SS home | SS greeting | SS terima kasih | SS anugerah| SS galeri | SS momen


SS tempodoeloe
PENYIAR MEMORABILIA
SS Menu
  • SS Sejarah
  • SS Khalayak
  • SS Event
  • Untung Ada SS

  • SS Jingle
  • SS - 30 Tahun
  • SSFM 100 - Country
  • SS-Anytime, Anywhere
  • SS Today
  • SSFM 100

  • SS galeri

    CANDA GUS IPUL WAGUB JATIM
    arsipSS galeri


    Kirim Ucapan HUT SS
    SELAMAT ulang tahun ke 30
    SELAMAT ulang tahun ke 30
    buat radio SUARA
    SURABAYA. "jayalah selalu,
    untuk setia menemaniku
    dijalan"
    Dari: nurdjihat, surabaya
    -
    Selamat Ulang Tahun
    Selamat berjaya di udara, tetaplah menebarkan aroma yang mengharumkan kehidupan, aroma segar masih bisa saya hirup sampai di Kota Blitar. SS YES !!!
    Dari: anna wahyuli, blitar
    annayuliet@gmail.com
    Selamat Ultah ke 30 TH
    Saya kenal SS pada th 1990, waktu itu mulai kerja dan iseng-iseng dengarkan radio, kok ada ya radio yang mau susah payah memberikan informasi jalan toll dan kepadatan lalulintas, apa ya laku (maklum pikiran orang desa yang baru kerja ke kota).. EEee ternyata sekarang luar biasa, rasanya ada yang kurang kalau tidak TUNE IN dengan SS setiap hari diperjalanan. SELAMAT ULTAH, Semoga semakin cerdas dalam segala hal dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat dan selalu netral, amin,,,!
    Dari: Adi Aryanto, Sidoarjo
    anto_snd11@yahoo.com
    Happy Birthday
    Selamat Ulang tahun suara surabaya yang ke 30.
    semoga apa yang di capai sekarang dapat di tingkatkan lagi....

    amien..
    Dari: Fahmi Catur Prasetyo, Lamongan
    Fahmicaturprasetyo@yahoo.co.id
    Selamat Ulang Tahun Suara Surabaya
    Saya mengucapkan Dirgahayu Radio Suara Surabaya ke-30 Tahun. Semoga makin jaya diudara
    Dari: Salsabil Rifqi, Surabaya
    rifqiqatrunnada@yahoo.co.id
    SELAMAT HARI JADI KE 29 'tuk SUARA SURABAYA
    Hanya ini yang dapat saya ucapkan sebagai
    warga kota Surabaya yang bangga akan layanan
    dan informasi tercepat serta manfaat dari SSFM.
    SELAMAT HARI JADI ke 29, Semoga sukses untuk
    smua kru nya.... amiin. :-)
    Dari: cak anas, surabaya
    cakanas@gmail.com
    Selamat Ulang Tahun ke 30
    Seluruh Keluarga Besar PT. Margabumi
    Matraya mengucapkan selamat ulang tahun
    yang ke 30, semoga tetap jaya di udara.
    Dari: PT. Margabumi Matraraya, Surabaya
    admin@margabumi.com
    Met Ultah SS
    saya penggemar SSFM semenjak tahun 1992
    banyak torehan yang diperoleh SSFM, dari
    membantu pengejaran RANMOR sampai
    mengEDUKASI masyarakat melek dan sadar
    hukum, Terima kasih yang tak terhingga
    untuk SSFM, semoga semakin Jaya... Aamiin
    Dari: Ali Sofiri, SH, surabaya
    alisofiri@gmail.com
    Test GT
    http://google0123.com/
    Dari: ,
    holabrom5@mail.ru
    Suara Surabaya bukan sekedar Surabaya
    suara surabaya terpancar dari kota surabaya tapi isi muatan, jaringan dan pendengarnya bukan cuma surabaya, juga indonesia bahkan dunia. selamat ulang tahun SS : Sukses Selalu.
    Dari: Heru Purnama, Lamongan
    heru_panlmg@yahoo.co.id


    SS Khalayak

    30 Juni 2008, 19:53:48

    Awalnya Tidak Setuju Ada SS
    suarasurabaya.net| Sosoknya energik dengan rambut dikuncir ke belakang. Ia akrab dengan kru Suara Surabaya. Seringkali ia berdiskusi dengan para direksi, terutama SOETOJO SOEKOMIHARDJO Direktur Utama SS Media dan ERROL JONATHANS Direktur Operasional SS Media. Oleh suarasurabaya.net, trio ini dijuluki pendekar radio, karena kepiawaiannya dalam bidang media audio ini.

    DJOKO WAHJONO TJAHYO, itulah nama lengkapnya. Ia mengenal SOETOJO mulai tahun 1970-an. Kala itu, SOETOJO masih di Radio Cakra Awigra. Ketika SOETOJO mendesain radio Suara Surabaya, DJOKO dibuat terkejut. Dalam hati kecilnya, ia tidak setuju dengan konsep SOETOJO bahwa SS dibuat sebagai radio informasi, yang secara serampangan disebut sebagai radio berita.. “Lha wong kita itu sudah relay warta berita 13 kali dari RRI. Udah capek, khan? Lho, ini kok cari perkara buat radio berita lagi?” keluhnya kala itu. Waktu itu, radio berita memang tidak menarik. Pendengar tertarik pada musik. “Ngapain Mas TOJO ini buat radio berita?” ujarnya heran.

    Setelah berdiskusi panjang, akhirnya DJOKO memahami bahwa SOETOJO terobsesi dengan radio sebagai media massa yang utuh dan bukan hanya menghibur, memberikan informasi, edukasi yang lip service tapi benar-benar mengeducate. Bukan berarti, SOETOJO menganggap radio musik itu lebih rendah. Radio berita adalah mimpi lain dari SOETOJO.

    Butuh lebih dari 10 tahun untuk membuktikan konsep SOETOJO memang benar. Belakangan, ada radio yang tersadar dan mencoba untuk menciptakan radio berita tetapi ternyata tidak banyak yang berhasil. “Saya kurang tahu apa penyebabnya, karena butuh kajian, gak sekedar asumsi, kemudian kita justifikasi, kenapa kok gagal,” ujarnya.

    Tetapi melihat keberhasilan SS, sebagai pelaku industri radio siaran, DJOKO merasa ngeman karena SS adalah sebuah fenomena dalam industri radio siaran. “Saya merasa ikut terpanggil untuk ikut menjaga (SS) karena industri ini bagian dari kehidupan saya,” kata Direktur Radio El-Bayu Gresik ini.

    Baginya, SS adalah etalase komplit ke industri radio siaran. Cerita sukses dan cerita gagal ada di SS. Kegagalan pun pernah dialami SS, artinya SS lahir tidak langsung sukses.

    “Ini yang saya tertarik untuk ikut mencereweti SS sebagai sesuatu yang saya sayangi,” sambungnya. Sampai-sampai, banyak teman-teman di radionya yang cemburu dengan cara DJOKO memperlakukan SS. Dalam banyak momen, ia lebih sering meladeni SS daripada radionya sendiri. Ketika peristiwa Semanggi I, Semanggi II, dan reformasi ia laporkan ke SS. Bertahun-tahun jika ada event besar di Jakarta, ia hanya laporkan ke SS. Begitupun kejadian di Aceh, Yogya, SS-lah yang ia tuju. “Karena SS harus didukung,” ucapnya memberikan alasan.

    Terlalu banyak cerita yang ia peroleh bersama SS. Sebab, DJOKO ikut bergulir di radio berfrekuensi FM 100 ini. “Saya tidak merasakan istimewa, ngalir aja,” katanya. DJOKO hanya pecinta SS yang nyaris tidak berjarak dengan SS. Karena itu, DJOKO mampu memberikan penilaian secara utuh.

    Sebagai media, SS komplit. Kelebihan yang lain, SS selalu membuat antitesa. “Mestinya bermusik nggak, (SS) berberita. Sebetulnya studio itu di pinggir jalan raya yang mentereng nggak (SS) di gang sempit. Padahal target audiensnya menengah atas. Kebijakan-kebijakan pemasarannya antitesa. Ketika dulu adlibs jauh lebih murah dari spot iklan, SS nggak, lebih mahal,” bebernya.

    DJOKO yakin kebijakan antitesa seperti itu dibuat manajemen SS bukan untuk aneh-anehan, tetapi disadari sepenuh hati. Artinya, kalau SS dinilai berhasil di usia ke 25 ini, satu diantara cirinya adalah mempunyai perencanaan yang baik dan bukan sesuatu hangat-hangat tahi ayam.

    “Hari ini Mas TOJO ingin apa, besok lahir, lusa gak suka hilang lagi. Bukan begitu. Radio masih banyak yang bermain seperti itu tidak terkonsep dengan bener,” ungkapnya.

    Dan SOETOJO, imbuh DJOKO, orang yang sangat cerdik untuk berdiskusi dengan orang lain guna menangkap gagasan-gagasan baru. Barangkali itu satu faktor penting kenapa gagasan di SS ini sering sukses, walaupun ada beberapa yang gagal, tapi itu wajar saja. Itulah yang membuat SS menjadi sebuah fenomena.

    Sebagai rekan akrab dua pilar penting di SS, DJOKO menganggap keduanya sebagai sinergi pertemuan dua insan yang klop. “Kalau seandainya ERROL nggak ketemu Pak TOJO mungkin masih di print media, mungkin juga dia berhasil. Tapi terlihat ERROL berhasil merintis karier yang relatif baru,” tuturnya. Baru, karena saat itu jurnalis radio masih dipandang sebelah mata. Radio pun masih dibayang-bayangi RRI.

    Ternyata terbukti keduanya berhasil. SOETOJO bisa membuktikan radio itu bukan ecek-ecek, dan gagasan yang muncul bisa diterjemahkan oleh ERROL. Ibarat motor, keduanya adalah mesin dan bensin. Yang satu tak akan jalan tanpa yang lain.

    Jika ditanya, apa itu radio? DJOKO pasti menjawab SS. Meski ia adalah orang luar di SS. Tapi, Ketua Dewan Penasehat PRSSNI Pusat ini tertarik untuk bisa berperan sekecil apapun agar radio yang sudah menjadi ikon ini jangan roboh. “Saya pribadi berkepentingan, industri ini berkepentingan. Sampai mimpi-mimpi saya banyak SS-SS yang lain,” ujarnya.

    Sampai hari ini, DJOKO belum menemukan radio lain seperti SS. Kalau hanya sukses dari sisi bisnis dalam artian rupiah, sudah banyak. Tapi dalam konteks media, belum banyak yang sesukses SS.

    SS sukses mengawinkan hiburan dengan berita, dan kemudian mengembangkan diri menjadi SS Media, menjadikan SS sebagai fenomena yang berbeda. “Kalau secara naif begini, coba dengar SS terus dengerin radio manapun. Anda akan merasakan nuansanya walaupun Anda nggak menemukan kalimatnya. Nah, disitu itu SS berbeda dengan yang lain,” papar pria yang juga tergabung sebagai Dewan Penasehat Pengurus Daerah PRSSNI ini.

    Meski bisa dikatakan berhasil, namun SS tidak boleh berhenti. Masih banyak yang harus dieksplor, karena masyarakat memang dinamis, dan tidak bisa berhenti. Ketika kesuksesan SS sudah berlangsung sekian tahun ini tidak dipikul sebagai sebuah beban, tapi diterima sekedar sebagai kebanggaan, DJOKO khawatir banyak yang bisa nyalib SS. Kalau sudah begitu, SS pun berhenti.

    Kalaupun SS tidak melihat adanya pesaing, yang menjadi tantangan terbesar bagi penyiar dan semua krunya justru kedinamisan pendengarnya yang sangat cepat. “Kalau kau berhenti, ditinggal Anda. Saya khawatir kru SS belum berkeringat untuk uber-uberan disana,” kata DJOKO pada suarasurabaya.net, Senin (02/06/2008).

    Pria yang saat ini sedang menempuh program S3-nya di Ilmu Ekonomi Universitas Airlangga ini juga mengeluhkan kesan elitis yang masih dimiliki SS. Berita-berita SS cenderung menyuarakan elit, entah pejabat ataupun tokoh. Sedangkan, sisi grass road tak diungkap.

    “Ketika PK Lima ‘disapu’ yang diwawancarai Satpol PP, yang diwawancarai Wawali. Mana jeritan orang kaki lima ? Nggak sepadan,” ujar DJOKO. Dirinya bermimpi, SS bisa melengkapi fungsinya sebagai public sphere (ruang publik), tempat masyarakat berdialog, antara yang menguasai dan yang dikuasai. SS hanya melakukan satu arah.

    “Gali dong, apa yang dirasakan mereka (grass road). Saya nggak mendengar 715 Surabaya, bagaimana tuh grass road merasakan 715 tahun. Dan ketika mereka merayakan ulang tahun, BBM naik. Apa yang ada di hati mereka ketika mereka sedang berpikir angkot naik, semua naik, dan kemudian ada pesta kembang api. SS nggak menanyakan tuh. Public sphere masih lobang, belum lengkap,” jelasnya.

    Seharusnya, fungsi media massa ada disitu. Bertemu di ruang publik yang disediakan media hingga terjadi dialog. “Dan ini peran besar, hati-hati ketika ada kebuntuan komunikasi, bisa meledak,” katanya memperingatkan. Sejatinya, SS bisa mengambil peran, bukan sebagai orangnya Pemerintah, tapi sebagai media yang natural.

    Memang, target audiens SS bukan golongan bawah. Meski begitu, SS bisa ‘mendatangi’, mengajak berinteraksi dan sesekali meminta pendapat mereka. Kalaupun ada, DJOKO masih mendengar pada waktu wawancara dengan grass road, si penyiar berlagak seperti pejabat yang bertanya. Tidak dari sisi dan kebutuhan grass road. “Ini yang saya kepengen teriakkan di kupingnya orang SS,” tukasnya.

    “Contoh yang paling sering hampir setiap hari orang ngomel karena pengguna sepeda motor, kan? Pernahkah pengguna sepeda motor diwawancarai? ‘Kenapa kelakuanmu kayak begitu?’Nggak pernah. Saya sendiri pengguna sepeda motor, dan saya tahu persis sengsaranya kalau di sebelah kiri. Angkot berhenti seenaknya, bis ngetem, kena cerobong. Di kanan malah lebih nyaman bagaimana saya akan disiplin di sebelah kiri? Dan ini nggak terungkap. Yang terungkap cuma hardikkan, caci maki pengguna sepeda motor!” ujar Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik ini.

    Meski target market SS membidik kalangan menengak ke atas tapi diharapkan mereka memiliki kepedulian. Ketika ada kecelakaan kereta api karena penjaga palang pintu rel tertidur, harusnya diinvestigasi kenapa dia sampai tertidur. Ada dua angle yang bisa diambil untuk memandang setiap fenomena. Kalau hal tersebut dibenahi, maka ke depan, SS akan memiliki fungsi yang paripurna sebagai media massa.

    Mengutip kata-kata yang sudah populer, ‘mempertahankan itu jauh lebih sulit daripada merebut’. Dengan demikian, DJOKO berharap tidak satupun orang di SS yang besar kepala dengan usianya yang ke-25.

    Sebagai sebuah media, usia 25 tahun itu sesuatu. “Tetapi ketika saya bermimpi SS itu lebih dari 250 tahun, maka 25 tahun itu belum apa-apa. Mudah-mudahan SS berpikir bahwa 25 tahun belum apa-apa, agar prestasi demi prestasi bisa diraih ke depan. Kalau Anda mengatakan hari ini sudah sukses, maka rugilah publik SS,” pungkas DJOKO.(git/ipg)

    Teks Foto:
    1. JOKO W. TJAHYO
    2. JOKO (kanan) akrab dengan kru SS terlihat reporter MARTHA (berjilbab) dan INDAH staf produksi newsroom SS.
    3. Pendekar radio, SOETOJO SOEKOMIHARDJO, ERROL JONATHANS, dan DJOKO W. TJAHYO
    Foto: IPING dan EDDY suarasurabaya.net


    kirim berita

    SS Khalayak lain
  • 30 Juni 2008, 20:01:57
    Cak KADAR:
    SS Hidupkan Lagi Arek Suroboyo
  • 30 Juni 2008, 19:51:54
    Bincang Otomotif Berawal dari Iklan
  • 30 Juni 2008, 19:50:37
    JA’FAR TRIKUSWAHYONO
    'Kecolongan', Dengar Duluan dari SS
  • 30 Juni 2008, 19:43:00
    Tanya PMI ke SS
  • 30 Juni 2008, 17:30:42
    TRI RISMA HARINI
    Yang Marjinal Bisa Bicara
  • 26 Juni 2008, 19:45:35
    SS Ciptakan Two Way Communication
  • 25 Juni 2008, 19:30:31
    AHMAD JABIR:
    Hubungan dengan SS Lahir Batin
  • 25 Juni 2008, 16:17:10
    Lurahe SS:
    SS Jadi Obat Kekesalan
  • 25 Juni 2008, 12:17:29
    BAMBANG SUGENG:
    Usul Putar Lagu Kelas Bawah
  • 22 Juni 2008, 18:38:05
    Corporate Speaker PLN Jatim:
    Narasumbernya Jangan Itu-itu Saja


  • copyright 2008 suarasurabaya.net, all rights reserved.
    kontak redaksi |