ROAD TO ISTANA

Mantan Ketua DISK BIN: Ada Operasi Media Untuk Mendiskreditkan Prabowo

Laporan Muchlis Fadjarudin | Kamis, 06 Desember 2018 | 14:34 WIB
Dradjad Hari Wibowo mantan Ketua Dewan Informasi Strategis Kebijakan Badan Intelijen Negara (BIN). Foto: Faiz suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Dradjad Hari Wibowo mantan Ketua Dewan Informasi Strategis Kebijakan Badan Intelijen Negara (BIN) menegaskan kalau saat ini ada operasi Media yang bertujuan untuk mendiskreditkan Prabowo Subianto Capres nomor urut 02.

Dradjad menyebut aktor intelektualnya adalah oknum wartawan yang sudah sangat senior. Oknum tersebut kehidupannya sangat bebas.

"Berdasarkan intel yang saya peroleh, saat ini ada operasi media untuk mendiskreditkan Prabowo. Aktor intelektualnya adalah seorang oknum wartawan yang senior sekali, yang kehidupan pribadinya sangat bebas," ujar Dradjad dalam pesan singkatnya, Kamis (6/12/2018).

Kata dia, yang terlibat adalah beberapa oknum wartawan senior dengan posisi tinggi di beberapa media. Medianya pun bukan media ecek-ecek.

Menurut Dradjad, modus operasinya adalah mencari-cari ucapan Prabowo yang bisa diplintir. Ucapan itu lalu digoreng secara masif berhari-hari. Ditambah lagi dengan bumbu meme dan diviralkan di media sosial.

Bahkan, kata Dradjad, oknum-oknum tersebut juga tidak segan-segan memberitakan kebohongan. Sasarannyapun tidak hanya Prabowo, tetapi juga Amien Rais Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional.

"Mereka bahkan tidak segan memberitakan kebohongan. Selain mas Prabowo, target operasi yang lain adalah pak Amien Rais," tegas Dradjad yang juga anggota dewan kehormatan PAN ini.

Dradjad menjelaskan, tujuan dari operasi media mendiskreditkan Prabowo ini adalah membuat pemilih mengambang menjadi tidak bersimpati, bahkan antipati kepada Prabowo dan Amien Rais.

"Contoh kasusnya adalah berita tentang Prabowo berkata "tidak masalah" jika Australia memindahkan kedubesnya di Israel ke Yerusalem. Berita tersebut adalah hoaks. Bohong besar. Kenapa? Karena Prabowo sebenarnya menjawab dua pertanyaan dalam bahasa Inggris. Pertanyaan pertama adalah tentang rencana Australia membangun pangkalan Angkatan Laut di Papua Nugini. Pertanyaan kedua tentang Kedubes Australia di Israel," jelasnya.

Kata dia, jawaban Prabowo "Tidak Masalah (No Problem)" itu untuk pertanyaan pertama.

"Soal Kedubes, Prabowo menjawab bahwa sebagai pendukung Palestina, kita punya sikap sendiri. Tapi Australia itu negara berdaulat. Kita hormati kedaulatan dia," kata Dradjad.

Tetapi, menurut Dradjad, berita yang muncul, Prabowo tidak masalah kedubes Australia pindah ke Yerusalem. Lalu muncul meme dan posting yang memfitnah Prabowo mendukung zionis Israel. Lalu ada demo-demo mengecam Prabowo. Meski pesertanya sedikit, jauh di bawah reuni 212, berita tentang demo tersebut masif.

"Dua hari lalu pun masih ada demo di Surabaya yang diberitakan secara nasional," jelas dia.

"Pak Amien bahkan sangat sering dikerjain. Contohnya tentang hizbullah dan hizbusy-syaithon. Itu beliau sampaikan dalam kuliah subuh. Selesai khutbah, wartawannya bertanya, parpol apa pak yang tergolong partai setan? Pak Amien menjawab, oh ini bukan tentang parpol. Ini tentang arus pemikiran," ujar Dradjad.

Menurut Dradjad, ucapan Amien Rais itu ada dalam berita. Tapi judul dan "gorengannya" adalah tentang parpol setan.

Lalu kenapa tidak mengadu ke Dewan Pers? Dradjad secara pribadi malas, karena saking banyaknya berita bohong yang disebarkan. Senyapnya berita reuni 212 akhirnya menjadi konfirmasi yang membuka kedok tentang operasi media tersebut.

"Saya orang yang sangat mendukung kebebasan pers. Saya bahkan pasang badan menjadi tersangka pencemaran nama baik, demi membela sebuah media nasional yang sangat bergengsi. Kebetulan media tersebut salah kutip. Jadi saya sangat kecewa bahwa kebebasan pers sekarang dicemari oleh ulah oknum-oknum senior tersebut," tegas dia.

Dradjad berharap, para jurnalis muda akan bisa membersihkan pencemaran lingkungan pers yang sangat parah ini, yang lebih parah dari tercemarnya Laut Jawa di sekitar Jakarta. (faz/nin/rst)


Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.