatan-kegiatan di institusinya, Komandan Kodim 0816 Sidoarjo ke Suara Surabaya Media, Rabu (16/5/2012).
Sajian Kuliner
Ada Angry Birds di Hot Cappucino Saksikan para barista unjuk kebolehan dalam meracik kopi tingkat tinggi dalam menghias kopi, dengan tambahan, bubuk kopi, coklat dan sebagainya.
Resensi Buku
Suara Surabaya Bukan Radio Keberadaan SS sangat fenomenal. SS pada titik awal contoh sukses industri radio. Buku Suara Surabaya Bukan Radio menuliskan semangat perjalanan itu.
Jaring Radio
Optimis Penuhi Target Kelulusan 100 Persen DR H Sjahrazad Masdar, MA Bupati Lumajang optimis pelaksanaan UN (Ujian Nasional) di Kota Pisang akan memenuhi target 100 persen kelulusan.

  Search
Google
 
 

Oase Ramadhan

31 Agustus 2011, 16:14:17

Uswah - YDSF

Alhamdulillah, Kita Sudah Punya Teladan

suarasurabaya.net| Oleh: Zainal Arifin Emka

“Orang tua itu seneng ngomong ya Ma, ceramah, memberi nasihat?!”
“Loh, ada apa ini!?” tegur Ibu.
“Putri benar-benar jengkel lo Mam. Diklat Kepemimpinan tadi isinya cuma pidato. Mana pidatonya panjang dan laaamaaa, dan membosankan. Pokoknya menyebalkan!” kata Putri dengan nada tinggi.

“Memangnya apa isi pidatonya?” tanya Ibu mencoba menenangkan.
“Ndak menarik Mam! Ngomong tok!!”
“Masak separah itu Put. Mungkin karena kamu ndak paham.”
“Ya paham lah Mam. Tentang nilai-nilai nasionalisme, patriotisme, kejujuran, keadilan. Macam-macam lah! Semua omong kosong!”
“Jangan sinis begitu, tidak baik. Ambil positifnya.”
“Ndak ada Mam!”
“Ada! Bergantung cara kamu memandangnya. Contoh Nabi Isa. Ketika dalam suatu perjalanan melewati bangkai keledai, para sahabat beliau menutup hidung seraya bergumam: ‘Alangkah busuknya bau bangkai ini.’ Namun Nabi Isa berkata: ‘Alangkah putih gigi keledai itu.’ Pesannya, lihatlah sisi baiknya.”

“Ya juga sih, isi ceramahnya baik. Cuma anak muda seperti aku ini kan lebih memerlukan teladan. Pimpinan pemerintahan dan elite politik yang ada di depan mata kita ini lebih sibuk dengan kepentingannya sendiri, bahkan banyak yang terjerat kasus korupsi.”
Ibu menyimak dengan seksama penuturan putrinya. Sesekali beliau mengangguk membuat Putri makin bersemangat. “Terus.....,” tutur Ibu.

“Akibatnya, siswa berpandangan, pendidikan karakter dan nilai-nilai kebaikan yang ditanamkan di sekolah hanya jadi sekadar wacana. Kami merasa dibohongi. Kami hanya mendengarkan materi tentang karakter baik, kejujuran, dan patriotisme, tetapi gagal menemukan sosok teladan dalam kehidupan nyata,”

“Banyak anak muda mengaku gagal meresapi nilai-nilai yang diberikan guru menyangkut kejujuran, pengorbanan kepada sesama, dan toleransi karena berbeda jauh dengan fakta yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari,” kata Putri.

”Ya, Mama tidak setuju kalau selama ini guru selalu disalahkan karena seolah tidak memberikan pendidikan karakter kepada muridnya. Orang lupa, pendidikan yang baik bukanlah di depan kelas, melainkan keteladanan. Contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Ibu.

“Putri pikir banyaknya anak muda yang suka main kekerasan karena mereka terpengaruh kekerasan yang ditunjukkan para pemimpin sekarang ini. Anak muda kan berada dalam usia yang sedang mencari identitas dan sosok teladan.”

”Pemerintah memang perlu serius menangani persoalan pendidikan karakter. Namun yang lebih penting adalah menghadirkan sosok panutan,” Ibu menimpali.

“Benar Mam. Coba lihat, negara-negara seperti Amerika, Inggris, Perancis yang modern, nyatanya menjual ide demokrasi dengan kekerasan. Di Libya mereka mempersenjatai pemberontak. Katanya negara tak boleh kalah. Gimana sih?!”
“Lo lo lo, kok lari ke Libya segala?!”

“Realitas seperti itu membingungkan kami-kami, Mam!” kata Putri.
“Realitas itu direspon kalangan muda dengan berbagai sikap. Ada yang bersikap counter-agresif, pasif, dan ada juga yang hanya mengikuti arus. Mereka yang memilih sikap counter-agresif, ada kecenderungan menggunakan kekerasan dan radikalisme. Semakin banyaknya tindakan korupsi, menjadi humus bagi munculnya tindakan kekerasan, agresif, dan radikal itu.”

“Sekarang kok malah kamu yang pidato!” seloroh Ibu.
“Dari pengakuan remaja yang terlibat tawuran atau pelaku tindak kekerasan dan teror bom, salah satu yang mendorong mereka berbuat destruktif adalah kekecewaan terhadap kinerja pemerintah dan partai politik serta menurunnya wibawa tokoh agama atau ulama. Hampir tiap hari muncul berita korupsi, pelakunya pun dari berbagai kalangan termasuk agamawan. Pokoknya merata!”

“Benar. Krisis moral dan keteladanan telah membuat sebagian generasi muda tak lagi bangga pada pemerintah dan bangsa Indonesia. Ini memprihatinkan.”
“Kita ini miskin sosok pemimpin panutan yang bisa jadi idola kaum muda!”

“Sebagai seorang muslimah, sebenarnya kamu dan kita semua, sudah mempunyai sosok panutan, yaitu Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya,” tutur Ibu mantab.
“Kok mereka sih Mam. Itu kan masa lalu, sudah lewat.”
“Maksud Mama, kalau kamu tidak menemukan sosok teladan masa kini, kamu mesti ingat pada keteladanan sosok pemimpin seperti Muhammad yang sudah teruji dan terbukti kepemimpinannya. Setidaknya jadikan Fatimah sebagai panutan anak muda. Di situlah pentingnya kamu mempelajari perilaku, sikap, dan nilai-nilai yang diajarkan beliau. Ideologi beliau!”
“Kalau sebagai warga bangsa?”

“Sebagai warga Indonesia, ideologi itu ya Pancasila yang secara intrinsik disarikan dari nilai-nilai agama dan tradisi yang hidup di masyarakat. Sebagai ideologi bernegara, Pancasila semestinya jadi nilai hidup masyarakat Indonesia sehari-hari. Sayangnya para elite politik dan pemerintahan tidak menjaganya dengan serius dan tidak memberikan contoh yang baik bagaimana mewujudkannya dalam kehidupan berpolitik dan bernegara.”

“Ibarat rumah, saat ini jendela, pintu, dan pagar rumah Indonesia serba terbuka, bahkan banyak yang bocor dan keropos. Ideologi, budaya, dan orang asing mudah sekali masuk dari berbagai pintu, baik darat, laut, udara, maupun pintu maya,” celetuk Putri.
“Ya sudahlah. Kamu mulai saja dari dirimu sendiri. Biasakan dengan yang benar. Bukan membenarkan yang biasa!” (ydsf/ipg)

Share on Facebook


berita-beritalain

- arsip berita -

 

 

Home | Radio Online | Radio On Demand | Video Streaming | Kelana Kota | Politik | Ekonomi Bisnis | Olahraga | Info Teknologi |
Potret Kelana Kota | Peta Surabaya | Titik Nol | 28th Suara Surabaya | Oase Ramadhan | Opini | Konsultasi Kesehatan | SS Media | Faq | Kontak

 

© copyright suarasurabaya.net 2008, All Rights Reserved.