SS home | SS greeting | SS terima kasih | SS anugerah| SS galeri | SS momen


SS tempodoeloe
GEDUNG TAHUN 1983 VS 2008
SS Menu
  • SS Sejarah
  • SS Khalayak
  • SS Event
  • Untung Ada SS

  • SS Jingle
  • SS - 30 Tahun
  • SSFM 100 - Country
  • SS-Anytime, Anywhere
  • SS Today
  • SSFM 100

  • SS galeri

    CANDA GUS IPUL WAGUB JATIM
    arsipSS galeri


    Kirim Ucapan HUT SS
    Jaga Khazanah Surabaya!!
    Selamat....semoga Tuhan meridhoi
    jaga Khazanah Surabaya!!!
    Dari: Yatim Sbhakti, Surabaya
    ysbhakti@yahoo.com
    Selamat Ulang Tahun Suara Surabaya
    Saya mengucapkan Dirgahayu Radio Suara Surabaya ke-30 Tahun. Semoga makin jaya diudara
    Dari: Salsabil Rifqi, Surabaya
    rifqiqatrunnada@yahoo.co.id
    Selamat Ultah SS...makin berumur, luar biasa ...
    Kian hari Radio Suara Surabaya makin
    banyak memberikan kontribusi bagi
    kepentingan masyarakat dalam
    membangun bangsa dan negara
    Kesatuan RI.
    Bukan hanya disukai, dicintai bahkan
    makin dibutuhkan semua pihak, menjadi
    saluran komunikasi masyarakat dengan
    pemerintah dan sebaliknya sehingga
    dapat bersinergi dalam membangun
    bangsa ... Terimakasih SS Jayalah di
    udara satukan Nusantara dengan
    Pancasilanya ...
    Dari: Murgunadi, Surabaya
    mrgugun@gmail.com
    sukses dan jaya
    semoga selau mengudara. sampai anak cucu
    selamat ultah ya SS.
    Dari: danes anthonius, sidoarjo
    anthonius.danes@yahoo.co.id
    ULTAH SSFM ke 29
    Semoga jaya di udara
    Dari: MASRUL, JEMBER
    Masroel74@yahoo.com
    Selamat Ultah ke 30 TH
    Saya kenal SS pada th 1990, waktu itu mulai kerja dan iseng-iseng dengarkan radio, kok ada ya radio yang mau susah payah memberikan informasi jalan toll dan kepadatan lalulintas, apa ya laku (maklum pikiran orang desa yang baru kerja ke kota).. EEee ternyata sekarang luar biasa, rasanya ada yang kurang kalau tidak TUNE IN dengan SS setiap hari diperjalanan. SELAMAT ULTAH, Semoga semakin cerdas dalam segala hal dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat dan selalu netral, amin,,,!
    Dari: Adi Aryanto, Sidoarjo
    anto_snd11@yahoo.com
    Met ULTAH SS yg ke 29
    Semoga dengan bertambahnya usia, bertambah maju kualitas siarannya, kualitas penyiarnya dan bertambah banyak penggemarnya........
    Dari: NOVI KURNIATI, SIDOARJO
    novikur@gmail.com
    SELAMAT ULANG TAHUN
    SUGENG AMBAL WARSO
    khatur Radio SUARA SURABAYA
    Mugi2 panjang Yuswo lan tetep JOYO WONTEN GEG0N0
    Ugi tansah paring Inspirasi ingkang tinuju Kabeci'an lan saget Nggulowentah Pendengaripun kanti IKLAS.
    Saking Jember SS 100mhz dipun midangettaken 10 Dua Njeduk sena0s0 w0nten Padusunan.
    SUGENG AMBAL WARS0
    SUARA SURABAYA fm 100mhz ikang kaping 30.
    From Gondo Slamet Jember
    Dari: Gondo Slamet, jember
    Slametgondo@gmail.com
    29thn.
    Selamat dan sukses selalu SSFM100. Meraja diUdara, meraja diHati, meraja diKarya,... Dahsyattttttt.
    Dari: Johan Budhie Sava, Malang - Surabaya
    jbsava@togamas.co.id
    Selamat Ulang Tahun ke 28
    Seluruh Direksi dan Karyawan PT. Margabumi
    Matraraya Pengelola Jalan Tol Ruas Surabaya
    - Gresik mengucapkan Selamat Ulang Tahun
    ke 28 Semoga SS Tetap Jaya dan Selalu
    Menjaga Objektifitas serta diberi kesehatan
    bagi seluruh kru dan karyawan oleh Tuhan
    Yang Maha Esa.
    Dari: PT. Margabumi Matraraya, Surabaya
    ops@margabumi.com


    SS Sejarah

    12 Juni 2008, 18:09:41

    Newsroom Penuhi Informasi Pendengar SS
    suarasurabaya.net| Eksistensi newsroom merupakan respon dari Suara Surabaya (SS) terhadap perkembangan berita dan kebutuhan informasi pendengarnya. Dulu, masyarakat hanya disuguhi informasi dari relay siaran saudara tua, RRI. Jaman orde baru, terutama, sekitar tahun 1980 hingga pertengahan 1990an, seluruh media diwajibkan untuk merelay berita dari RRI atau TVRI.

    Padahal, siaran berita dua stasiun itu tidak bisa dipastikan waktunya. Jika ada siaran khusus, seperti kunjungan orang tertentu dari kalangan VVIP atau temu wicara, relay bisa lebih lama. Alhasil, media-media lain harus mengalah untuk tidak dulu menampilkan acara lain sebelum siaran berita itu selesai.

    SS pun sadar, kebutuhan informasi yang cepat dengan pendengar yang beragam tidak bisa lagi hanya mengambil dari RRI atau TVRI. Akhirnya, dibentuklah tim kecil yang khusus mengelola newsroom.

    BAMBANG PURWADI, BIPPY ANDERSEN, INDRA MARSONO, dan DIDIED WARDOYO termasuk ERROL JONATHANS kala itu bertugas di pemberitaan. Mulai dari mencari, mengetik, sampai membaca dilakukan sendiri oleh mereka. Sudah menjadi suatu hal yang lumrah di SS, reporter merangkap dengan tugas yang lain. Tak terkecuali nama-nama yang disebut diatas, selain di pemberitaan mereka juga reporter.

    Setelah tahun 1990an, tepatnya antara 1999-2000, sejalan dengan lahirnya UU Penyiaran yang memperbolehkan radio siaran swasta tidak harus merelay, SS diberi kebebasan untuk memperoleh informasi. “Nah, organisasi tim newsroom itulah yang memasok kebutuhan produk pemberitaan SS,” terang IMAN DWIHARTANTO, News Manager SS.

    Kavling-kavling yang dulu diisi relay berita RRI menjadi kosong, yaitu pukul 06.00, 07.00, dan 20.00. Disitulah muncul ide. “Ya udah karena kita mainnya informasi dan news, kita create sendiri, kita produk sendiri, kita tampilkan di kavling-kavling itu, sekarang akhirnya BSS (Berita SS) dan LISS (Lintasan Informasi SS),” kenang IMAN seperti yang diceritakannya pada suarasurabaya.net, Rabu (14/05/2008).

    Untuk LISS sendiri memang sudah ada sebelumnya sejak kira-kira 1992-1993. Waktu itu, materinya hanya 3-4 berita, sesuai namanya yang selintas. “Jadi, kita buatkan berita-berita pendek, komposisinya luar negeri, regional, nasional, isu internasional yang hot, olahraga, ekonomi,” ujar IMAN.

    Khusus untuk ekonomi, pada tahun-tahun itu, SS masih mengandalkan 1 orang reporter, yaitu BIPPY ANDERSEN. Dialah yang mengelola sektor berita-berita ekonomi. Tidak bisa hanya bergantung pada reporter, maka IMAN pun berpikir, mencari solusi lain. “Suatu saat aku melihat ini ada tv ada parabola, aku coba tuning, ini ada info ekonomi. Coba deh tak cari dari sana,” ceritanya. Informasi pun didapat dan sampai sekarang tim newsroom bergantung pada sarana internasional untuk informasi ekonomi plus masuknya AFP.

    Dijelaskan IMAN, kebutuhan pendengar akan informasi terus berkembang. Dulu, berita yang tampil seputar perjalanan SOEHARTO, Presiden RI ke 2. Jika RRI memberitakannya ala RRI, maka SS mencari sesuatu yang lebih ringan untuk diinformasikan. “Jadi ibaratnya kalau saya mendengarkan SS itu saya berpikiran atau berimajinasi jangan sampai pendengarku itu mengernyitkan dahi untuk mendengarkan berita Suara Surabaya, jadi supaya kita bisa santai sambil nyetir, sambil jalan, sambil beraktivitas, sambil apa sajalah,” jelasnya.

    Isu-isu yang diangkat dalam pemberitaan sangat beragam. Mulai kegiatan kota (dulu bernama agenda kota), lalu hasil liputan reporter, agenda pejabat mengikuti peresmian. Di peresmian itu pula biasanya kumpul pejabat-pejabat VVIP, tamu undangan lainnnya yang bisa dijadikan sumber informasi yang berbeda dengan RRI.

    Jurnalistik yang Mandiri

    Dalam perjalanannya, newsroom mengambil berita yang berlangganan dari Kantor Berita Antara, AFP dan Xin Hua, dan tentunya hasil liputan dari reporter. Namun, satu hal yang pasti SS tidak melakukan relay berita dari radio lain. Untuk yang satu ini, ERROL JONATHANS, Direktur Operasional SS Media, menjelaskan bahwa perkara yang terbesar adalah masalah news value.

    Kalau SS harus merelay radio asing atau radio lain dalam kurun waktu 30 menit, maka apakah betul semua informasi itu dibutuhkan oleh pendengar. “Lebih bermanfaat mana 30 menit saya sampaikan, saya berikan ke pendengar untuk pendengar itu mengisinya sendiri atau itu pekerjaan reporter saya atau newsroom yang tahu persis yang sedang dibutuhkan pendengar itu apa saat ini,” ujar ERROL pada suarasurabaya.net, April lalu.

    Dengan merelay, tambah ERROL, bukanlah sebuah kebanggan bagi SS, karena artinya SS menyiarkan karya orang lain. “Dan saya menganggap kalau saya merelay, radio saya belum melakukan apa-apa, kan itu aku cuma ketitipan paketnya dari orang lain, saya cuma meneruskan saja,” ungkapnya. Bagi ERROL, kemandirian khususnya dalam hal jurnalistik, itu perlu. SS memiliki kompetensi untuk untuk memproduksi berita sendiri sesuai dengan keinginan segmentasnya.

    Tidak Mengail di Air Keruh

    Dalam pemberitaan, SS tidak memiliki kebijakan secara spesifik. Asalkan aman, dan berlandaskan pada visi-misi. Meskipun visi-misi itu baru bisa benar-benar diterapkan di era reformasi. Namun, saat itu, IMAN dan kawan-kawan berusaha menciptakan produk informasi yang tidak membuat situasi makin heboh, rusuh, ataupun kacau.

    IMAN mencontohkan, dulu, informasi soal unjuk rasa tidak pernah disebutkan ada unjuk rasa sebebas sekarang. “Kalau dulu kita gak bunyi seperti itu (unjuk rasa, red). Ada kegiatan kelompok masyarakat, ada kegiatan mahasiswa di jalan ini, ini, ini, berdampak ini. Kegiatan apa? Apakah itu bersih-bersih desa, gotong royong, kita gak sebutin, ada kegiatan, selesai,” terang IMAN.

    Kondisi seperti itu, semata-mata untuk menjaga agar situasi tidak semakin keruh, semakin kacau, dan semakin runyam. Apalagi tahun 1997-1999, ketika para mahasiswa menuntut reformasi, situasi Surabaya sangat sensitif dengan isu-isu etnis. Isu-isu yang marak di Jakarta, dimana ada perempuan-perempuan etnis diperkosa, dijaga betul agar apa yang terjadi di Jakarta tidak terjadi di Surabaya. Prinsip SS, kata IMAN, jangan sampai mengail di air keruh.



    Pemberitaan terkadang menuai protes. Ini juga sempat terjadi pada SS. Misalnya, ketika pendengar SS mulai berani memanfaatkan sarana telepon untuk tampil di udara dan merespon tentang aktifitas sebuah partai. Apapun yang disampaikan di SS baik dari reporter maupun dalam bentuk berita, selalu dikomentari oleh pendengar tersebut. Kebetulan, ada satu anggota partai yang sensitif. Kelompok partai tersebut pun mendatangi SS. “Dua mobil kesini dengan seragam lengkap. Tidak hanya cuma 1 partai, ada beberapa partai,” kisahnya.

    Pengalaman lain, berita tentang pungutan sebuah partai di wilayah industri di Surabaya Barat. “Kita coba kroscek dengan narasumbernya, disangkal, dibantah. Besoknya datang kelompoknya kesini (ke SS, red) nanyain siapa yang lapor, siapa yang bilang. Ya, namanya media diurug-urug biasalah seperti itu,” ungkap IMAN.

    Selama menangani divisi pemberitaan, situasi paling mengesankan yang dirasakan IMAN waktu peliputan bencana banjir di Pacet, Mojokerto. Kondisinya benar-benar sangat terbatas karena sarana seluler di daerah itu tidak bisa diakses. “Sarana seluler di Pacet itu di lokasi bencana, ancur-ancuran dan itu betul-betul kita harus kerja keras sampai-sampai perusahaan, SS, menyediakan telepon satelit,” kenang IMAN.

    Yang juga mengesankan adalah ketika berkesempatan untuk relay langsung pengambilan sumpah gubernur di Gedung DPRD Jatim tahun 2003. “Itu betul-betul kita relay, full pengambilan sumpah Pak IMAM UTOMO dan SOENARJO, itu yang paling asyik,” kata IMAN. Sebab, setelah siaran itu, banyak telepon-telepon masuk untuk memberikan informasi sekaligus masukan.

    Digitalisasi Teknologi

    Walaupun baru menjadi Manager News sekitar tahun 2003, tapi IMAN mengalami setiap perkembangan yang terjadi pada bagian pemberitaan. Soal peralatan, misalnya. Peralatan reporter sekarang lebih sederhana daripada dulu. Seperti alat yang bernama porta 2. “Bisa dibilang itu perangkat yang layaknya seperti studio kecil, itu mereka ya nyantai aja gitu,” ujar IMAN.

    Diceritakan IMAN, ukuran porta 2 layaknya tas koper tukang jual obat yang dibawa kemana-mana. “Mereka juga harus lari sana-sini untuk getting suara, naik motor, kehujanan,” tambahnya.

    Apalagi waktu rekaman belum ada teknologi digital. Alhasil, tape mbulet tidak terekam menjadi hal yang biasa. IMAN pernah mendampingi BIPPY ANDERSEN, reporter saat itu. Setelah melakukan wawancara panjang lebar dengan pengamat ekonomi di gedung bursa efek dan mendapatkan informasi dari berbagai angle, dalam keadaan hujan mereka menuju ke tempat parkir. Ternyata ketika didengarkan kembali, kaset mbulet. “Ya sudah mau diapain lagi, terpaksa kembali lagi, rekaman lagi. Untungnya narasumbernya juga pengertian,” ujar IMAN.

    Teknologi digital dirasakan IMAN sangat membantu. Sejak 2004, ada marantz, yang bisa lebih diandalkan oleh reporter di jaman yang seba digital ini. Dari sisi standart kualitas audio, ternyata marantzlah yang sesuai dengan kebutuhan di ruang produksi.

    Usil dan Ingin Tahu

    Reporter memang menjadi ujung tombak suatu pemberitaan. Demikian pula halnya dengan reporter SS. Karena dari merekalah berita itu didapat. Seorang reporter harus senantiasa usil dan ingin tahu. “Usil dalam artian dia harus mau untuk berpikir dengan bahasa Jawanya, mosok,se? temenan, ta? Atau dalam bahasa skeptis, jangan mudah percaya dengan apa yang dikatakan orang. Dan ingin tahu. Kalau dia berangkat dengan iya,ta? Masak, se? Bener, ta? Terus dia akan tergerak untuk mencari tahu benernya seperti apa?” terang IMAN.

    Syarat berikutnya untuk menjadi reporter adalah dia juga harus supel. Karena reporter lapangan pasti mewakili induk perusahaan sehingga harus bisa mencitrakan perusahaan SS yang memang profesional . “Jangan sampai kita dianggap radio murahan karena itu juga merupakan perjuangan yang kita lakukan sejak dulu,” kata IMAN. Para reporter SS memang sempat dipandang sebelah mata. Maklum, di awal 1990an, hanya wartawan-wartawan cetak dan televisi yang diakui.

    “Sekarang ya inilah rintisan dan kenikmatan, jadi reporter SS dan reporter manapun radio itu, sekarang mendapat akses dan kemudahan karena rintisan kawan-kawan jurnalis tidak hanya kawan-kawan SS tapi rekan-rekan jurnalis radio terhadap kepedulian industri itu sendiri,” tegas IMAN.

    Sebagai seorang manager, IMAN memberikan kebebasan untuk mengeksplorasi potensi dalam membuka jaringan. Bahkan IMAN menganjurkan untukmembuka jaringan di luar semaksima mungkin. “Gak ada istilahnya aku membatasi begini-begini. Hanya kuncinya cuma satu, majikan kita adalah pendengar. Bukan kelompok yang kita datangi, bukan organisasai di bawah naungan kita atau bahkan SS. Beritamu itu didengarkan pendengar. Kalau pendengarnya oke, gak ada masalah, oke,” jelasnya.

    Dilematis

    Keberadaan reporter yang langsung berhadapan dengan narasumber seringkali menimbulkan kondisi dilematis. Terutama jika itu sudah berkaitan dengan ‘amplop’ atau fasilitas lain. Haruskah diterima ataukah tidak? Jika diterima apakah akan mempengaruhi obyektifitasnya sebagai jurnalis, dan bertentangan dengan kode etik jurnalisme.

    IMAN sendiri pernah menerima amplop yang berisi uang, tapi lalu ditolak dan dikembalikan. Sebagai penanggungjawab pemberitaam, ia sering menekankan pada anak buahnya, semua itu berpulang pada nurani masing-masing. Pada dasarnya seorang reporter harus bertanggungjawab pada dirinya sendiri dan pendengarnya.

    “Katakanlah kalau ada yang sampai menerima dan di belakang baru ketahuan tentu namamu sendiri yang rusak dan nama SS. Kalau nama SS kredibilitas rusak, berarti kamu gak sayang sama SS,” ujar IMAN seperti yang dikatakannya kepada anak buahnya. Yang jelas, perusahaan, dalam hal ini SS, tidak memperbolehkan menerima imbalan dalam bentuk apapun.

    Bentuk pemberian dari narasumber tidak melulu berupa amplop atau uang. Kemudahan fasilitas juga sering didapat sebagai konsekuensi menjadi bagian dari sebuah media yang cukup dikenal, sebagaimana Suara Surabaya. Seperti prioritas pelayanan dan mendapat kemudahan akses meliput.

    Tim reporter beberapa kali mendapat undangan untuk menghadiri sebuah agenda. Dan seluruh akomodasi dilayani oleh si pengundang. Terkadang ini pun tidak bisa ditolak. “Sangat tipis sekali benangnya itu sebuah suap atau kemudahan yang memang menyertai statusnya sebagai orang Suara Surabaya,” ujar IMAN. Yang diutamakan IMAN adalah nurani. Jika memang nurani mengatakan tidak berarti harus ditegaskan untuk menolak.


    Pengiriman Reporter

    Pendengar SS tentu hafal dengan 2 reporter yang saban hari melapor ke SS dari Jakarta. Mereka adalah JOSE ASMANU dan FAIZ FAJARUDIN. IMAN menceritakan JOSE dulunya adalah freelancer SS yang ngeposnya di Istana Negara, Jakarta. Namun, akhirnya ia statusnya berubah menjadi reporter tetap SS.

    Sedangkan FAIZ, sempat bertugas di Surabaya. Baru kemudian 2005, ia pindah ke Jakarta untuk berkumpul bersama keluarga sekaligus melaporkan kondisi Jakarta untuk SS, mendampingi JOSE.

    Sebetulnya, kata IMAN, SS memiliki rencana untuk mengirimkan reporter lain bertugas di luar kota. Guna melayani kebutuhan pendengar terhadap berita di seluruh Indonesia. Karena, SS sudah bisa didengarkan di seluruh dunia melalui internet (www.suarasurabaya.net) dan satelitnya, sehingga tidak melulu bercerita soal Surabaya. Tapi, menurut IMAN keinginan itu sepertinya harus dipendam dulu karena ada hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan. “Karena ekspetasi dari pendengar SS itu semuanya tinggi lalu dengan alokasi man power yang kita kelola, jangankan yang di luar kota lha wong disini aja kita masih harus berjuang gigih,” kilahnya.

    IMAN rupanya memiliki harapan tersendiri untuk SS. “SS ditunggu-tunggu layaknya orang baca Kompas, nonton CNN di masa silam. Atau Dunia Dalam Berita waktu TVRI masih solo,” harapnya.

    Tidak ada karya jurnalistik yang paripurna, selalu ada celah, selalu ada cacat. Demikian yang selalu diingat IMAN dari guru-gurunya, termasuk DJOKO W. TJAHYO dan ERROL JONATHANS. Dengan demikian, selalu ada peluang bagi karya itu untuk bisa dikoreksi dan dikritisi. Sampai sekarang, SS khususnya newsroom, masih terus berbenah untuk menampilkan sesuatu yang baik.

    "Jadi, katakanlah kalo ada yang tidak sesuai kita akan selalu berusaha untuk bisa nututi untuk bisa memenuhi harapan pendengarnya sendiri," kata IMAN.

    Ia juga berpesan untuk kawan-kawan di pemberitaan agar terus membekali dirinya dengan informasi-informasi, teknologi terbaru dan perkembangan-perkembangan knowledge, skill yang paling mutakhir. “Sebab aku lihat disini, pendiri juga owner SS ibaratnya dodol tinuku , apa yang bisa kau lakukan untuk SS sehingga SS bisa unggul dan dinanti orang, nanti reward itu akan datang sendiri,” tandasnya.(git/ipg)

    Teks Foto:
    1. Sibuknya newsroom
    2. IMAN DWIHARTANTO : Jangan sampai kita dianggap radio murahan karena itu juga merupakan perjuangan yang kita lakukan sejak dulu.
    Foto: EDDY suarasurabay.net

    kirim berita

    SS Sejarah lain
  • 10 Juni 2013, 22:07:09
    Transformasi dan Inovasi Media : Kekuatan Radio Yang Berlipat Ganda
  • 10 Juni 2013, 21:07:54
    30 Tahun Suara Surabaya
    Satu Legenda Hidup Itu Bernama Rini Puspita
  • 10 Juni 2011, 19:33:32
    Tahun ke 28 Radio SS
    Menangkap Seberkas Cahaya
  • 30 Juni 2008, 15:33:34
    ISA ANSHORI Bicara Jazz
  • 30 Juni 2008, 11:28:01
    JOSE ASMANU, Menyuarakan SS di Jakarta
  • 30 Juni 2008, 11:10:10
    Suara Stress yang Suka Putar Jazz
  • 30 Juni 2008, 11:06:07
    ADJIE S. SOERATMAJIE
    'Alumni' SS Berbagi Ilmu
  • 30 Juni 2008, 11:03:05
    Menyingkap Masa Lalu Bersama IMAN DWIHARTANTO
  • 16 Juni 2008, 19:16:03
    Gatekeeper
    Jaga 'Gawang'nya SS
  • 16 Juni 2008, 16:31:21
    'Suara Surabaya' Bukan Mentereng Gengsi


  • copyright 2008 suarasurabaya.net, all rights reserved.
    kontak redaksi |