| agendakota | |
 |
| iklananda | |
| suaranetter | - Didik Untung Susadi, S.h., Sidoarjo By Pass Krian Rawan
Maling, Ketika Saya Makan Di Pecel Madiun Di Ruko Lapangan Sidomulyo 100 Meter U... [detil]
|
| forumdiskusi | - Topik terbaru : Pdam Oh Pdam... [detil]
- Reply terbaru : Paling Tidak
Perilaku Masyarakat Di Jalanan Yg Tid... [detil]
|
|
| resensi buku |
04 Februari 2008, 11:46:51, Laporan Birgitta Nurina Ningga Mone
MATSUMI Jadi Geisha
suarasurabaya.net| Judul Buku : Perempuan Kembang Jepun
Penulis : Lan Fang
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 284 Halaman
Walau menurut banyak orang, 98% kepala laki-laki berisi uang dan seks dan 2% sisanya -cinta dan kebersamaan- ada di kepala perempuan, novel ini bukan sekadar bercerita tentang uang dan seks. Uang memang dibutuhkan dan seks memang dinikmati, tapi dalam cinta dan kebersamaan itulah Sang Hidup meletakkan sebuah arti. (Penulis)
Sinopsis
MATSUMI mungkin tidak akan menyangka kehidupannya sebagai 'putri' geisha terhempas begitu saja sejak dia meninggalkan Jepang. Terlahir sebagai anak nelayan miskin, MATSUMI harus dijual ketika usianya 13 tahun demi kelangsungan hidup keluarganya.
MATSUMI akhirnya menjadi geisha yang sukses, cantik dan pintar. Sebagai geisha nomor satu di Kyoto, MATSUMI menjadi idaman setiap orang penting. Ketika Shosho (setingkat mayor Jendral/red) KOBAYASHI membawa MATSUMI ke Indonesia, hidup MATSUMI mulai berubah.
Pertama ia harus merubah namanya menjadi TJOA KIM HWA dan tidak boleh mengaku bahwa ia adalah orang Jepang. Sebab pekerjaan sebagai geisha hanya ada di Jepang, tidak boleh ada orang yang tahu bahwa orang Jepang juga melacurkan diri hingga ke Indonesia.
MATSUMI benci menjadi orang Cina yang menurutnya jorok. Lalu Shosho KOBAYASHI membawa MATSUMI ke Surabaya, ke Kembang Jepun. Namun Kembang Jepun bukan seperti di Kyoto dulu. Gadis-gadis geisha di sana bukan orang Jepang, kebanyakan orang Jawa yang memang melacurkan atau terpaksa menjadi pelacur.
Tidak ada gadis cantik dan pintar seperti di Kyoto dulu. Ketika Jepang masuk ke Indonesia di tahun 1942, MATSUMI pun menjadi geisha kelas satu. Tarifnya mahal dan tidak semua orang bisa menjadi pelanggannya.
Semua berubah ketika MATSUMI bertemu SUJONO kuli angkut toko kain milik Babah OEN. Demi SUJONO, MATSUMI meninggalkan kehidupan gemerlapnya sebagai geisha untuk menikah dan melahirkan anak SUJONO, KAGUYA.
Kehidupan ternyata tak berjalan sebagaimana yang diinginkan MATSUMI. SUJONO telah memiliki anak dan istri, SUJONO tidak bekerja sehingga semua kebutuhan SUJONO dan keluarganya juga harus ditanggung MATSUMI.
Ketika Jepang kalah kehidupan makin sulit untuk MATSUMI sampai ia tega meninggalkan KAGUYA dan SUJONO. MATSUMI kembali ke Jepang. Sementara SUJONO harus menghidupi KAGUYA di tengah rong-rongan istri tuanya yang selalu berlaku jahat pada KAGUYA.
Deskripsi
Dalam novel ini kita belajar bahwa kita tidak boleh menilai sesorang berdasarkan apa yang kita lihat di permukaan. Ada banyak alasan yang mendasari seseorang berbuat jahat. Seperti yang dilakukan MATSUMI ketika meninggalkan anaknya. Bukan dia yang menghendaki perpisahan itu terjadi namun keadaan kadang membuat seseorang tidak dapat memilih.
Dengan seting jaman penjajahan Jepang dan situasi Surabaya kala itu kita akan dibuat menyusuri jalan Kembang Jepun, Klenteng Boen Bio dan Jalan Slompretan yang hingga kini masih ada. Lan Fang sang penulis juga mampu membuat pembaca larut dalam emosi dengan penuturan yang sederhana dan mudah dipahami.
kirim berita
| | komentarmember (0) | - arsip komentar resensi buku ini - |
| berita-beritalain | 28 April 2010, 19:45:51 Suara Surabaya Bukan Radio 28 April 2010, 19:00:00 Kisah Radio Sukses 02 April 2010, 15:44:11 Fitur Istimewa Windows 7 27 Februari 2010, 14:42:22 Mastering CMS with Joomla! 25 Desember 2009, 16:17:22 Linux Ubuntu 9 11 Desember 2009, 19:16:34 Kreasi Desain Suvenir 13 November 2009, 15:23:09 Panduan Lengkap Internet 31 Oktober 2009, 15:53:49 Trik & Tip PowerPoint 2007 23 Oktober 2009, 17:11:37 Desain Situs Reader Friendly 09 Oktober 2009, 16:16:01 Adobe Photoshop CS4
- arsip berita -
|
|
 |
|
|
|