SURABAYA: 23 - 32 °C (Berawan, Hujan)
Sabtu, 04/02/2012
Google suarasurabaya.net
userlogin:
Daftar Lupa Password?
Soerabaja Tempoe Doeloe

 

Kantor Gubernur
  • Hartoyo, Surabaya Selamat Pagi..semuanya..minta Tolong Dunk Yang Tau Jalan Pintas Melewati Porong...soalnya Mau Ke Kep... [detil]
  • Mochammad Umar Said, Surabaya Halo Suara Surabaya Radio Paling Sensasional Di Surabaya Dan Sekitarnya Salam Hangat Dari Saya... [detil]

Referensi Kesehatan

Rumah Sakit Mata Undaan
ENTROPION, Dr. Yana Rosita, SpM Entropion adalah suatu keadaan melipatnya kelopak mata bagian tepi atau margo palpebra kearah bola mata. [detil]

Rumah Sakit Darmo
Oase Kesehatan di Tengah Kota, Di usianya ke-91, RS Darmo kian menegaskan diri sebagai rumah sakit jejaring pendidikan dan hospital tourism. [detil]

Kampoeng Media
Ingin Dapat Iklan Banyak, R-lisa Belajar ke SS Awalnya dengar info jika Radio SS income dari iklan tinggi, akhirnya crew R-lisa pun tertarik belajar spesifik marketing, karena ingin dapat iklan banyak.
Sajian Kuliner
Pecel Murni Bu Yuning Meskipun namanya sama, pecel ternyata banyak versinya. Misalnya pecel Blitar, Nganjuk, Kediri, Ponorogo sampai Madiun. Inilah keunikannya.
Resensi Buku
Suara Surabaya Bukan Radio Keberadaan SS sangat fenomenal. SS pada titik awal contoh sukses industri radio. Buku Suara Surabaya Bukan Radio menuliskan semangat perjalanan itu.
Jaring Radio
Status Vulkanik Semeru Ditingkatkan Menjadi Siaga PVMBG akhirnya menetapkan status aktivitas vulkanik Gunung Semeru yang sebelumnya berada pada Level Waspada Level 2 menjadi Siaga Level 3.

  Search
Google
 
 

Opini

Kategori: Sosial

05 Desember 2011, 17:31:01
Opini: Dr. Amien Widodo

Panen Bencana Akibat Iklim

suarasurabaya.net| Hujan datang, ancaman longsor, banjir bandang dan banjir mulai menerjang di berbagai daerah di Indonesia. Masyarakat yang bermukim di pegunungan sampai dataran mulai menyiapkan diri menghadapi bencana tahunan ini.

Kemungkinan kejadian bencana klimatologis di Indonesia hampir dipastikan terjadi setiap tahun bersamaan dengan datangnya musim hujan dan dipastikan selalu berdampak atau menyebabkan kerusakan, korban dan kerugian ekonomi.

Dengan kata lain bencana klimatologis mempunyai probalitas kejadian tinggi dan berdampak besar maka bencana klimatologis dapat dikategorikan sebagai bencana berisiko tinggi. Selama ini dalam pembuatan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) tidak pernah memperhatikan adanya risiko ini sehingga dampak akan terus berjatuhan apabila tidak dilakukan tindakan-tindakan sebelum,
saat dan sesudah terjadi bencana.

Undang Undang No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana (UU PB) mengamanatkan bahwa penyelenggaraan penanggulangan (manajemen) bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi. Sedangkan pasal 4 antara lain menyebutkan bahwa
penanggulangan bencana bertujuan untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman bencana; dan menjamin terselenggaranya penanggulangan bencana secara terencana, terpadu, terkoordinasi, dan menyeluruh serta membangun partisipasi dan kemitraan publik serta swasta.

Pasal 5 dan 6 antara lain menyebutkan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah menjadi penanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana, dengan tanggung jawab melakukan pengurangan risiko bencana dan pemanduan pengurangan risiko bencana dengan program pembangunan dan melakukan perlindungan masyarakat dari dampak bencana. Berdasarkan UU PB ini pemerintah (pusat dan daerah) harusnya melakukan berbagai upaya mitigasi untuk mengurangi risiko bencana klimatologis yaitu melakukan berbagai upaya mitigasi baik struktural maupun non struktural sehingga risiko korban bisa dihindari. Dan upaya pengurangan risiko bencana itu mestinya dilakukan jauh hari sebelum musim hujan datang.


Kenapa kita rentan bencana klimatologis (longsor, banjir bandang, banjir dan puting beliung)?

Mungkin kita bisa menengok pepatah lama ”SIAPA MENANAM AKAN MENGETAM”, siapa merusak lingkungan, akan menerima akibatnya. Sudah diketahui bersama sejak tahun 1998 sampai sekarang terjadi penebangan hutan secara brutal hampir di seluruh wilayah pegunungan di Indonesia. Dikatakan brutal karena ditebang seakar-akarnya karena lahan akan dipergunakan sebagai lahan pertanian dan karena akarnya ada yang membeli. Saat ini kerusakan hutan
sudah sangat parah dan sudah sangat luas (sudah plonthos) dan masyarakat yang bermukim di kawasan pegunungan merasakan ketakutan dan was-was akan terjadi longsor di wilayahnya, demikian pula dengan masyarakat yang bermukim di bantaran sungai yang kawatir terkena banjir.

Saat kita masih duduk dibangku sekolah dasar kita selalu diberitahu bahwa hutan di pegunungan sangat penting artinya dalam menjaga ekosistem kita.

Vegetasi di pegunungan berfungsi menjaga kesimbangan ekosistem melalui berbagai hal diantaranya kanopi dan sersahnya berfungsi sebagai menahan energi hujan, sehingga butiran hujan tidak langsung menerpa tanah sebab kalau menerjang langsung ke permukaan tanah maka tanah akan terberai dan akan tererosi. Sersah pohon bersama tubuh pohon dan akarnya akan menahan
air dan meneruskan air hujan merembes ke dalam tanah untuk mengisi cadangan air tanah dan mata air di wilayah tersebut.

Disamping itu air yang tersimpan di bawah akar juga akan ditransfer ke seluruh tubuh pohon dan diuapkan lewat daun (evapotranspirasi) bersamaan dengan proses fotosintesis. Fotosintesis berjasa menghasilkan sebagian besar oksigen yang terdapat di atmosfer bumi. Akar pohon dalam upayanya mencari makanan mempunyai kemampuan untuk menerobos, memecahkan dan melapukkan batuan yang ada di dalam tanah sehingga unsur-unsur hara tanah yang ada dalam batuan bisa diserap oleh akar dan didistribusikan keseluruh badan pohon sampai ke daun-daun. Makin lapuk batuan makin banyak tersedia hara makanan yang dibutuhkan vegetasi sehingga karena bertambahnya waktu maka tanah hasil pelapukan akan menebal.

Agar tanah tidak longsor maka akar tunggang pohon berfungsi sebagai pancang (anker) yang memaku tanah pada batuan dasarnya, sedangkan akar serabutnya berfungsi mengikat butiran tanah agar tidak longsor.

Penebangan hutan besar-besaran menyebabkan air hujan tidak akan meresap tapi lebih banyak mengalir sebagai air pemukaan dan tanah di lereng semakin lama tidak terlindungi. Tidak adanya air yang meresap terjadi pengurangan jumlah mata air dan terjadi peningkatan aliran air permukaan yang akan diikuti peningkatan intensitas erosi tanah permukaan yang bisa mencapai ribuan kali lipat. Air permukaan mengerosi tanah dan akan membawa tanah ini masuk ke badan sungai sehingga terjadi sedimentasi.

Sedimentasi akan mendangkalkan sungai sehingga saat turun hujan berikutnya alur sungai tidak muat dan air akan meluap sebagai banjir. Dampak penggundulan hutan yang paling mengerikan adalah terjadi longsor dan diikuti banjir bandang.

Pada tahun 2002 terjadi hujan dengan intensitas sangat tinggi di Indonesia, air hujan akan menyebabkan terjadinya penambahan beban dan pengurangan kohesi material lereng sehingga terjadi longsor dengan intensitas sangat besar di beberapa tempat di Indonesia. Longsor ini berubah menjadi banjir bandang karena masuk ke lembah sungai. Tahun-tahun berikutnya panen bencana seperti terjadi pengurangan separo lebih dari jumlah sumber air (mata air) dan peningkatan intensitas bencana erosi, longsor, banjir, banjir bandang dan angin puting beliung.


Apa yang harus dilakukan?

Bagi pemerintah ada banyak cara yang perlu dilakukan dalam pengurangan risiko bencana tanah longsor antara lain mengurangi intensitas ancaman longsor (mitigasi) yang sering dilakukan antara lain:
(1) mengurangi volume material yang akan longsor sehingga material lereng dalam posisi stabil;
(2) memindahkan dan atau mengarahkan material yang akan longsor ke tempat yang berisiko kecil;
(3) melakukan rekayasa vegetasi (bioengineering) dengan jalan menanam stek batang pohon yang bisa hidup (live fascine) pada tanah yang akan longsor dengan tujuan agar di sepanjang batang pohon yang terpendam keluar akar yang akan mengikat tanah;
(4) melakukan rekayasa teknologi dengan memasang geogrid dan membuat tembok penahan;
(5) membuat check dam di sungai untuk menahan laju longsoran yang masuk ke sungai agar tidak terjadi banjir bandang;
(6) memasang alat peringatan dini yang dipahami masyarakat sekitar;
(7) memberdayakan masyarakat di sekitar lereng agar waspada setiap musim hujan datang dan tidak melakukan hal-hal yang menyebabkan lereng menjadi tidak stabil.

Pemberdayaan masyarakat sadar bencana mestinya dilakukan dengan jalan membangun kesiapsiagaan terpadu antara pemerintah, masyarakat dan sektor swasta yang ada di sekitar lokasi rawan longsor. Kesiapsiagaan ini menyiratkan masyarakat sebagai subyek bukan obyek seperti yang selama ini kita lakukan.

Nantinya ada keterpaduan antara masyarakat yang terpapar dengan pemerintah dan pihak swasta, sehingga masyarakat bisa melaporkan kalau melihat tanda-tanda tanah mau longsor seperti:
(1) ada longsor-longsor kecil,
(2) retakan-retakan di tanah dan di tembok/pagar,
(3) pohon yang tumbuh miring atau tiang listrik miring,
(4) pohon yang terangkat dan terlihat akarnya,
(5) dll) dan pemerintah segera menindak lanjuti laporan masyarakat dengan melakukan hal-hal yang untuk mencegah/menghambat tanah longsor.

Pemberdayaan masyarakat sangat penting untuk meningkatkan ketangguhan dalam menghadapi bencana mengingat setiap terjadi bencana selalu terjadi ada sebagian desa yang terisolasi dan karena sudah dibekali ilmu maka masyarakat yang terisolir bisa bertahan hidup dengan persediaan yang dipunyai.(awd/ipg)

Penulis: Dr. Amien Widodo
Peneliti Bencana ITS Surabaya
Email: amien [at] ce.its.ac.id

kirim komentar


komentarmember (0)

    - arsip komentar opini ini -


    opini-opinilain

    - arsip opini -

     

     

    Home | Radio Online | Radio On Demand | Video Streaming | Kelana Kota | Politik | Ekonomi Bisnis | Olahraga | Info Teknologi |
    Potret Kelana Kota | Peta Surabaya | Titik Nol | 28th Suara Surabaya | Oase Ramadhan | Opini | Konsultasi Kesehatan | SS Media | Faq | Kontak

     

    © copyright suarasurabaya.net 2008, All Rights Reserved.