Oase Ramadhan
02 September 2010, 13:16:40
Uswah - YDSFBagikan Semuanya Untuk Warga!
suarasurabaya.net| Pada suatu malam seorang utusan dari Azerbaijan (negeri antara Iran & Rusia, Red.) datang ke kota Madinah untuk menjumpai amirul mukminin Umar bin Khathhab r.a. Namun karena hari telah larut malam, ia putuskan untuk tidur di Masjid Nabawi agar keesokan harinya bisa segera menghadap Umar r.a. Ketika hendak tidur, ia di kejutkan oleh suara orang tengah menangis di keheningan malam, memohon kepada Allah.
“Ya Tuhanku, aku sedang bersimpuh di depan pintu-Mu. Apakah Engkau menerima tobatku supaya aku bisa mengucap selamat kepada diriku atau Engkau menolaknya supaya aku menyampaikan ungkapan duka cita kepada diriku?” Utusan dari Azerbaijan tersebut amat tertarik dengan kalimat-kalimat yang ia dengar. Perlahan ia mendekat dan bertanya, “Wahai saudaraku, jika aku boleh tahu siapakah dirimu?”
Di tengah keheningan dan gelapnya malam, orang tersebut menjawab, ”Aku Umar bin Khathab.” Utusan Azerbaijan terkejut bukan kepalang. Ia tidak menyangka bahwa yang dijumpainya malam hari itu adalah sang khalifah. Segera ia memperkenalkan diri kepada Umar.
“Semoga Allah merahmatimu,” kata Umar. “Aku takut bila tidur semalam suntuk akan menghilangkan diriku di hadapan Allah dan jika aku tidur sepanjang siang hari berarti menghilangkan diriku di hadapan rakyat,” tutur Umar.
Menolak Hadiah
Seusai shalat Subuh, Umar mengajak tamunya singgah ke rumah. Ia berkata kepada istrinya, “Wahai Ummu Kultsum, suguhkan makanan yang ada. Kita kedatangan tamu jauh dari Azerbaijan.”
“Kita tidak mempunyai makanan, kecuali roti dan garam,” jawab istri Umar.
“Tidak mengapa,” kata Umar. Akhirnya keduanya hanya makan roti dan garam.
Seusai makan, Umar bertanya apa maksud kedatangan utusan itu. “Gubernur Azerbaijan menyuruhku menyampaikan hadiah ini untuk Amirul mukminin,” kata utusan Azerbaijan sembari menunjukkan sebuah bungkusan. “Bukalah bungkusan itu, lihat apa isinya!” perintah Umar.
Setelah dibuka, ternyata berisi gula-gula. “Ini adalah gula-gula asli buatan Azerbaijan,” utusan itu menjelaskan.
“Apakah semua kaum muslimin mendapatkan kiriman gula-gula ini?” tanya Umar.
Utusan itu tertegun atas pertanyaan Umar, kemudian menjawab, “Oh tidak, Baginda… Gula-gula ini khusus untuk amirul mukminin.”
Mendengar jawaban itu, Umar tampak amat marah. Segera ia memerintahkan kepada utusan Azerbaijan untuk membawa gula-gula tersebut ke masjid dan membagi-bagikannya kepada fakir miskin.
“Barang ini haram masuk ke dalam perutku kecuali jika kaum muslimin memakannya juga,” kata Umar dengan marah, “Dan engkau cepatlah kembali ke Azerbaijan. Beritahukan kepada yang mengutusmu jika ia mengulangi peristiwa ini kembali, aku akan memecat dari jabatannya!” ancam Umar (dalam Tegar di Jalan Dakwah, subbab Tegar di Puncak Kekuasaan, Era Adicitra 2009, hlm 228-232).
Di kesempatan lain, Umar tengah meninjau unta-unta sedekah. Di antara kerumunan unta, ia melihat ada seekor unta gemuk yang berbeda dari unta-unta lainnya. “Milik siapakah ini?” tanyanya. “Ini milik putramu, Abdullah,” jawab seseorang.
Umar segera memanggil Abdullah ke tempat itu. “Berapa kau beli unta ini?” tanya Umar. Abdullah pun menyebutkan sejumlah harga tertentu. “Jika engkau menjual unta-untamu, kau hanya boleh menerima uang modalmu dan kelebihannya harus diberikan kepada Baitul Maal (kas negara, Red.),” ucap Umar.
Menjaga Perasaan Umat
“Mengapa demikian Ayah?” protes Abdullah. Umar menjawab, “Orang-orang mengatakan, ’Ini unta putra amirul mukminin, maka biarkanlah ia makan dan minum sepuas-puasnya. Jangan ada yang mengganggu.’ Jadi, engkau hanya berhak menerima harga pembeliannya saja, sedangkan kelebihannya diserahkan untuk Baitul Maal,” jawab Umar r.a. Mendengar penjelasan ini, Abdullah hanya bisa pasrah.
Umar berusaha menjaga perasaan dan sensitivitas rakyat terhadap keluarganya. Ia melihat di antara kerumunan unta yang biasa-biasa saja, terdapat seekor yang lebih gemuk dari lainnya. Ternyata itu adalah unta milik Abdullah bin Umar. Segera terbayang di benak Umar bahwa unta Abdullah bisa gemuk karena mendapatkan perlakuan istimewa dari masyarakat.
Apabila unta Abdullah bin Umar tengah makan, tidak akan diganggu oleh kerumunan unta lain milik masyarakat karena demi menghormati keluarga khalifah. Hal seperti inilah yang menyebabkan unta Abdullah lebih gemuk dibandingkan dengan unta milik orang lain. Dengan demikian, berarti unta Abdullah bisa gemuk karena ’fasilitas’ yang diberikan secara khusus oleh masyarakat.(oq/ydsf/ipg)