WISATA BUDAYA

6 Gereja Surabaya

Laporan AZ. Alim | Kamis, 13 Desember 2012 | 11:43 WIB
suarasurabaya.net - Bulan Desember mempunyai makna tersendiri bagi umat Nasrani. Momentum kelahiran Isa Almasih, berada di bulan penghujung tahun ini. Perayaan Natal terpusat pada ibadah Misa suci di Gereja-gereja.

Edisi Desember 2012 ini, Surabaya City Guide menyajikan rekaman dalam tulisan beberapa gereja dengan kekhasan eksotisnya, di Surabaya. Bangunan gereja ini memiliki keunikan yang mungkin perlu diketahui. Sedikitnya, kita bangga akan kekayaan arsitektural yang ada di Kota Surabaya.

1. GKI PREGOLAN BUNDER
Bangunan gereja yang kini berusia lebih dari 130 tahun ini merupakan bangunan peninggalan kolonial yang tetap kokoh berdiri hingga kini. Bangunan dengan gaya arsitektur Timur Tengah ini masih terjaga keasliannya, meski telah banyak dilakukan renovasi.

Berawal dari penginjil bernama Abraham Delfos yang dikirim Komisi Pekabaran Injil dari Belanda, mulailah sejarah Gereja Kristen Indonesia (GKI) Pregolan Bunder Surabaya. Sesampai di Surabaya, 1881, Abraham Delfos menyewa rumah di Niew Hollandstraat yang sekarang menjadi Jalan Kalisosok yang difungsikan sebagai tempat ibadah. Sembilan tahun kemudian, 1890, jemaat gereja berpindah ke Jl Johar Surabaya. Hingga kemudian berpindah lagi ke Pregolan Bunder pada 1920.

Sindu, Ketua Majelis GKI Pregolan Bunder, mengatakan sebenarnya pembangunan gedung gereja sudah dimulai sejak 1914 hingga selesai secara keseluruhan pada 1920. Dan setahun kemudian sudah difungsikan untuk kegiatan jemaat. Uniknya, bangunan gereja ini mengadopsi gaya arsitektur Timur Tengah, antara lain menggunakan bentuk kubah. Sekilas dilihat dari jauh seperti bangunan masjid. “Sehingga orang sekitar gereja menyebut bangunan ini sebagai gereja-masjid,” ujarnya.

Arsitektur bergaya Timur Tengah itu dikerjakan oleh arsitek Rijksen. Gara-gara gaya arsitektur inilah yang memunculkan peristiwa unik. Katanya, beberapa warga muslim pernah ada yang kecele hendak sholat di gereja ini karena dikira masjid.

Uniknya lagi, kata Priscilla, bagian pembangunan Gedung GKI Pregolan Bunder, denah bangunan ini juga sangat unik. “Bila dilihat dengan saksama, denah itu menunjukkan gambar salib di dalamnya,” terangnya.

Hebatnya, gedung yang dirancang Rijksen ini memiliki sistem akustik yang kuat. Pendeta yang berdiri di atas mimbar, tanpa menggunakan pengeras suara pun khotbahnya akan terdengar jelas di seluruh ruangan. Karena keunikan-keunikan itulah, gedung ini pun masuk cagar budaya.

Alhasil, bangunan GKI Pregolan Bunder ini merupakan salah satu bangunan peninggalan Kolonial Belanda yang masih bertahan hingga saat ini. Kondisi fisik arsitektur dan interiornya masih menunjukkan kondisi yang prima, meskipun sudah banyak dilakukan proses renovasi.

2. GEREJA SANTO YAKOBUS
Bergaya Romawi kuno, ketika yang lain memilih akulturasi. Berdiri dengan landasan kebutuhan umat demi sebuah rumah ibadah yang mandiri.

Pertumbuhan sosial masyarakat secara pesat bergerak ke arah Barat Surabaya. Kenyataan ini juga membawa perubahan bagi iklim umat beragama. Meningkatnya jumlah pemeluk agama Katolik juga menghadapi hal serupa. Kondisi demikian menggiring pada kebutuhan ketersediaan sarana ibadah yang memadai.

Hal tersebut ditangkap oleh Drs. Michael Utama Purnama MA, tokoh umat Katolik, dengan melontarkan gagasan mendirikan Gereja Katolik Santo Yakobus di kawasan CitraRaya.

Sejak akhir tahun 1995, pertama kali gagasan itu tercetus, pemasangan tiang pancang pertamanya baru dilakukan pada 25 Desember 1999.

Lokasinya dipilih di Jl. Puri Widya Kencana, tak jauh dari G-Walk. Lahan semula hanya seluas 2.000 m2 merupakan persembahan cumacuma dari Ir. Ciputra. Areal gereja itu kini menjadi 5.000 m2.

Arsitektural Gereja Santo Yakobus, secara umum bergaya Neoklasik. Bangunan utama sebagai rumah ibadah yang meliputi dua lantai. Bangunan itu terdiri dari dua ruang, ruang untuk umat, dan ruang untuk pemimpin ibadah atau yang disebut dengan Panti Imam.

Menurut Yakobus Subianto, pengurus Stasi Santo Yakobus, kepada Surabaya City Guide (SCG), stasi itu membangun gedung gereja dengan gaya bangunan jaman kuno.

”Sekarang sudah banyak bangunan gereja bergaya modern, atau sudah mengalami akulturasi. Tetapi kalau Gereja Santo Yakobus berkiblat pada gaya Romawi,” paparnya kala itu. Mulai dari detil bangunan eksterior hingga ornamen interiornya. ”Sengaja dibuat demikian, harapannya agar terkesan lebih sakral,” tegas Yacobus lagi.

Pada fasad bangunan juga tidak kalah menarik dengan bagian dalam yang didesain sangat detil dan penuh elemen. Bila pada bagian interior tampak beberapa patung di sisi samping, pada langit-langit berhias lukisan.

Pada altar gereja berdiri dua patung. Di sisi kanan berdiri patung Bunda Maria, dan di sisi kiri berdiri patung Yesus Hati Kudus, yang keduanya berwarna emas. Kedua patung tersebut konon merupakan ikon khas gereja-gereja Katolik.

Di depan bangunan utama terdapat menara lonceng, yang tingginya sekitar 25 meter. Sementara bangunan utama sendiri memiliki tinggi bangunan lebih kurang 22 meter. Di teras depan sebelum pintu masuk, tepat di bawah atap bangunan utama terdapat stained glass yang bergambar Santo Yakobus yang berdiri di atas kerang. Hingga kini, tak kurang dari 4.500 umat katolik menggunakan gereja ini sebagai tempat ibadah.

Per tanggal 25 Juli 2012 lalu, Stasi Santo Yakobus berusia enambelas tahun. Yaitu semenjak usai acara pesta peringatan tahbisan Uskup yang kedua, yang bertepatan dengan pesta nama Santo Yakobus pada 25 Juli 1996 silam. Bangunan Gereja untuk pertama kali digunakan pada Nopember 2000.

3. GEREJA KEPANJEN
Bangunannya unik, bergaya gereja Eropa yang lekat dengan performa gotik.

Umat Katolik punya cerita dalam deretan panjang sejarah Surabaya. Gereja Kepanjen atau yang disebut Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria menjadi tetenger laku peribadatan Umat Katolik di Surabaya.

Detak sejarah gereja yang terletak di Jalan Kepanjen 6 ini bermula dari kedatangan dua pastor asal Belanda yaitu Hendricus Waanders dan Phillipus Wedding pada 12 Juli 1810. Romo Wedding kemudian ditugaskan ke Batavia, sedangkan Romo Waanders tetap di Surabaya. Pastor Wannders kemudian mendirikan rumah sekaligus kapel (gereja kecil) di Jalan Gatotan. Pada 10 Maret 1811 kali pertama Romo Waanders membaptis orang di Surabaya.

Meski belum ada bangunan gereja, pada 1815 Romo Waanders sudah mendirikan stasi (wilayah administratif dalam gereja Katolik, biasa disebut paroki). Itulah awal perubahan Stasi Surabaya menjadi Paroki Kepanjen hingga saat ini.

Waanders baru mendirikan gedung gereja sekitar 1822. Gedung gereja pertama tersebut terletak di tikungan Roomsche Kerkstraat dan Komedieplein (sekarang kira-kira jadi Jalan Cendrawasih dan Jalan Merak). Gereja tersebut diberi nama Gereja Maria Geboorte atau Kelahiran Maria.

Pada 1827 Pastor Waanders meninggal dunia. Sepeninggalnya, Gereja Maria Geboorte tetap dikunjungi banyak umat. Tetapi, lamakelamaan ruangnya tidak mampu menampung jemaat dan bangunan gereja rusak karena termakan usia.

Melihat keadaan tersebut, C.W.J. Wenneker, salah seorang pastor, berinisiatif membuat gereja yang lebih besar. Paroki kemudian membeli sebidang tanah yang bagus di Tempelstraat dari pemerintah seharga f. 8.815,- Dipimpin oleh Pastor Van Santen SJ, umat mengumpulkan dana lewat lotere, edaran, sumbangan, pinjaman kredit dan permohonan kepada pemerintah.

Peletakan batu pertama baru dilaksanakan pada tanggal 19 Agustus 1899 oleh Pastor Van Santen SJ. Konsep bangunan dikerjakan oleh seorang arsitek Semarang bernama W. Westmaas. Gereja itu dibangun dengan gaya Neo Gothic, yaitu gaya arsitektur Eropa dengan ciri khas ruang berbentuk busur. Kolom dan kuda-kudanya menjadi satu. Atapatapnya membentuk kubah disertai pilar-pilar tinggi. Batu bata yang menempel di tembok disusun telanjang tanpa lapisan semen. Jika dilihat dari atas, bangunan tersebut berbentuk salib.

Tepat 5 Agustus 1900, gereja itu resmi berdiri dan diberkati oleh Mgr Edmundus Sybrandus Luypen SJ. Gereja tersebut diberi nama Onze Lieve Vrouw Geboorte Kerk. Namun pada 1945, kemegahan gereja itu hancur karena terbakar. Penyebab kebakaran tak diketahui pasti. Atap gereja hancur. Keindahan ukiran-ukiran kaca yang pernah menghiasi dinding gereja tidak ada lagi.

Pada 1950 gereja itu direnovasi secara besarbesaran oleh Romo Bastiansen. Struktur bangunan dibiarkan tak berubah, hanya saja kaca-kacanya polos, tidak lagi berukir. Bangku-bangku yang digunakan untuk beribadah, yang semula berukir pun, dibuat polos. Di tahun 1950 itu pula, nama Onze Lieve Vrouw Geboorte Kerk berganti menjadi Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria. Beberapa ornamen dan desain kaca lubang pencahayaan berubah. Menara kecil di bagian depan ditiadakan. Bentuk menara sekarang merupakan hasil renovasi pada 1996.

4. GKJW GUBENG
Delapan puluh delapan tahun lamanya. Gereja itu masih berdiri kokoh di Jalan Mayjend Prof. Dr. Mustopo 25-27, Gubeng, Surabaya.

Bangunan tuanya pun masih kental dengan arsitektur Belanda, dengan halaman yang luas dan taman-taman kecil yang asri nan terawat. Pemandangan gereja yang kontras dengan bangunan modern di sekitarnya itu mengingatkan pada sejarah masa lalu, saat koloni Belanda dulu masih mendiami bumi pertiwi dengan segala kekuasaan dan pengaruhnya pada penduduk asli, termasuk agama. Ya, napak tilas gereja yang kini memiliki 2700 jemaat itu memang erat sejarahnya dengan zaman kolonial Belanda.

Nuansa perpaduan khas Jawa-Eropa begitu terasa. Bangunan gereja yang Eropa, namun dengan jemaat yang mayoritas berwajah Jawa. Kebanyakan menggunakan pakaian Batik.

Siapa kira babat alas munculnya GKJW Gubeng ini ialah seorang Jerman tukang arloji di Peneleh, Surabaya. Johanes J. Emde. Lahir pada 18 Desember 1774 di desa Schimilinghauzen-Arolzen Jerman sebagai anak seorang keluarga molenar (tukang kincir angin). Pada usia remaja ia merantau bekerja keluar dari desanya. Pada tahun 1811, Johanes menikah dengan perempuan bangsawan Jawa bernama Amarentia Manuel (nama baptis, tidak diketahui nama aslinya). Mereka mempunyai anak perempuan bernama Johana Wilhelmina.

Tahun 1861 jumlah orang Jawa Kristen yang bersekutu di Surabaya mencapai 56 orang, yakni 46 dewasa dan 10 anak. Atas bantuan Het Hulpzendeling Genootshcap akhirnya mereka mendapatkan sebuah gereja kecil untuk ibadah. Selain mendirikan gereja, untuk mempermudah pengkabarkan injil maka lembaga zending mendirikan sekolah di Palack Wonorejo Surabaya (sekarang menjadi rumah warga) pada tahun 1877. Mattheus Madakim kala itu menjabat sebagai pemimpin yang baru serta guru bagi persekutuan dan sekolah Kristen Jawa. Tahun 1907 bangunan gereja akan segera diminta oleh pemiliknya.

Sampai akhirnya pada tahun 1911, seorang jemaat yang bekerja sebagai jaksa mempersilahkan sebagian rumahnya untuk dipakai sebagai tempat ibadah. Kala itu yang menjabat sebagai guru jemaat adalah J. Mattheus Jr. (Putra ke-2 Mattheus Madakim) dan guru sekolahnya Jonatahan Wiryodirejo. akhirnya pada tahun1924 berdirilah gedung gereja permanen di Gubeng Viaduct, sekarang Prof. Dr. Mustopo.

5. GEREJA SANTO PAULUS
Arsitektur gereja yang bernuansa alam. Mulai dari gerbang utama menyerupai candi, dan dinding di balik altar yang bersaput batu andesit berwarna hijau.

Gereja Katolik Santo Paulus, disebut juga Gereja Juanda, adalah perkembangan dari Gereja Salib Suci, Tropodo. Ini tak lepas dari kian banyaknya warga Katolik di perumahan-perumahan baru di Kabupaten Sidoarjo, seperti di daerah Wisma Tropodo, Sedati, Juanda, Gedangan, Aloha, hingga Pepelegi.

Kebutuhan akan gedung gereja ini juga dirasa perlu oleh keuskupan Surabaya. Dengan mendapat penugasan dari Keuskupan Surabaya, dibentuklah panitia pembangunan Gereja Juanda. Diketuai oleh Romo Heribert Ballhorn, SVD sebagai romo Kepala Paroki Salib Suci. Sebagai langkah awal, Romo Heri, sapaan akrabnya, bersama Panitia Pembangunan Gereja Santo Paulus memulai proses pencarian lahan. Alhasil, pihak gereja mendapatkan pinjaman tanah milik TNI - AL, seluas 3.000 m2, dan lahan parkir 2.000 m2.

Pada 27 April 2003 pembangunan gedung gereja dimulai, hingga pada 20 Agustus 2005, gedung ini diresmikan menjadi Gereja Katolik, dan Stasi Santo Paulus oleh Duta Besar Vatikan, Uskup Agung Macolm A Ranjith.

Tiga tahun menjadi Stasi, Gereja Santo Paulus telah dianggap mampu untuk mandiri. Pada 1 Mei 2008, bertepatan dengan Hari Raya Kenaikan Tuhan, Stasi Santo Paulus Juanda diresmikan menjadi Paroki Santo Paulus Juanda oleh Uskup Surabaya, Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono.

Kini jumlah umat Paroki Santo Paulus adalah 866 KK atau sekitar 2.598 umat yang tersebar di dalam tujuh wilayah. Ketujuh wilayah tersebut yaitu Wilayah Simon, Wilayah Petrus, Wilayah Bartolomeus, Wilayah Yakobus, Wilayah Maria Regina, Wilayah Fransiskus Asisi, dan Wilayah Vincentius A. Paulo dengan jumlah umat 75-100 Kepala Keluarga (KK) setiap wilayahnya.

Gedung Gereja
Arsitektur gereja secara keseluruhan bernuansa alam. Mulai dari pintu gerbang utama gereja yang berbentuk candi, dengan warna khas merah bata. Bahan baku yang digunakan untuk membangun pintu gerbang tersebut adalah batu bata merah. Disusun menyerupai candi. Bahan baku yang dipakai ini merujuk pada candi-candi khas di Jawa Timur pada zaman Majapahit.

Pada saat memasuki gedung gereja, akan terlihat dengan jelas dinding dengan bahan batu andesit berwarna hijau melatar-belakangi Altar. Gedung gereja ini berbentuk setengah lingkaran, penataan kursi umat yang berwarna hitam itu berpenjuru pada satu titik, yaitu Altar yang kudus.

Dengan lantai dalam gereja yang menurun menjurus ke arah Altar, akan membantu umat lebih berkonsentrasi, memandang ke Altar tanpa terganggu orang yang duduk di depannya. Di sekeliling bagian dalam gereja, terdapat 14 pilar yang memutari area belakang. Dipilih jumlah 14 buah pilar, karena pada setiap pilar terdapat gambar ilustrasi Jalan Salib, untuk mengenang kisah Yesus Kristus.

Gereja Katolik Santo Paulus, berdiri di Jl. Raya Juanda, Waru. Tepatnya 2.7 km dari jalan antar kota jalan Jenderal A. Yani, tak jauh dari Laboratorium Psikologi TNI – AL.

6. GK ABDIEL ELYON
Bangunan gedung ini pernah menjadi markas tentara, rumah sakit bersalin, hingga panti asuhan. Sebelum akhirnya dibeli dan dijadikan Gereja Kristen Abdiel Elyon.

Pada 1980, gedung di Jl. Pregolan Bunder 46-48 Surabaya ini akhirnya dibeli oleh Yayasan GK Abdiel Elyon untuk dijadikan gereja.

Dibelinya bangunan ini sebagai langkah strategis karena beberapa tempat yang digunakan jemaat ini sudah tidak mencukupi lagi. Para jemaat gereja ini pernah menempati gedung di Jl Samudera 1953, Jl Sulung (1972), hingga akhirnya menempati gedung lebih luas di Jl Pregolan.

Petrus, pengurus GK Abdiel Elyon, mengatakan gedung arsitektur kolonial ini pernah menjadi markas tentara pada jaman penjajahan Belanda.

“Pernah juga menjadi rumah sakit bersalin dan Panti Asuhan Kepolisian sebelum akhirnya dibeli oleh yayasan,” terangnya.

Konon, gedung yang menempati lokasi seluas 3720 meter persegi ini pernah menjadi rumah tinggal Regent Surabaya pada jaman Kolonial Hindia Belanda, Mr. A.Meyroos.

Setelah dibeli gereja, bangunan ini diadakan sedikit perbaikan tanpa merubah keaslian bangunan. Pada 21 Juni 1984 gedung ini diresmikan oleh Pdt Peter Wongso sebagai pusat kegiatan GK Abdiel Elyon. Segala kegiatan di tempat sebelumnya di Jl Sulung pun dipindahkan ke lokasi baru ini.

Petrus mengakui, di beberapa bagian dilakukan perbaikan. Tembok yang mulai melepuh di makan usia, cat yang kusam dibenahi dan diperbaiki. Sehingga bangunan ini selalu tampak megah. Ornamenornamen gedung di tiap sisinya, juga masih terjaga sesuai aslinya.

“Kita memang menjaga bangunan ini sebagaimana aslinya, meski tak jelas apakah pemerintah kota Surabaya menjadikan bangunan ini sebagai cagar budaya,” jelasnya.

Beberapa atap bangunan yang retak dan bocor juga dibenahi. “Kita pesan atap yang sama persis dengan bentuk aslinya,” tambahnya. Rangka atas di sisi kiri dan kana pun dibuatkan khusus seperti bentuk aslinya, tanpa merubah apa pun.

Foto-foto: Edward K. & An. Kusnanto/M-Comm


suarasurabaya.net