SS home | SS greeting | SS terima kasih | SS anugerah| SS galeri | SS momen


SS tempodoeloe
RUANG GATEKEEPER
SS Menu
  • SS Sejarah
  • SS Khalayak
  • SS Event
  • Untung Ada SS

  • SS Jingle
  • SS - 30 Tahun
  • SSFM 100 - Country
  • SS-Anytime, Anywhere
  • SS Today
  • SSFM 100

  • SS galeri

    CANDA GUS IPUL WAGUB JATIM
    arsipSS galeri


    Kirim Ucapan HUT SS
    Met Ultah 30
    SELAMAT ULANG TAHUN SS ke-30.
    salut sama SS.
    semoga tambah sukses n maju selalu.
    pendengarnya tambah banyak, juga bisa jadi
    pedoman dalam banyak hal.
    sekali lagi selamat buat seluruh komponen
    didalamnya.
    Dari: made oka, sidoarjo
    deka1402@yahoo.co.id
    Selamat Ulang Tahun Suara Surabaya ke-29
    Supermal Pakuwon Indah, PTC, Citywalk dan The Oasis Resto & Playground Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Suara Surabaya ke-29. Semoga Bertambah Jaya dan Terus Maju. Surabaya lebih Bersuara dengan adanya Suara Surabaya.
    Dari: Management Supermal Pakuwon Indah & PTC, Surabaya
    supermalinfo@pakuwon.com
    Ulang tahun ke 30 SS
    Ass Wr Wb, Selamat Ulang tahun Suara Surabaya yang ke 30 , semoga semakin bertambah usia semakin bermanfaat bagi kita semua dan semakin barokah, tetap semangat dan terus maju ...Wassalam
    Dari: Aula Rizka Prihandyawan, Mojokerto
    export_doc@mertex.co.id
    Dirgahayu SSFM ke-28
    Met Ultah untuk SSFM yg ke-28 moga slalu
    tetap menemani kita serta kawan smua yg tiada
    kenal lelah.....
    SSFM jayalah slalu di udara...
    Dari: eka andry sumarwan, surabaya
    exxa_andry@yahoo.com
    ucapan & INFO
    SUARA SURABAYA TETEP DIHATI MASYARAKAT JAWA TIMUR KHUSUSNYA WARGA JOMBANGAN "PANCEN NYOTO"

    INFO:IKUTI KURSUS SEHARI JADI WARTAWAN & LOMBA PHOTOGRAFI "JOMBANG POS" Tingkat SMU-Umum Hari Minggu, Tanggal : 23 Oktober 2011, Jam : 08.00 Wib s/d Selesai, Tempat : Bromo No. 27b Karangtimongo Ds. Denanyar Jombang, PESERTA TERBATAS, Kontribusi Rp. 250.000,- Fasilitas: Sertifikat, Makalah Pelatihan, Kaos, Makan Siang/Malam dll, INFO PENDAFTARAN: (0321) 6102755, hP. 081335521313
    Dari: harso, jombang
    jombangpos
    Selamat Ulang Tahun
    Selamat Ulang Tahun
    Dari: Warga, Surabaya
    warga@surabaya.com
    Suara Surabaya he Nijuu kyuu sai ni Otanjoubi Omedetou Gozaimasu..BANZAIIIIII
    untuk seluruh kru selamat bertugas
    Dari: Dwi Retno Wahyuningtyas, Surabaya
    lovemusic01@yahoo.co.uk
    radio aspirasi
    selamat ultah ke-30, SSFM,jaya di udara !!
    sebagai radio informatif,aspiratif,yg terdepan di Sby,adalah tempat curahan masyarakat thd permasalahan2 sosial..Sukses Selalu= SS !!....
    Dari: debi kurniawan, balongbendo-sidoarjo
    debikurniawan89@yahoo.co.id
    Selamat Ulang Tahun
    Selamat dan Selamat, Dihari yang special
    indah ini semoga mengalir Barokah yang
    bermuara ke damai sejahtera membawa
    kemakmuran dan jaya. Sukses
    Dari: Kombali, Surabaya
    kom_bali@yahoo.com
    tanpamu
    Tanpamu, berkendara serasa hampa
    Tanpamu, informasi bakalan basi
    Tanpamu, masalah kota makin tak
    tertata
    Tanpamu, rute perjalanan dijamin
    aman

    Denganmu, jalan macet tak terlalu
    mumet
    Denganmu, memorabilia jadi ajang
    nostalgia,
    Denganmu, jazz traffic makin
    terdengar apic
    Denganmu, kelana kota makin
    melegenda...

    Happy anniversary, SS! Makin
    mantap!
    Dari: sonny cornado, surabaya
    cornado316@yahoo.com


    SS Sejarah

    24 Mei 2008, 11:36:28

    ADIRIFI, Pencetus SS Magazine
    suarasurabaya.net| Memasuki era reformasi , sekitar tahun 1998, pukul 01.00 dini hari, ADIRIFI, Reporter Suara Surabaya ditelepon Mayjen TNI DJADJA SUPARMAN. “Bos (panggilan DJADJA kepada RIFI), datang ke Raya Darmo, ada pertemuan penting !” ucap DJADJA kala itu. RIFI pun meluncur ke tempat yang dimaksud. Disana ternyata sudah ada petinggi-petinggi di Jawa Timur, diantaranya Gubernur dan DJADJA sendiri yang saat itu menjabat sebagai Pangdam V Brawijaya. Kebetulan, saat dipanggil, RIFI masih di kantor.

    RIFI mewawancarai petingi-petinggi Jatim yang hadir pada pertemuan itu. Dari hasil wawancara itu, RIFI mendapatkan statemen-statemen yang kondusif dan menenangkan suasana di Jawa Timur yang memang dikhawatirkan memanas kena imbas reformasi. Bahkan, beberapa masjid di Surabaya merelay siaran Suara Surabaya karena statemen yang menenangkan itu.

    Keramaian yang terjadi pada saat reformasi memang berbeda di setiap daerah. Terlebih di Jakarta yang memang lebih ramai dan lebih menegangkan, mengingat banyak tokoh pergerakan yang berada di sana. Meski demikian, di Surabaya juga dipenuhi dengan mahasiswa-mahasiswa yang turun ke jalan.

    Beberapa Perguruan Tinggi Negeri di Surabaya melakukan konsolidasi dan sering memanggil para reporter untuk datang ke kampus mereka, guna menyampaikan ke masyarakat hasil konsolidasi tersebut. “Karena pada waktu itu, teman-teman (reporter, red) berkomitmen memberikan ketenangan pada warga di Surabaya dan sekitarnya, itu yang kami pegang bahwa kami ingin memberikn ketenangan pada masyarakat meskipun pergolakan seperti itu,” papar RIFI.

    Akibat gemuruh reformasi pula, RIFI dan reporter SS yang lain harus bergantian tidur di beberapa tempat, diantaranya di Grahadi. Keputusan itu dibuat selain karena bisa terus memantau setiap perubahan yang terjadi, juga lantaran protes pendengar. Pendengar akan marah jika tahu reporter tidak berada di lapangan. “Reporter kok di rumah, reporter kok di studio?” ujar RIFI menirukan protes pendengar kala itu.

    RIFI merupakan satu diantara reporter Suara Surabaya yang mengikuti perubahan SS, dari masih dalam keterbatasan hingga merasakan kemudahan secara teknologi. Ia menjadi reporter SS sejak 1992, setelah sebelumnya selama 10 tahun sebagai penyiar di dua radio swasta berformat AM.

    Suara Surabaya Magazine

    Sekitar tahun 2000, RIFI yang saat itu menjadi koordinator liputan SS magazine berinisiatif untuk menciptakan SS Magazine. RIFI melihat masih banyak dari hasil reportase yang tidak terpakai. “Sayang ya kalo kita wawancara 1 jam kita cuman reportase berapa menit, sih?
    Padahal banyak angel-angellain yang perlu disampaikan ke masyarakat,” ujar RIFI pada reporter SS yang lain waktu itu.

    Memang tidak semua hasil wawancara disampaikan saat reportase, karena justru akan mengganggu pendengar. Dikatakan RIFI, konsep menyampaikan sesuatu di radio itu singkat, padat, dan jelas. Sehingga yang dilaporkan oleh reporter radio hanya mengambil angle yang sekiranya paling dibutuhkan masyarakat. Atas dasar itulah, RIFI membuat majalah udara yang lebih in-depth tentang persoalan yang sama, dengan sudut pandang berbeda dari pihak-pihak yang terkait.

    “Kalau tadi wawancara gubernur barangkali kita tambahi hasil wawancara dengan pengamat atau pengambil kebijakan yang lain, kita coba menggarap in-depth, dari sisi itulah muncullah SS magazine,” tukas pria yang saat ini dipercaya sebagai Manager On-Air Giga FM, yang masih bernaung di bawah SS Media.

    Pada mulanya, SS Magazine diputar pada pukul 19.00. Dari hasil evaluasi dengan ERROL JONATHANS, Direktur Operasional SS Media, jam itu dirasa tidak potensial dan kurang cocok. Kemudian diusulkan untuk dipindah ke pukul 17.00, di jam padat traffic. Tapi, ternyata para reporter tidak berani untuk menghadapi tantangan itu karena kerepotan dengan sistem kerja, terkait dengan deadline, dan kesulitan lainnya. Akhirnya, disepakati SS Magazine disiarkan pukul 18.30, dengan pertimbangan masih banyak pendengar di jam itu, dan lalu lintas pun masih relatif padat. Kebanyakan, orang mendengarkan radio ketika di dalam mobil.

    “Dan program itu juga sama sekali tidak mengganggu activty laporan pendengar tentang lalu lintas, masih tetap diberikan kesempatan dengan model sekat-sekat, sekian menit kita cut, kita berikan kesempatan laporan lalu lintas,” terang RIFI pada suarasurabaya.net, Sabtu (12/05/2008).

    Di tangan RIFI, SS Magazine terdengar khas. Ia mampu menggambarkan detil kondisi orang dan peristiwa yang diceritakannya. Sehingga pendengar terbawa suasana dan seolah-olah berada di tempat kejadian. Misalkan, jika narasumber marah, dengan suaranya, RIFI pun menirukan gaya marah narasumber itu sebelum masuk ke suara asli narasumber.

    Respon pendengar terhadap program ini sangat positif. Karena mereka bisa menikmati atau mendengarkan kembali reportase yang belum mereka dengarkan atau yang mereka lewatkan. “Mereka dengar kembali lebih dalam lagi dan lebih senang lagi krn karena mereka bisa dengarkan statemen pejabat secara langsung,” ujar RIFI.

    Bos Kereng

    Tahun 2001, RIFI dipercaya menjadi koordinator liputan. Saat itu ia dikenal sangat tegas. Sampai-sampai ia membuat ‘peraturan’ agar diadakan sebuah forum bagi reporter anak buahnya untuk berdiskusi, membuat perencanaan maupun evaluasi. Mereka pun sepakat untuk bertemu setiap hari setelah memproduksi sebuah paket dari hasil reportase. Kemudian dievaluasi sekaligus membuat perencanaan untuk keesokan harinya. “Kita sekaligus merencanakan besoknya, kita bikin plan sekaligus, planA, plan B itu dibuat teman-teman, sebenarnya karena ingin meringankan tugas besoknya, itu menjadi sebuah prioritas bagi teman-teman,” ujar RIFI.

    Tapi, bila ada peristiwa besar terjadi, seperti kebakaran, tentu ini yang lebih diutamakan daripada rencana yang sudah dibuat sebelumnya. “Karena kepentingannya dan kebutuhan pendengar pada sisi ini, yang ini (yang sudah direncanakan,red) kita kebelakangkan dulu, tapi tetep harus kita buat , nilainya (nilai beritanya,red) kan berbeda,” kata RIFI.

    RIFI menegaskan sebagai seorang jurnalis, terutama radio, harus memiliki kepekaan dan inisiatif untuk datang ke sebuah peristiwa yang mungkin sangat dibutuhkan pendengar. “Aku kudu teko (Saya harus datang-red), barangkali itu yang harus diasah,” ujar RIFI. Kebutuhan pendengar, tambah RIFI, harus dipegang teguh. Karena jika kebutuhan tersebut tidak dipenuhi sama saja artinya tidak peduli dengan pendengar.



    Ketegasan pria ini juga nampak ketika ia juga menjadi editor yang harus mengumpulkan materi-materi reportase para reporter sebelum disiarkan di SS Magazine. Pukul 17.30 tepat, materi sudah harus jadi. Jika ketahuan masih sibuk di ruang rekaman, reporter itu akan ditinggal. Kalau reporter masih ada di lapangan, RIFI akan menelepon dan menanyakan berita apa yang akan mereka sampaikan. Sehingga sebelumnya punya kerangka dan bisa dibuat skala prioritas, berita mana yang disajikan pertama, kedua, dan seterusnya di SS Magazine. Hal ini konsisten dilakukan, agar tidak merugikan pendengar.

    Gara-gara menerapkan aturan yang saklak, ia sering dikatakan sebagai ‘Bos Kereng’ oleh anak buahnya. Alih-alih marah, ia justru senang dengan julukan itu. “(Saya) senang dikatakan teman-teman sebagai bos kereng, (harus) dipahami karena radio gak bisa diolor-olor, telat 5 menit aja, produk siaran kacau,” jelasnya

    Bagi RIFI, tim yang solid adalah yang kompak dalam segala situasi. Seperti yang dialami RIFI, ketika ia mendapat informasi ada kejadian di Surabaya yang harus diliput. Padahal, waktu itu ia berada di Sidoarjo, dan tidak memungkinkan untuk meluncur ke lokasi lantaran terlalu jauh. RIFI pun menghubungi rekan se-timnya yang lebih dekat dengan tempat kejadian. Seketika rekannyalah yang menindaklanjuti informasi tersebut. Kesiapan rekan se-timnya untuk memenuhi panggilan tugas ini yang diharapkan RIFI dalam sebuah tim. Tidak ada rasa berat ketika harus dipanggil tugas sewaktu-waktu, semata-mata karena tanggung jawabnya kepada masyarakat.

    Yang Beda

    Apa yang berbeda antara dulu dengan sekarang? RIFI menjawab, saat masuk di SS tahun 1992, dirinya masih dibekali dengan handy talky (HT). “Kesulitannya, tiap ngomong harus bergantian, apalagi kalau beinteraksi dengan penyiar harus lepas tombol yang bunyi sek..sek. Sebenarnya gak nyaman juga, dalam artian kalau kita lagi wawancara. Buat pendengar juga gak nyaman, karena ada distorsinya,” jelas RIFI.

    Dari HT kemudian beralih ke HP (handphone). Berbeda dengan sekarang. HP dulu masih berukuran besar dan tebal. Bahkan, RIFI masih menyimpan HP tersebut, untuk kenang-kenangan, katanya.

    Peralatan lain yang berbeda adalah peralatan merekam. Dulu, merekam masih menggunakan kaset. Sedangkan teknologi sekarang lebih praktis dengan peralatan digital, yang penyimpanannya memakai memory card. Perubahan itu menurut RIFI merupakan komitmen SS untuk selalu memperhatikan kualitas audio demi kenyamanan pendengar.

    Di jaman RIFI, reporter juga punya kewajiban menjadi gatekeeper. Jadi, mereka juga memproduksi berita-berita pendek, dan straight news yang diolah dari berita mereka sendiri. “Kadang sama dengan yang dilaporkan sebelumnya tapi barangkali dengan susunan kalimat yang berbeda,” terangnya.

    Pada awalnya, para reporter kembali ke kantor pukul 17.00 dan baru pulang pukul 23.00, karena merangkap menjadi gatekeeper. Secara berkala para reporter ada yang piket sampai malam. Ketika ada reporter yang kebagian piket, dia juga bertugas memproduk berita-berita pukul 24.00.

    Diakui RIFI, perbedaan menonjol saat dia masih menjadi reporter dengan sekarang lebih di dinamika bekerjanya, secara konsep tidak ada yang berubah. Tekanan-tekanan yang dirasakan reporter sekarang semakin tinggi dan intensitas produksi juga bertambah.

    “Tergantung teman-teman bagaimana menikmat profesi. Kalau pekerjaan itu dilakukan dengan kesadaran dan sebuah keinginan untuk memenuhi kebutuhan, itu buat aku paling memuaskan,” papar RIFI yang mengaku betah di radio karena tantangannya bisa menggoda pendengar. Artinya, ia bisa bermain-main dengan imajinasi orang-orang. Menurutnya, tantangan di radio lebih berat daripada di televisi. Misalkan, ketika membuat feature. “Kalau di tv enak tinggal gambar aja. Kalau di radio gimana dengan suara mampu membawa pikiran orang ke dalam cerita kita,” katanya.

    RIFI juga berpesan agar reporter SS tetap menjaga naluri, kepekaan, dan eksistensinya sebagai jurnalis. Kesadaran menjalankan profesinya sebagaimana memnuhi kebutuhan pendengar itu sendiri. Harus tetap dinamis untuk mengejar sesuatu yang memang dibutuhkan pendengar, tanpanya eksistensi reporter tidak akan diakui. “Jangan-jangan tanpa reporter pun gak pa-pa. Tapi jangan sampai itu terjadi,” harapnya

    Teks Foto:
    1. ADIRIFI: naluri, kepekaan dan eksistensi reporter harus tetap dijaga.
    2. Aksi ADIRIFI mengejar narasumber, sekitar tahun 1998. Masih berbekal HP model lama.
    3. ADIRIFI, Manager On-Air Giga FM, di ruangannya
    Foto: Dok. pribadi dan GITA suarasurabaya.net

    kirim berita

    SS Sejarah lain
  • 10 Juni 2013, 22:07:09
    Transformasi dan Inovasi Media : Kekuatan Radio Yang Berlipat Ganda
  • 10 Juni 2013, 21:07:54
    30 Tahun Suara Surabaya
    Satu Legenda Hidup Itu Bernama Rini Puspita
  • 10 Juni 2011, 19:33:32
    Tahun ke 28 Radio SS
    Menangkap Seberkas Cahaya
  • 30 Juni 2008, 15:33:34
    ISA ANSHORI Bicara Jazz
  • 30 Juni 2008, 11:28:01
    JOSE ASMANU, Menyuarakan SS di Jakarta
  • 30 Juni 2008, 11:10:10
    Suara Stress yang Suka Putar Jazz
  • 30 Juni 2008, 11:06:07
    ADJIE S. SOERATMAJIE
    'Alumni' SS Berbagi Ilmu
  • 30 Juni 2008, 11:03:05
    Menyingkap Masa Lalu Bersama IMAN DWIHARTANTO
  • 16 Juni 2008, 19:16:03
    Gatekeeper
    Jaga 'Gawang'nya SS
  • 16 Juni 2008, 16:31:21
    'Suara Surabaya' Bukan Mentereng Gengsi


  • copyright 2008 suarasurabaya.net, all rights reserved.
    kontak redaksi |