ROAD TO ISTANA

‎Terus Melonjaknya Utang Perusahaan BUMN Karena Diurus Genderuwo

Laporan Muchlis Fadjarudin | Rabu, 14 November 2018 | 22:46 WIB
Said Didu Said Didu Praktisi Industri dan Bisnis dalam diskusi Rabu Biru bertajuk 'Menumpas Genderuwo Ekonomi' di Prabowo-Sandi Media Center, Jalan Sriwijaya 35, Jakarta Selatan, Rabu (14/11/2018). Foto: Faiz suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - ‎Pernyataan Joko Widodo (Jokowi) Presiden terkait politik genderuwo yang menyindir lawan politiknya, justru menjadi serangan balik.

Jokowi menyebut politik genderuwo karena cara-cara politik yang dimaksud itu gemar menakut-nakuti masyarakat. Tetapi, ternyata hal itu justru terjadi di internal pemerintahannya.

Said Didu Praktisi Industri dan Bisnis mengatakan, justru yang paling berbahaya adalah genderuwo yang sudah masuk dalam sistem pemerintahan penguasa.

"Genderuwo yang paling bahaya di negara adalah kalau genderuwo itu sudah menyatu dengan kekuasaan," kata Said Didu dalam diskusi Rabu Biru bertajuk 'Menumpas Genderuwo Ekonomi' di Prabowo-Sandi Media Center, Jalan Sriwijaya 35, Jakarta Selatan, Rabu (14/11/2018).

Dia mencontohkan, selain utang pemerintah ternyata perusahaan-perusahaan BUMN juga tidak ingin kalah dengan berlomba untuk memperbanyak utang. Publik pun dibuat terkejut karena pengurusan utang tersebut seolah 'gaib' dan secara tiba-tiba mucul angka total utang BUMN.

"Lobi-lobi untuk mendapatkan sumber pembiayaan genderuwonya juga ada, termasuk itu BUMN-BUMN itu utangnya kemana kita tahu, tapi kita nggak tahu siapa yang urus tahu-tahu sudah dapat utang," tegas dia.

Sementara, Rizal Halim Akademisi dan anggota Sandinomics menjelaskan, secara kepercayaan orang Indonesia khususnya masyarakat Jawa, genderuwo ini makhluk gaib yang menakutkan.

"Genderuwo ini mitologi Jawa yang tidak kelihatan tetapi menakutkan. Tidak pernah diakui keadan dan ketiadaannya, tapi kita percaya. Ini menarik dan ilustrasi ini kita tarik dengan situasi ekonomi kita," kata Rizal.

Genderuwo yang dimaksud Jokowi menurutnya justru sama halnya mafia ekonomi atau BUMN yang menyatu dengan penguasa, tidak terlihat namun membuat rugi negara.

"Ini persoalan yang kalau dilihat secara data time series terjadi berulang-ulang, jadi hebat ya bangsa ini. Setiap tahun terjadi tetapi diskusi itu-itu saja. Apakah kita sadar? Iya, tetapi tidak pernah diselesaikan," pungkas dia (faz/bid)
Editor: Restu Indah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.