SS home | SS greeting | SS terima kasih | SS anugerah| SS galeri | SS momen


SS tempodoeloe
PENYIAR JAZZ TRAFIC
SS Menu
  • SS Sejarah
  • SS Khalayak
  • SS Event
  • Untung Ada SS

  • SS Jingle
  • SS - 30 Tahun
  • SSFM 100 - Country
  • SS-Anytime, Anywhere
  • SS Today
  • SSFM 100

  • SS galeri

    CANDA GUS IPUL WAGUB JATIM
    arsipSS galeri


    Kirim Ucapan HUT SS
    Selamat Ulang Tahun
    Selamat Ulang Tahun Untuk Suara Surabaya. Semoga radionya makin terkenal baik di Surabaya,sampai seluruh Indonesia. Sejahtera karyawannya & makin berwarna programnya. Terutama untuk kawula muda seperti saya yang baru berumur 18 tahun.
    Dari: Garry Raditya Putra, Surabaya
    rp.garry@yahoo.com
    Happy Anniversary Suara Surabaya!
    Selamat Ulang Tahun untuk Radio Suara Surabaya! Semoga tetap menjadi nomor satu dan menyajikan informasi yang paling update di Surabaya.
    Dari: Brigiv Aditya, Surabaya
    brigivaditya@pakuwon.com
    Ucapan Selamat ber-ULTAH yg ke - 30
    Salam SS,
    Perkenankan saya beserta kluarga di Mamuju - Sulawesi Barat mengucapkan selamat MILAD kepada SS yg ke 30..... Diusia yg sudah memasuki kepala 3, SS tentu semakin dewasa untuk selanjutnya menggapai masa kemapanan, utk itu harapan kami semoga SS semakin berinovasi dalam program, semakin kritis, semakin cerdas dan semakin dekat dihati para pendengar dan lingkungannya......... Aamiiin !!!
    Dari: Ali Usbah (Asli Lamongan), Mamuju - Sulawesi Barat
    usbaha@yahoo.co.id
    satu detik telah berlalu
    satu detik
    satu menit
    satu jam
    satu hari
    satu minggu
    satu bulan
    satu tahu tlah berlalu
    kau slalu membantu
    sukses selalu semoga SS
    Dari: imron mahmudi, malang
    imron.mahmudi@ymail.com
    SELAMAT ulang tahun ke 30
    SELAMAT ulang tahun ke 30
    buat radio SUARA
    SURABAYA. "jayalah selalu,
    untuk setia menemaniku
    dijalan"
    Dari: nurdjihat, surabaya
    -
    Dirgahayu SSFM
    Selamat Ulang Tahun ke-28
    Semoga tetap jaya di udara, dicintai Anak Bangsa dan dunia

    Harapan : untuk tetap menjadi media aspirasi, apresiasi dan inspirasi dalam pewarisan Nilai Luhur Bangsa : Kejujuran, Kepedulian dan Kependidikan / Ketauladanan

    dari :
    Direktur Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Surabaya
    Dari: Poltekkes Kemenkes Surabaya, Surabaya
    admin@poltekkesdepkes-sby.ac.id
    HBD 30th
    Selamat hari jadi SUARA SURABAYA
    Semoga selalu jaya ∂ϊ udara
    Menyajikan informasi mutahir Ɣ∂Ϟǥ selalu menjadi
    harapan dan idola masyarakat luas
    Dari: dila gute, bangil pasuruan
    gutdil.next@gmail.com
    ku kenal dikau lalu jatuh cinta
    pas banget lirik lagu Farid Harja ini dg saat pertama kali aku mendengar siaran di radio...

    sekitar tahun 85 tiap pagi diantar bapak ke sekolah, pasti nyalakan radio dan sepanjang perjalanan mendengarkan lagu2 jazz kenamaan...minim SUARA PENYIAR dan IKLAN!! suatu hal yg jarang pdmasa tersebut... hehe...sejak itulah aku jatuh cinta pada radio ini. Apalagi kemudian mengenal Kelana Kota, Memorabilia...

    psssst...bahkan bila tidak ku batalkan, aku nyaris bekerja di radio ini lho! hehe

    Met Milad :)
    Dari: Tia Restia, Surabaya
    mustikahati_new@yahoo.com
    Met ultah 31 SS
    Suara Surabaya semakin dewasa dalam pemikiran, perkataan dan perbuatan di usia 31 tahun. Ayo, kita bina kerukunan sebagai dasar keutuhan dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara satu Indonesia menapaki kehidupan masa kini menuju masa depan yang lebih baik. Insya Allah (Tuhan) memberikan barokah atas darma bakti SS media dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat Indonesia. Semoga SS menjadi yang terdepan dalam prestasi maupun pelayanan. Luar biasa, Mantaaff, Pasti Sukses!
    Dari: sunardi sutanto, surabaya
    sunardisutanto@yahoo.co.id
    Selamat. Ulang Tahun
    Selamat Ulang Tahun yg ke 31 ,semoga
    semakin jaya dan sukses selalu,Suara Surabaya
    is the Best
    Dari: Sani, Surabaya
    Signatiusrahmat@gmail.com


    SS Sejarah

    10 Juni 2011, 19:33:32

    Tahun ke 28 Radio SS
    Menangkap Seberkas Cahaya
    suarasurabaya.net| Barangsiapa mengikuti perkembangan Radio SS (Suara Surabaya), niscaya akan mengenal nama Soetojo Soekomihardjo, karena beliau salah seorang pendiri dan menjadi CEO-nya yang pertama sejak didirikan tahun 1983. Kedudukan itu sedikit demi sedikit mulai dilepaskan seiring tampilnya generasi muda, dan pada tanggal 25 Nopember 2010 beliau wafat dalam usia 74 tahun.

    Sebagai seorang CEO tugas dan tanggungjawab Soetojo Soekomihardjo tentu tidak ringan. Mengelola radio yang demikian populer serta membawa sekian banyak karyawan, pemikiran sang CEO selalu sekian langkah berada di depan. Masih cemerlang ide-ide dan gagasannya. Di usianya yang sudah mencapai lebih dari tujuhpuluh tahun beban itu harus dia pikul, sekalipun memang garis hidupnya terpanggil ke arah sana.

    Jelang peluncuran buku Suara Surabaya Bukan Radio, Jumat 30 April 2010 sang CEO ini ternyata kesehatannya terganggu. Pada saat pembawa acara memberinya kesempatan berpidato, ada jeda waktu dia menarik nafas panjang. Tetapi setelah itu, pidatonya mengalir sangat lancar. Setelah acaranya berakhir, dia masih rela melayani para hadirin yang meminta tanda tangan.

    Boleh dikatakan tahun 2010 merupakan masa dimana Soetojo Soekomihardjo bertemu kawan-kawan lamanya. Paling tidak suasana romantis penuh nostalgia itu terasa saat peluncuran buku tersebut. Undangan yang hadir berasal dari berbagai kalangan mulai dari pemuka agama, perguruan tinggi, pejabat militer-kepolisian, mahasiswa, dan tentu saja pendengar setia SS. Bahkan, tiba-tiba ada seorang tamu menghampiri Soetojo Soekomihardjo. Agak lama masing-masing menatap wajah lalu keduanya saling berpelukan, menandakan mereka pernah akrab. Tamu ini sudah hampir 40 tahun lamanya tidak bertemu. Mereka berkawan sejak lama.

    Setelah acara resmi berakhir beberapa koleganya diajak bertemu khusus di sebuah restoran yang letaknya di bawah tempat peluncuran buku. Terkadang sulit menduga-duga sang CEO ini. Ketika banyak orang “menilai” dia dalam kondisi kurang sehat, beliau malah lebih tegar dari dugaan itu.

    Pertengahan bulan Juni 2010 secara jujur Soetojo menyadari jika kondisi fisiknya tidak lagi gesit. Dia menjelaskan, sekarang waktunya banyak digunakan membaca buku. Itu (hobi membaca) sejak lama terbengkalai lantaran teramat sibuk. “Harus disadari, akhir-akhir ini saya sudah tidak selincah dulu lagi. Tapi, kita tidak boleh berhenti berbuat dan berkarya. Kalau kita berhenti berarti tidak ada lagi gunanya hidup kita”.

    Selama menyusun buku Suara Surabaya Bukan Radio, memang banyak rekaman hasil wawancara dengan beliau. Kalau dicermati lagi –rekaman itu- dia piawai mengolah diksi. Kalimat per kalimat pembicaraan mengalir. Pendapat sebagian orang cenderung menilai bahwa Soetojo Soekomihardjo seorang pendiam. Akan tetapi itu cuma kesan sementara saja, karena sesungguhnya dia terampil berkomunikasi.

    Penulis menangkap kesan, semasa hidupnya Soetojo Soekomihardjo hampir tidak pernah berangan-angan, apabila semua pemikirannya layak diabadikan menjadi sebuah buku. Dia senyum-senyum saja jika diingatkan kalau beliau ini tokoh peletak dasar pemikiran menghadapi langkah-langkah besar, sampai kemudian wujud SS terlihat seperti sekarang ini. Dia juga mengernyitkan dahi manakala disebut sutradara yang sukses menggiring dan menggerakkan banyak orang.

    Selama ini dia tidak peduli orang lain mencibir, mengkritik langkahnya yang selalu tidak mau menjadi “orang kantoran”. Sepanjang hidupnya berkarir di radio yang demikian terkenal itu, belum ada seorang pun (termasuk karyawannya) yang bisa menunjukkan kepada penulis, di mana letak ruang kerja berikut meja kursi beliau. Sebagai CEO rasanya memang tidak akan menjadi lebih besar kalau dia duduk manis layaknya “orang kantoran”, sebab tanpa atribut apa pun dia memang tokoh hebat.

    Situasi tanpa ruang kerja dan meja tulis ini pernah ditanyakan. Dengan lugas ia menjawab:
    “Sering saya agak kecewa, lantaran hampir selalu saja ada yang datang menghadapi persoalan lalu minta pendapat. Mestinya kita bertukar pikiran, atau beradu argumentasi. Ini malah minta instruksi. Salah satu kelemahan dari banyak pemimpin dewasa ini adalah kecenderungan mereka untuk menghindari membuat keputusan yang sulit.”

    Takjub

    Namun kita semua takjub, pada tanggal 25 Nopember 2010 pada saat jenazah tokoh ini dimandikan, lalu disolatkan dan kemudian disemayamkan ke tempat peristirahatan terakhir, tak terhitung berapa banyak orang-orang dengan kultur yang beragam datang memberi penghormatan terakhir.

    Lagi-lagi kita semua takjub. Pada tanggal 18 Maret 2011, seratus limabelas hari setelah wafat, Soetojo memperoleh penghargaan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur. Malam perayaan Ulang tahun PWI ke 65 dan Hari Pers Nasional (HPN) 2011, sebuah penghargaan khusus Life Time Achivement (penghargaan sepanjang masa) diberikan dengan predikat sebagai “bapak radio moderen”.

    Dalam penelitian penulis, sebuah dokumen lain membuktikan Soetojo juga terlibat aktif memberi masukan-masukan kepada Tim Penyempurnaan Kode Etik Jurnalistik (KEJ) yang dibentuk pasca Kongres PWI Pusat di Pontianak bulan Desember 1997. Hasil rumusan tim itu sebenarnya dibahas dalam lokakarya KEJ di Solo, pada tanggal 23 – 26 Maret 1998. Namun lokakarya terpaksa bubar tanggal 25 Maret karena suasana seminar sering terhenti dan berkali-kali wartawan senior Jafar Assegaf melakukan interupsi mengabarkan ada situasi genting di ibu kota. Dua bulan berselang, Mei 1998 pemerintahan Orde Baru jatuh.

    Secara pribadi Soetojo punya perhatian terhadap etika berjurnalistik bagi insan pers, baik media cetak maupun media radio dan televisi. Dia menyarankan agar dapat dipisahkan antara kode etik jurnalistik cetak-tulis dengan jurnalistik penyiaran. Mewakili PRSSNI (Persatuan Radio Siaran Swasta Niaga Indonesia) Jawa Timur, Soetojo menginginkan adanya rumusan kompetensi bagi seorang wartawan. Komunitas pers Indonesia perlu punya pedoman kompetensi, sehingga ada tolok ukur menilai profesionalisme wartawan maupun kinerja perusahaan pers secara bersama-sama untuk memperbaiki diri.

    Bagaimanapun membangun kebebasan pers bukan semata demi kepentingan komunitas pers itu sendiri, sebab ada menyangkut kepentingan masyarakat. Harus diatur lagi seberapa jauh, idealisme yang senantiasa diagung-agungkan insan pers (baca: wartawan) memberikan toleransi kepada industri media tanpa mengganggu kepentingan umum. Gagasan praktisi radio itu hari-hari ini menjadi perhatian semua pihak.

    Perayaan Ulang tahun Radio SS setiap tahun selalu meriah. Bertepatan Hari Jadi tahun ke 28 radio SS yang sekarang jatuh pada tanggal 11 Juni 2011, Soetojo Soekomihardjo tidak ada lagi bersama kita. Dia telah menghadap ke hadirat Allah yang Maha Adil dan Bijaksana sesuai dengan syari’at agama Islam yang dipeluknya dan senantiasa disembahnya setiap hari.

    Soetojo tokoh yang sering menggoyang-goyang kemapanan. Tokoh yang selalu menyetorkan inspirasi buat orang lain. Tanpa harus membebani semua pihak pun sang tokoh itu telah pergi untuk selamanya. Apakah semuanya lewat begitu saja?

    Orang-orang yang yang pernah bersamanya, terutama generasi penerus Radio SS harus menjawabnya. Mereka tentu sudah lihai menangkap seberkas cahaya yang ditinggalkan, menjadi cahaya yang tetap langgeng bersinar.(abh/ipg)

    Arifin BH,
    Penulis Buku Suara Surabaya Bukan Radio


    kirim berita

    SS Sejarah lain
  • 10 Juni 2013, 22:07:09
    Transformasi dan Inovasi Media : Kekuatan Radio Yang Berlipat Ganda
  • 10 Juni 2013, 21:07:54
    30 Tahun Suara Surabaya
    Satu Legenda Hidup Itu Bernama Rini Puspita
  • 30 Juni 2008, 15:33:34
    ISA ANSHORI Bicara Jazz
  • 30 Juni 2008, 11:28:01
    JOSE ASMANU, Menyuarakan SS di Jakarta
  • 30 Juni 2008, 11:10:10
    Suara Stress yang Suka Putar Jazz
  • 30 Juni 2008, 11:06:07
    ADJIE S. SOERATMAJIE
    'Alumni' SS Berbagi Ilmu
  • 30 Juni 2008, 11:03:05
    Menyingkap Masa Lalu Bersama IMAN DWIHARTANTO
  • 16 Juni 2008, 19:16:03
    Gatekeeper
    Jaga 'Gawang'nya SS
  • 16 Juni 2008, 16:31:21
    'Suara Surabaya' Bukan Mentereng Gengsi
  • 16 Juni 2008, 16:23:10
    YENNI dan YVONNE
    Penyiar dan Reporter Generasi Pertama


  • copyright 2008 suarasurabaya.net, all rights reserved.
    kontak redaksi |