SS home | SS greeting | SS terima kasih | SS anugerah| SS galeri | SS momen


SS tempodoeloe
TIM GATEKEEPER MALAM
SS Menu
  • SS Sejarah
  • SS Khalayak
  • SS Event
  • Untung Ada SS

  • SS Jingle
  • SS - 30 Tahun
  • SSFM 100 - Country
  • SS-Anytime, Anywhere
  • SS Today
  • SSFM 100

  • SS galeri

    CANDA GUS IPUL WAGUB JATIM
    arsipSS galeri


    Kirim Ucapan HUT SS
    Met Ultah SSFM
    Selamat ulang tahun SSFM, semoga selalu jaya dan tetap menjadi idola masyarakat surabaya dan sekitarnya...
    Dari: Amirul Ulum, Surabaya
    amirul_ulum@yahoo.com
    DIRGAHAYU SUARA SURABAYA KE-30
    Saya sering menyebut SS seperti 911 nya Surabaya dan sekitar,karna menjadi jujukan awal laporan apa aja dari warga,dari hal sepele sampai hal penting semua wadul ke SS.semoga crew SS tak jemu menerima laporan2 warga.BRAVO SS..Memang SUARA SURABAYA BUKAN SEKEDAR RADIO.DIRGAHAYU SUARA SURABAYA
    Dari: DEDY RISWANTO , Tarik-Krian-Sidoarjo
    riswantodedy@gmail.com
    Ultah
    selamat Ultah ke 28 buat Ss teruslah bersuara
    kejuaran diudara demi kebaikan bersama.
    Buat semua crew anda tdk hanya bekerja tapi
    juga beribadah smg amal kebaikan anda
    diterima Allah swt. Amin
    Dari: isfari rahmad hidayat , surabaya
    isfari 1970@email.com
    Selamat. Ulang Tahun
    Selamat Ulang Tahun yg ke 31 ,semoga
    semakin jaya dan sukses selalu,Suara Surabaya
    is the Best
    Dari: Sani, Surabaya
    Signatiusrahmat@gmail.com
    Ucapan Selamat.
    Ass Wr Wb, Selamat Ulang tahun Suara Surabaya yang ke 30 , semoga semakin bertambah usia semakin bermanfaat bagi kita semua dan semakin barokah, tetap semangat dan terus maju ...Wassalam
    Dari: Parsadaan Tapanuli Jatim., Surabaya.
    partapjatim@yahoo.com
    Happy Anniversary SS
    Selamat Ulang Tahun SS/smoga semakin sukses dan jaya selalu/smoga kedepan bisa jauh lebih baik dalam media penyiaran yg dapat memberikan banyak manfaat dan menambah wawasan bagi pendengarnya//...WE LOVE YOU...
    Dari: Mochammad Fachrul Rizal, Sidoarjo
    rizaliyoenk@yahoo.com
    ucapan
    selamat ultah ke 30 buat radio ss Surabaya semoga tetap jaya di udara dan tetap menjadi yang terbaik
    Dari: suparman, badan diklat prop jatim
    jamput2003@yahoo.com
    ULTAH SSFM ke 29
    Semoga jaya di udara
    Dari: MASRUL, JEMBER
    Masroel74@yahoo.com
    Happy bird day suara surabya.
    SELAMAT ULANG TAHUN suara surabaya semuga tambah jaya di udara dan bisa menambah daya pancar yang sekarang sudah mulai tak jelas suaranya bahkan tidak ada sama sekali berkat acara jaring radio saya bisa mendengarkan informasi dari suara surabaya meski tak seperti tak seperti dulu lagi saya tetap mendengarkan suara surabaya lewat acara jaring radio.
    Dari: Memet Sandara, Sampang
    memetsandara@gmail.com
    Ultah
    Selamat dan Sukses atas HUT Radio SS ke 30. Maju terus!!!
    Dari: rony sujono, surabaya
    badboy_09@rocketmail.com


    SS Khalayak

    30 Juni 2008, 19:51:54

    Bincang Otomotif Berawal dari Iklan
    suarasurabaya.net| GBT merupakan satu diantara perusahaan yang beriklan di Suara Surabaya. Tahun 1998, ketika negeri ini dilanda krisis moneter, GBT perusahaan yang bergerak di bidang otomotif ingin mengiklankan usaha bengkelnya.

    Awalnya, SUWITO SUMARGO, Pemilik perusahaan memang sudah berniat untuk menggunakan radio sebagai media iklan. Sebelumnya, akhir 1995 sampai awal 1996, ia terlebih dahulu meneliti beberapa radio. Keinginan beriklan di SS terbentur harga yang belum cocok, karena dirasa sangat mahal. Meskipun, SUWITO tahu bahwa SS memiliki banyak pendengar

    Sampai akhirnya, tahun 1998, SUWITO dihubungi oleh SONNY, Marketing SS. “Beliau menyambut baik keinginan kami beriklan di SS,” ujar SUWITO. Hanya yang menjadi ganjalan adalah profil pelanggan SS belum tentu pelanggan GBT. Tidak ada kepastian bahwa pelanggan GBT bersegmen menengah atas dan selalu mendengar SS.

    Dari penelitian yang dilakukan SUWITO, diperoleh bahwa SS bukanlah radio yang selalu didengarkan pelanggan GBT. Setelah 1 tahun beriklan, survei diulang kembali, ternyata hasilnya berubah. Setiap mobil yang masuk di GBT, memori pertama di radionya selalu SS. “Setelah 1 tahun kami merasa bahwa pilihan kami beriklan di SS tidak salah. SS memang media yang tepat untuk GBT,” kata SUWITO.

    SUWITO merasakan betul bagaimana dampak krisis saat itu. Tapi, setelah beriklan di SS, GBT bisa lolos dari cengkeraman krisis relatif lebih cepat, dibanding perusahaan atau usaha lain. Tahun 2000, perusahaan yang didirikan sejak 1951 itu sudah pulih seperti sebelum krisis. Meski begitu, SUWITO tidak berani memastikan penyebabnya adalah iklan. “Kalau dibilang akibat beriklan di SS, mungkin saja. Tidak berani membutktikan,” ungkapnya.

    Bincang Otomotif

    Langkah selanjutnya yang dilakukan SUWITO adalah meremind atau menjaga brand awareness GBT. Pelanggan SS yang juga menjadi pelanggan GBT tetap aware terhadap merk GBT. “Umumnya, pada saat itu gara-gara krismon, orang menomorsekiankan perawatan kendaraan sehingga kami maju atau tampil dengan konsep empati,” jelasnya pada suarasurabaya.net, Rabu (21/05/2008).

    GBT berempati bahwa di masa-masa krisis yang baik dilakukan adalah tetap merawat kendaraan bermotor. Jadilah, acara Bincang Otomotif itu diluncurkan pada awal 1998. Februari 1998, acara tersebut sempat terhenti sejenak, apalgi diiukti dengan meningkatnya nilai dolar terhadap rupiah. Namun, setengah tahun berikutnya Bincang Otomotif kembali bersiaran, rutin dua minggu sekali. Semua hal-ihwal tentang acara itu diurus oleh GBT, mulai narasumber yang diambil dari GBT sendiri, penentuan topik, bahkan materi pertanyaan dan jawabannya.

    Mulanya, SUWITO berharap antusiame pendengar diukur dengan jumlah penelepon. Tetapi, SS tidak berpikir demikian. Respon terhadap acara ini tidak bisa diukur hanya dari yang menelepon, karena pada faktanya banyak yang gagal masuk. Selain itu, ada pendengar pasif yang tidak selalu aktif menelepon.

    Akhirnya dipilihlah hari yang paling laris dan jam yang paling populer. Tim manajemen GBT memilih hari Jumat sore, pukul 16.00-17.00 atau 17.00-18.00. Ternyata responnya banyak sekali. Tapi, ada satu kendala, yakni pada jam itu, info lalu lintas sangat dibutuhkan pendengar.

    “Saya dianjurkan pindah jam atau hari. Tahun 2001, Bincang Otomotif mulai bergeser ke hari Rabu pukul 16.00-17.00, lalu berubah lagi pukul 15.00-16.00 hingga sekarang. Kala itu, respon pendengar antusias. Tahun 1998-2000, rata-rata ia bisa melayani pendengar sedikitnya 10 penelepon. Bahkan, pernah ia menerima 14-18 penelepon Hal ini pula yang menjadi tolok ukur bahwa Bincang Otomotif mendapat respon yang bagus dari pendengar.

    Terkenal

    Meskipun 3 tahun terakhir suara SUWITO jarang terdengar, tapi ia merasa belakangan ini para pendengar terus mengingatnya. “Mereka ingat Pak WITO yang di Bincang Otomotif, meski jarang siaran, tapi ingatannya tetap di masa-masa awal. Mereka merasa kalau mendengarkan Bincang Otomotif itu menyenangkan, sambil di jalan, pengetahuannya ringan. Belakangan saya merasakan dengan adanya Bicang Otomotif saya lebih populer, kayak selebritis,” ungkapnya.

    SUWITO merasakan dampaknya tahun 2003 keatas. Terutama, ketika diperkenalkan pada acara bersama SS, “Ini Pak SUWITO GBT, mereka langsung mengasosiasikan, oh yang biasanya ngomong di SS,” kisahnya. Maklum, tahun 1998-2001, SUWITO sangat intens menjadi narasumber di Bincang Otomotif. “Sebulan dua kali itu pasti mendengarkan cerita saya kira-kira sampai jam,” sambungnya.

    GBT sendiri sebetulnya sudah cukup populer di Surabaya. Kekuatan di spooring balancing sejak tahun 1986 sudah dikenal. Setelah sering tampil di radio, SUWITO menyadari bukan hanya pelanggan GBT, tapi ternyata penduduk Jawa Timur yang suka mendengarkan SS juga suka mendengarkan Bincang Otomotif. “Dan ini dampaknya ke teman-teman bengkel yang merasa bahwa konsumen di Surabaya itu mau memahami meskipun kadang-kadang jadi lebih cerewet, nuntutnya lebih banyak,” paparnya.

    Menelepon Satu-satu

    Diakui SUWITO, awalnya ia selalu grogi setiap kali berbicara di radio. Karena ia hanya sekedar mendengarkan permasalahan yang dikemukakan penelepon tanpa melihat kendaraannya langsung. “Biasanya saya melihat (kendaraan) secara langsung, problem otomotif tentu ada kendaraannya. Saya di radio, saya hanya mendengarkan suaranya harus mendengarkan problem-problemnya dan akhirnya saya harus mencoba mencarikan solusi,” ceritanya.

    Bahkan ia sempat diuji pendengar. “Awal-awal siaran, pendengar ngetes userdefined pengetahuan saya, dan saya belajar dari teman-teman penyiar di SS bagaimana menjawab seperti itu,” terangnya.

    Ia pun memberikan jawaban jujur, jika ia tidak tahu. Tapi, berjanji akan mencari tahu dan menelepon pendengar kembali. Jawaban semacam ini ternyata disukai pendengar SS karena lebih transparan dan lebih jujur menyampaikan apa adanya.

    Mulai 1998-2001, SUWITO selalu menelepon satu persatu penanya yang masuk ke talk shownya, untuk menanyakan apakah jawaban yang ia berikan sudah cukup jelas. Penelepon merasa seolah-olah mereka tidak hanya sekedar mendengar, tapi menerima solusi yang pasti. “Setiap pulang siaran saya perlu waktu 1 jam atau 1/2 jam menelepon satu persatu.

    Bahkan kadang-kadang kalau siarannya hari Rabu, paling lambat hari Jumat itu sudah harus direspon karena setelah itu (para penanya) sudah bertanya dan berjuang untuk masuk SS, lupa,” ungkapnya.Hal itu memang berkesan bagi penanya karena mereka menganggap yang memberikan layanan itu SS bukan GBTnya. Mereka merasa SS sedemikian pedulinya sehingga menelepon kembali.

    Pendengar Kritis, Narasumber Hati-hati

    Sudah menjadi ciri SS untuk tidak hanya menerima komplain dari pendengarnya. Penyiar selalu mengarahkan pendengarnya agar jangan cuma komplain. Sehingga pendengar tidak ngomong ngawur. Namun demikian, dari sisi otomotif SUWITO tidak bisa menuntut terlalu banyak agar pendengar itu harus cerdas.

    SUWITO menilai pendengar SS luar biasa. “Kalau dimasukkan kelas, mungkin kelas itu belajar selama 10 tahun juga gak habis-habis,” ujarnya. Meski banyak pertanyaan berulang-ulang, tapi pendengar SS tidak pernah bosan. “Jadi meskipun pertanyaan yang sama atau problem yang sama diungkapkan kembali 6 bulan kemudian 1 tahun kemudian, mereka welcome,” tuturnya.

    Mereka tetap senang mendengarkan uraiaan jawaban dari pertanyaan yang diajukan. Padahal terkadang narasumber yang menjawab bisa berbeda-beda. Tapi, tetap saja mereka seringkali konfirmasi ulang ke SUWITO.

    Tidak salah bila SUWITO menyimpulkan bahwa pendengar SS kritis menginginkan kebenaran. Narasumber harus super hati-hati untuk menghadapi mereka karena tidak boleh ngomong sembarangan. Pendengar nampaknya mengerti sehingga narasumber harus bicara itu apa adanya, dan sesuai teori. “Kalau gak masuk akal, itu pasti sudah ditegor habis. Wah itu gak bener, bohong apa gak, sih?” bebernya. Karena itu, para narasumber juga belajar bahwa melayani pendengar SS sama halnya dengan melayani pelanggan di bengkel. Alhasil, hal itu mmbawa perbaikan baik untuk pendengar maupun bisnis SUWITO. Bengkel-bengkel di Surabaya jadi lebih berhati-hati daripada kota lain.

    Khawatir Bosan

    Satu hal yang dikeluhkan SUWITO adalah kesulitan mencari partner. “Meski topik dan bahan sudah saya siapkan tapi seringkaili penyiar tidak ngeh apa yang dibicarakan,” keluhnya. Sehingga SUWITO harus merinci secara detil pertanyaan dan jawaban untuk memberi pengetahuan lebih dulu terhadap penyiar. Hal ini berlangsung bertahun-tahun sampai sekarang. Bisa dikatakan, lanjut SUWITO, tidak ada dari kru SS yang hobi otak-atik kendaraan.

    Ini tidak hanya dirasakan oleh SUWITO, tetapi juga narasumber dari GBT yang lain. Mereka kecewa karena setiap siaran tidak mempunyai partner. Ke depan, SUWITO berharap program Bincang Otomotif bisa lebih menarik. “Saya khawatir bahwa setelah sekian tahun akan pudar pamornya, membosankan. Ada strategi baru, berkreasi supaya lebih menarik,” katanya.

    SUWITO mengaku kehabisan akal untuk membuat talk shownya menjadi lebih menarik. Biasanya topik otomotif akan habis kalau dibahas setahun atau sekitar 50 kali siaran. “Masalah otomotif kalau dikupas 50 kali itu sudah kehabisan bahan. Kalau diulang lagi bosan. Itu awalnya kenapa awalnya hanya siaran 2 minggu sekali untuk menjaga (supaya tidak bosan),” tuturnya. Tapi, tahun 2001, ia menyerah. SUWITO pun serahkan pengelolaannya ke SS. SS mengusulkan ada daur ulang, topik-topik lama dihadirkan kembali. Dan terbukti selama 10 tahun masih bisa bertahan dengan topik-topik yang hampir serupa.

    Tapi, ini harus diwaspadai karena dikhawatirkan akan membosankan pendengar bila tidak ada inovasi-inovasi baru. SUWITO mengatakan mungkin akan menarik bila sekali dalam sebulan ada tatap muka dengan pendengar, baik dalam bentuk event, atau acara off air lainnya. Sebab, dalam otomotif selalu ingin berinteraksi. Harus ada yang diaplikasikan secara langsung. Dulu, ada Family Auto Gathering (FAG) yang merupakan cikal bakal berkumpulnya pendengar SS yang hobi otomotif. Sayangnya, belakangan sudah tidak lagi diadakan. “Punya SS club yang kegiatannya otomotif mungkin itu menolong banyak artinya membuat Bincang Otomotif melekat di hati pendengar SS,” harapnya.

    Gelar Uji Emisi

    Tahun 2004, merupakan pengalaman menarik bagi SUWITO dan Bincang Otomotif. Praktisi otomotif mendengar akan ada peraturan daerah tentang pembatasan emisi. “Nah, kami dapat bocoran nilai yang akan diperdakan itu sangat longgar. Kami berkumpul dan berusaha mengedukasi masyarakat dan Pemerintah, itu salah,” papar SUWITO.

    Melalui kegiatan autoclinic, SUWITO dan rekan-rekannya aktif berpromosi memberitahukan pembatasan emisi yang benar. “Kami buktikan kalau kendaraan-kendaraan itu dirawat bisa memenuhi baku mutu yang lebih ketat daripada yang akan dibuat aturannya,” ujarnya.

    Dari situlah lahir organisasi atau LSM Otopoint yang beranggotakan narasumber di Bincang Otomotif. Saat itu SUWITO bersama Otopoint menggebu-gebu mengedukasi masyarakat dan mendorong Pemeritah untuk membuat aturan yang bisa diaplikasikan, bukan hanya ‘macan ompong’. Kemudian Otopoint menggelar uji emisi teratur yang didukung penuh oleh SS.

    Tapi, akhirnya, diberhentikan. Karena setelah berlangsung beberapa lama, perda tentang pembatasan emisi tidak kunjung digedok. SS pun menganggap isu emisi ini tidak lagi menarik. Namun, Otopoint tetap bekerjasama dengan birokrat dalam hal ini Pemerintah Kota Surabaya untuk melakukan uji emisi minimal setahun sekali. Ini ditujukan untuk mendorong masyarakat agar memahami bahayanya emisi.

    Selama 10 tahun menjalin hubungan dengan SS, SUWITO mengaku bangga menjadi bagian dari keluarga besar SS, baik sebagai praktisi otomotif, narasumber Bincang Otomotif, maupun pendengar biasa. Ia berharap SS bisa menjaga stamina artinya menjaga kedekatannya dengan pendengar, tetap eksis, dan menjadi idola masyarakat di Surabaya.(git/ipg)

    Teks Foto:
    - SUWITO
    Foto: GITA suarasurabaya.net


    kirim berita

    SS Khalayak lain
  • 30 Juni 2008, 20:01:57
    Cak KADAR:
    SS Hidupkan Lagi Arek Suroboyo
  • 30 Juni 2008, 19:53:48
    Awalnya Tidak Setuju Ada SS
  • 30 Juni 2008, 19:50:37
    JA’FAR TRIKUSWAHYONO
    'Kecolongan', Dengar Duluan dari SS
  • 30 Juni 2008, 19:43:00
    Tanya PMI ke SS
  • 30 Juni 2008, 17:30:42
    TRI RISMA HARINI
    Yang Marjinal Bisa Bicara
  • 26 Juni 2008, 19:45:35
    SS Ciptakan Two Way Communication
  • 25 Juni 2008, 19:30:31
    AHMAD JABIR:
    Hubungan dengan SS Lahir Batin
  • 25 Juni 2008, 16:17:10
    Lurahe SS:
    SS Jadi Obat Kekesalan
  • 25 Juni 2008, 12:17:29
    BAMBANG SUGENG:
    Usul Putar Lagu Kelas Bawah
  • 22 Juni 2008, 18:38:05
    Corporate Speaker PLN Jatim:
    Narasumbernya Jangan Itu-itu Saja


  • copyright 2008 suarasurabaya.net, all rights reserved.
    kontak redaksi |