| agendakota | |
 |
| iklananda | |
 |
 |
| suaranetter | - Brahmantyo, Dki Jakarta Assalamualikum Wr Wb.
Mohon Informasi Tentang " Perkumpulan / Paguyuban Keluarga Surabaya " Yang Di... [detil]
|
| forumdiskusi | - Topik terbaru : Poligami??udah Biasa Gitu Loh...!!!... [detil]
- Reply terbaru : Emang Sudah Ngetrend (bukan Lagi), Dan Itu Sudah ... [detil]
|
|
| |
| info teknologi | 07 Desember 2006, 16:35:47, Laporan Eddy Prasetyo
Robotic Surgery Kurangi Perdarahan Dengan Lengan Robot
ssnet| Teknologi kedokteran yang semakin maju kini membuat operasi yang dulu dirasa sulit menjadi lebih mudah. Ini juga berlaku pada bidang bedah jantung. Pengembangan teknologi robot untuk operasi (robotic surgery) yang sudah dikembangkan 6 tahun terakhir, kini bisa dinikmati warga dunia. Sayang, Indonesia tampaknya harus menunggu lama sampai teknologi ini masuk ke tanah air. Mengapa?
Prof PHILLIP SPRATT ahli robotic surgery dari St Vincents Hospital Sidney saat memberikan kuliah umum bagi mahasiswa FKU Unair di RSU dr Soetomo mengatakan teknologi robotic surgery ini mengalami perkembangan cukup pesat.
Pengembangannya diawali kesulitan para ahli bedah melakukan operasi jantung dan protastectomy (Kandung kemih-Red). Bidang operasi dan organ yang sangat kecil untuk dijangkau membuat pekerjaan ini menjadi lebih sulit. Artinya, presisi dan akurasi menjadi syarat yang tak bisa ditawar-tawar. Sedikit saja tangan bergetar atau salah menggunting, bisa terjadi pendarahan yang tidak perlu.
Dengan robotic surgery, hal-hal yang menyulitkan tadi tak lagi dirasakan para ahli bedah. Secara umum, robotic surgery terdiri atas 3-D vision yang dihubungkan dengan robotic laparoscopic untuk ‘mengintip’ bagian dalam organ yang akan dibenahi dan 3 lengan robot.
Selain tidak membutuhkan sayatan lebar, penggunaan robotic surgery ini punya beberapa kelebihan yang dirasakan pasien. Diantaranya, meminimalisasi perdarahan, rasa sakit, infeksi, dan yang paling penting adalah mempersingkat waktu rawat penyembuhan luka.
Tentang tingkat resikonya, PHILLIP menjelaskan tak terlalu berbeda dengan metode operasi konvensional. “Dari 100 pasien yang dioperasi menggunakan metode robotic surgery, rata-rata 2 pasien yang gagal. Ini sama dengan metode konvensional,” ujarnya.
Hanya saja diakuinya, operasi dengan metode ini membutuhkan waktu yang lebih panjang. Jika operasi konvensional membutuhkan waktu 2-3 jam, maka metode robotic surgery membutuhkan sekitar 5 jam. “Tergantung pada skill ahli bedahnya. Semakin trampil, semakin cepat juga waktu operasinya tergantung pada kasus yang dihadapi,” kata PHILLIP.
Sejak digunakan secara massal, operasi dengan metode robotic surgery sudah menangani 500 kasus kardiologi dan seribu lebih kasus protastectomy. Karena harganya yang mahal, diakui PHILIP, hanya sejumlah rumah sakit di beberpa negara memiliki alat ini. Ia memperkriakan ada 200 unit alat protastectomy di seluruh dunia yang sebagian besarnya berada di Amerika Serikat.
“Australia saja hanya punya 3 unit. Setahu saya, Singapura, Malaysia, dan Thailand masing-masing punya 1 unit, sedangkan India sedikitnya punya 2 unit. Memang cukup mahal. Harga 1 unitnya bisa mencapai 12 miliar sampai 15 miliar rupiah,” tukasnya menjelaskan.
Prof. Dr. PAUL TAHALELE, Sp.BJKV ahli bedah jantung RSU dr Soetomo mengakui mahalnya teknologi ini menjadi kendala pasien penyakit jantung dan prostat di Indonesia tak bisa merasakan kecanggihannya. “Mungkin jika pemerintah tertarik, bisa dialokasikan di Indoensia. Terserah mau di mana, Jakarta atau Surabaya,” ujarnya.
Ia menilai teknologi ini bagus untuk dipelajari para ahli jantung meskipun belum feasible untuk dialokasikan di Indonesia. “Lebih baik menggunakan metode konvensional sebab dana untuk membeli alat ini bisa dialokasikan untuk sektor lain yang lebih penting,” imbuh dokter yang juga Ketua Komunitas Masyarakat Maluku di Surabaya ini.
Penilaian ini dibenarkan PHILLIP. Untuk negara berkembang, ujarnya, cukup sulit untuk mengadakan alat ini dalam kurun waktu dekat. Namun ia yakin, dengan semakin majunya teknologi dan semakin massalnya produksi alat-alat kedokteran, teknologi ini semakin murah dan bisa dijangkau negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Teks Foto :
1. Operasi menggunakan teknik robotic surgery
2. Prof PHILLIP SPRATT memberikan kuliah umum di RSU dr Soetomo.
Foto : repro futurefeeder.com & EDDY suarasurabaya.net
kirim berita
| | berita-beritalain | 08 Desember 2006, 16:44:41 Laporan Gartner Pangsa Pendapatan Server Global IBM Naik 32,7% 07 Desember 2006, 13:25:35 Dell Bantu Implementasi Windows Vista 06 Desember 2006, 19:23:12 Tahun 2007 Lifetime Produk TI Makin Pendek 05 Desember 2006, 15:29:41 BiNus Center Gelar National Network Competition 2006 01 Desember 2006, 19:45:10 Warung SMS Buat Yang Berkantong Tipis 01 Desember 2006, 11:52:12 Cisco Hadirkan SAN Fabric Switch Kelas Enterprise 30 November 2006, 15:43:02 IBM Transformasikan Lanskap Layanan 29 November 2006, 18:27:51 Pameran TI Terbesar Masyarakat Menikmati Teknologi 2007 29 November 2006, 07:16:58 What Next ? Trend 3G Terbentuk, Vendor Mendukung 28 November 2006, 10:41:14 IBM Perluas Jajaran Solusi Penyimpanan
- arsip berita - |
|
|
 |
|
|
|