RHENALD KASALI NOTES

Aneh Bila Disruption Dianggap Menakut-nakuti. Siapa yang Ditakut-takuti?

Selasa, 21 November 2017 | 10:14 WIB
suarasurabaya.net - Ia justru disambut dengan gegap gempita oleh konsumen karena mampu memenuhi needs mereka. Basic theory tentang marketing dari dulu tetap sama: manusia survive, adapt, move dengan didorong oleh motivasinya untuk memenuhi kebutuhannya (Maslow Hierarchy of Needs). So, jika basic principle itu dilanggar, ya runyamlah. Teknologi pun diterima karena prinsip itu.

Disruption itu sangat menguntungkan bagi konsumen dengan adanya:

1. Pilihan yang lebih luas

2. Harga yang jauh lebih murah (cheaper)

3. Teknologi yang mempermudah dan menghadirkan lebih cepat

4. Kesempatan konsumen yang lebih besar untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi (kesempatan pemerataan ekonomi)

5. Menciptakan dua pasar sekaligus: low-end market dan new market.

Namun disruption amat dibenci oleh pelaku-pelaku usaha lama yang tidak efisien, karena:

1. Mereka terganggu kenyamanannya dengan kedatangan pelaku-pelaku usaha baru yang rata-rata kaum muda diremehkan karena kurang pengalaman

2. Mereka dituntut efisien, harus bongkar cost structure, mengurangi banyak biaya kenikmatan yang sudah lama diperoleh dan rutin dinikmati bersama para pegawai lini atas

3. Margin usaha mengecil. Dari sekitar 20% menjadi hanya 3-4%. Dari yang sbelumnya menikmati volume besar dengan margin tipis (3-5%) menjadi hanya 1-2%.

4. Mereka kehilangan pelanggan-pelanggan yang shifting ke pelaku-pelaku usaha baru. Daerah-daerah belanja strategis yang didukung oleh keramaian manusia kini pindah ke alam yang tak kelihatan di dunia maya.

5. Sebagian konsumen tertentu juga bisa kurang happy karena disruptor selalu datang dengan ketidaksempurnaan yang kualitas produk/jasanya jauh dibawah incumbent. (Kasus lowcost carrier dan taxi online)

6. Di Indonesia, pelaku-pelaku usaha lama juga terganggu karena perbaikan infrastruktur yang begitu cepat. Ini turut mempercepat proses disrupsi dengan munculnya kesempatan-kesempatan ekonomi baru bagi masyarakat di daerah pinggiran (program Nawacita) yang kini bisa menikmati hubungan direct dengan produsen, distribusi yang lebih efisien dan kesempatan usaha yang terbuka, plus perekonomian desa yang lebih mandiri melalui BUMDES dan PRUKADES.

7. Pelaku ekonomi konvensional juga terganggu oleh process shifting ini. Makanya jangan heran sekarang kita sering dengar keluhan mereka: ekonomi lampu kuning; lesu; daya beli turun, dst.

Alih-alih memperbaiki diri, mereka malah menyalahkan daya beli. Mereka menyangkal adanya shifting, karena itu bisa menunjukkan kelemahan managerial berupa ketidakmampuan respons dan membaca signal.

Usaha-usaha konvensional tergerus bukan oleh resesi atau kemunduran ekonomi, melainkan karena mereka tak mau berubah. Mereka tak mau mendisrupsi diri, malah mendekati regulator agar berpihak pada mereka dan membuat aturan-aturan yg bisa mengusir disruptor.

Ini hanya akan membuang-buang waktu, sebab netizen akan selalu berpihak pada siapa yang bisa memenuhi needs mereka dengan cara-cara baru.

Jadi apapun jenis usahanya, kalau tak diperbaharui akan bernasib sama. Mereka semua harus siap menerima dan melakukan perubahan. Bukan cuma customer engagementnya saja, melainkan juga business process dan service culturenya.

Semoga bermanfaat.
Rhenald Kasali


Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.